Welcome To Portal Komuniti :: Ukhwah.com

  Create An Account Home  ·  Topik  ·  Statistik  ·  Your Account  ·  Hantar Artikel  ·  Top 10 20-09-2020  

  Login
Nickname

Password

>> Mendaftar <<

  Mutiara Kata
Kalau hanya memikirkan "Apa kata orang..." bila pula masa nak mengenengahkan, "Apa kata saya..."

-- Hanan

  Menu Utama

  Keahlian Ukhwah.com
Terkini: abengoh
Hari Ini: 0
Semalam: 0
Jumlah Ahli: 43138

  Sedang Online
Sedang Online:
Tetamu: 55
Ahli: 0
Jumlah: 55




  Yang Masuk Ke Sini
qudwah: 6 hari yang lalu
nadiahhazirah92: 16 hari yang lalu
IbnuKhaldun: 16 hari yang lalu
eme86: 17 hari yang lalu
sunan-faqih: 22 hari yang lalu


Bincang Agama
Topik: Hukum Syara


Carian Forum

Moderator: ibnu_musa, Administrator, ABg_IMaM
Portal Komuniti :: Ukhwah.com Indeks Forum
  »» Bincang Agama
    »» Hukum Syara

Please Mendaftar To Post


Oleh Hukum Syara

wuzaraa
WARGA SETIA
Menyertai: 20.02.2008
Ahli No: 32664
Posting: 1829
Dari: Asia Tenggara

Johor  


posticon Posting pada: 15-05-10 17:32


Sekian lama umat Islam memahami bahawa hukum syara' itu pasti menyempurnakan maslahah. Tetapi dewasa ini, ada satu bentuk pemikiran yang bertolak belakang berpandangan hukum boleh berubah sekiranya ada maslahah. Maka, mereka menyesuaikan hukum, halal atau haram, sesuai dengan tuntutan maslahah. Penulisan dibawah saya kira boleh memberi pemahaman yang jernih bagi kita dalam hal ini. Selamat membaca.

--------------------------------------------------------------------------

Hukum Syara' Pasti Mengandungi Maslahah


Allah SWT berfirman dalam kitabNya:

“(Dan) tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh umat manusia” (QS Al Anbiyaa’: 107).

Maksud ayat diatas adalah bahwa Rasulullah saw telah datang dengan membawa syariat yang mengandung manslahat bagi manusia.

Begitu pula Firman Allah SWT:

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Yunus: 57).

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuham-mu sebagai petunjuk dan rahmat” (QS Al An’aam: 157).

Maksud dari “petunjuk” dan “rahmat” dalam ayat diatas adalah dengan membawa manfaat bagi manusia atau menjauhkan kemadlaratan dari dirinya. Inilah yang disebut “maslahat”. Sebab, arti dari maslahat adalah membawa kemanfaatan dan mencegah kerusakan.

Yang menentukan apakah sesuatu itu maslahat atau tidak adalah wewenang syara’ semata. Sebab, syara’ datang memang membawa masla­hati dan dialah yang menentukan/menyebutnya untuk manusia, karena yang dimaksud maslahat adalah kemaslahatan/kepentingan manusia itu sendiri sebagai makhluk. Bahkan yang dimaksud dengan maslahat bagi individu, adalah kemaslahatannya berkenaan dengan sifatnya sebagai “manusia”, bukan keberadaannya sebagai individu (pribadi).     Memang, kemaslahatan dapat ditentukan berdasarkan syara’ atau berdasarkan akal manusia. Akan tetapi, jika akal manusia dibiarkan menentukannya sendiri, maka teramat sulit bagi manusia untuk menentu­kan hakekat kemaslahatan tersebut. Sebab, akal manusia memiliki kemam­puan yang terbatas. Ia tidak mampu menetapkan apa yang menjangkau dzat dan hakekatnya selaku manusia. Oleh karena itu, akal tidak akan mampu menentukan apa yang sebenarnya maslahat bagi manusia. Bagai­mana mungkin ia dapat menetapkan, sementara ia tidak mampu mengapre­siasi dirinya sendiri?

Hanya Allah-lah yang mampu menjangkau hakekat manusia, sebab Dialah yang menciptakan manusia. Oleh karena itu, hanya Dialah yang berhak menentukan apa-apa yang menjadi maslahat dan mafsadat bagi manusia secara rinci dan pasti.

Walaupun manusia dapat menduga apakah sesuatu itu mengandung manfaat atau mafsadat untuk dirinya, tetapi ia tidak mungkin menentukan dengan pasti dan rinci. Apabila kemaslahatan tergantung pada persang­kaan manusia, maka akan mengakibatkan terjerumusnya manusia itu ke dalam kebinasaan. Sebab kadang-kala manusia menyangka sesuatu itu mengandung maslahat, tetapi ternyata tidak demikian. Berarti ia telah menetapkan bahwa sesuatu itu mafsadat untuk manusia, sedang ia menganggapnya maslahat, sehingga terjerumuslah manusia ke dalam malapeteka. Demikian pula sebaliknya, kadangkala ia menyangka bahwa sesuatu itu adalah mafsadat, kemudian terbukti hal itu sebaliknya. Disini ia telah menjauhkan kemaslahatan dari diri manusia, karena ia mengang­gapnya sebagai mafsadat, sehingga ia ditimpa kemadlaratan karena main­jauhkan maslahat dari kehidupannya.

Begitu pula kadang-kadang hari ini akal manusia memandang atau memutuskan sesuatu itu maslahat, kemudian esok harinya menyatakan sebagai mafsadat. Atau sebaliknya, sekarang sesuatu dinyatakan sebagai mafsadat, esok harinya ia menyatakan sebagai maslahat. Berarti ia telah menetapkan bagi sesuatu itu mengandung maslahat sekaligus mafsadat. Hal ini tidak boleh dan tidak mungkin ada. Sebab segala sesuatu pada suatu kondisi hanya mempunyai satu kemungkinan, yaitu berupa mafsadat atau maslahat. Tidak mungkin keduanya berpadu dalam satu kondisi. Jika tidak, berarti maslahat yang ditentukannya bukan maslahat yang hakiki, tetapi maslahat sekedar dugaan (nisbi).

Dengan demikian maka wajib tidak membiarkan akal untuk menentukan apa sebenarnya yang dimaksud dengan maslahat, sebab yang berhak menentukannya adalah syara’. Syara’lah yang menentukan mana maslahat dan mana mafsadat yang sebenarnya (hakiki). Akal hanyalah memahami suatu kenyataan (kejadian) sebagaimana adanya (tanpa ditam­bah-tambah). Kemudian akal memahami pula nash-nash syar’iy yang ber­kaitan dengan kenyataan tersebut, lalu nash-nash itu diterapkan terhadap kenyataan. Jika telah diterapkan dan sesuai dengan pembahasan, maka dikatakan atau mafsadat berdasarkan nash-nash syar’iy. Apabila tidak sesuai dengan kenyataan tersebut, maka dicari nash yang mempunyai makna yang sesuai dengan kenyataan tersebut, agar ia mengetahui masla­hati yang telah ditetapkan oleh syara’, dengan memahami hukum Allah dalam masalah itu.

Jadi maslahat harus didasarkan pada syara’ , bukan pada akal. Ia senantiasa menyertai syara’. Dimana ada syara’, pasti ada maslahat. Sebab syara’lah yang menentukan kemaslahatan bagi mansusia selaku hamba Allah SWT.

Bookmark and Share

    


  Member Information For wuzaraaProfil   Hantar PM kepada wuzaraa   Quote dan BalasQuote

Nur_Espace
Warga 1 Bintang
Menyertai: 29.03.2010
Ahli No: 39588
Posting: 27
Dari: Tanah Rata

france   avatar


posticon Posting pada: 15-05-10 18:19


Assalamualaikum wbt,

Manusia, apabila dibiarkan memikirkan sendiri mana hasan mana qabih, maka pasti penalarannya sangat-sangat naif.
Manusia, apabila dibiarkan memikirkan sendiri mana maslahah mana mafsadat, maka rosaklah syariat.
Membaca dan membaca, belajar dan terus belajar, semakin hari semakin banyak diri ini bertemu dengan pembajak agama atas nama maslahah. Kembalilah kepada makna maslahah dan mafsadat yang hakiki seperti yang ditunjuk syara'. Semoga Allah memaafi kesilapan dan kejahilan diri ini.

Wallahua'lam.

Bookmark and Share

    


  Member Information For Nur_EspaceProfil   Hantar PM kepada Nur_Espace   Quote dan BalasQuote

wuzaraa
WARGA SETIA
Menyertai: 20.02.2008
Ahli No: 32664
Posting: 1829
Dari: Asia Tenggara

Johor  


posticon Posting pada: 15-05-10 19:49


Jika akal dijadikan sandaran maslahah,

maka lesen judi boleh dikeluarkan kononnya untuk mengelak penipuan,
riba' boleh dibenarkan agar umat Islam tidak kesusahan,
cukai dihalalkan sebagai pendapatan negara,
melaksanakan hukum kufur dimaafkan asalkan ada niat buat perubahan,
jihad diabaikan agar kurang kebinasaan,
berbohong dibolehkan asalkan orang kafir tertarik kepada Islam,
senang kata...
1001 yang haram boleh dihalalkan, yang halal boleh diharamkan.

Bookmark and Share

    


  Member Information For wuzaraaProfil   Hantar PM kepada wuzaraa   Quote dan BalasQuote

Member Messages

Forum Search & Navigation

 

Log in to check your private messages

Silakan Login atau Mendaftar





  


 

[ Carian Advance ]

Jum ke Forum 




Datacenter Solution oleh Fivio.com Backbone oleh JARING Bukan Status MSCMyPHPNuke Portal System

Disclaimer: Posting dan komen di dalam Portal Komuniti Ukhwah.com ini adalah menjadi hak milik ahli
yang menghantar. Ia tidak menggambarkan keseluruhan Portal Komuniti Ukhwah.com.
Pihak pengurusan tidak bertanggung jawab atas segala perkara berbangkit
dari sebarang posting, interaksi dan komunikasi dari Portal Komuniti Ukhwah.com.


Disclaimer: Portal Komuniti Ukhwah.com tidak menyebelahi atau mewakili mana-mana parti politik
atau sebarang pertubuhan lain. Posting berkaitan politik dan sebarang pertubuhan di dalam laman web ini adalah menjadi
hak milik individu yang menghantar posting. Ia sama-sekali tidak ada
kena-mengena, pembabitan dan gambaran sebenar pihak pengurusan Portal Komuniti Ukhwah.com

Portal Ukhwah
Hakcipta 2003 oleh Ukhwah.com
Tarikh Mula: 14 Mei 2003, 12 Rabi'ul Awal 1424H (Maulidur Rasul)
Made in: Pencala Height, Bandar Sunway dan Damansara Height
Dibina oleh Team Walasri




Loading: 0.106254 saat. Lajunya....