Welcome To Portal Komuniti :: Ukhwah.com

  Create An Account Home  ·  Topik  ·  Statistik  ·  Your Account  ·  Hantar Artikel  ·  Top 10 13-08-2020  

  Login
Nickname

Password

>> Mendaftar <<

  Mutiara Kata
Tidak hidup dek puji; tidak mati dek keji
-- SMNA (Warga Ukhwah.com)

  Menu Utama

  Keahlian Ukhwah.com
Terkini: wyd1014
Hari Ini: 0
Semalam: 0
Jumlah Ahli: 43135

  Sedang Online
Sedang Online:
Tetamu: 59
Ahli: 0
Jumlah: 59




  Yang Masuk Ke Sini
wyd1014: 1 hari, 19 jam, 33 minit yang lalu
lidah-penghunus: 5 hari yang lalu
muslimiman: 20 hari yang lalu
IbnuKhaldun: 21 hari yang lalu
nur_tinta: 27 hari yang lalu


Bincang Agama
Topik: DEMOKRASI: SISTEM YANG PENUH DENGAN KEBOHONGAN


Carian Forum

Moderator: ibnu_musa, Administrator, ABg_IMaM
Portal Komuniti :: Ukhwah.com Indeks Forum
  »» Bincang Agama
    »» DEMOKRASI: SISTEM YANG PENUH DENGAN KEBOHONGAN

Please Mendaftar To Post


Oleh DEMOKRASI: SISTEM YANG PENUH DENGAN KEBOHONGAN

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 28-10-06 18:40


DEMOKRASI: SISTEM YANG PENUH DENGAN KEBOHONGAN





Istilah "demokrasi" saat ini tidak dapat dilepaskan dari wacana
politik apapun, baik dalam konteks mendukung, setengah mendukung,
atau menentang. Mulai dari skala kedai pinggir jalan sampai hotel
berbintang lima, demokrasi menjadi obyek yang paling sering
dibicarakan, paling tidak di negeri ini.

Apa yang sering disebut dengan sistem demokrasi, dengan segala nilai-
nilai yang dianggap baik oleh pengikutnya, tentunya sangat penting
dikritisi; baik dalam tataran konsep maupun realita praktiknya dalam
sistem pemerintahan. Dari sana diharapkan muncul kesadaran baru bagi
kaum muslim tentang kebobrokan sistem kufur ini. Lebih penting lagi,
mereka terhindar dari murka Allah Swt. Sebab, saat mereka berpegang
dengan demokrasi yang intinya kedaulatan di tangan rakyat, mereka
telah menjadikan tuhan baru sebagai tandingan bagi Allah, yakni suara
yang mengatasnamakan rakyat.

Dengan logika antitesis, lawan kata demokrasi adalah totaliter. Jika
tidak demokratis, pasti totaliter. Totaliter sendiri memiliki kesan
buruk, kejam, bengis, sehingga negara-negara komunis sekalipun tidak
ketinggalan ikut memakai istilah demokrasi, walaupun dinamai
sebagai "Demokrasi Sosialis" atau "Demokrasi Kerakyatan".

Demokrasi: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat

Pengkritik demokrasi seperti Gatano Mosca, Clfrede Pareto cenderung
melihat demokrasi sebagai topeng ideologis yang melindungi tirani
minoriti atas mayoriti. Dalam praktiknya, yang berkuasa adalah
sekelompok kecil atas kelompok besar yang lain. Seperti di negeri
seberang (Indonesia), mayoriti kaum Muslim Indonesia berada dalam
posisi yang kurang menguntungkan. Indonesia lebih didominasi oleh
kelompok minoriti, terutama dalam hal kekuasaan (power) dan pemilikan
modal (kapital). Dalam sistem kapitalis, kekuatan pemilik modal
menjadi faktor yang sangat penting dalam pengambilan keputusan, bukan
rakyat keseluruhan. Merekalah yang banyak mempengaruhi pengambilan
keputusan di parlemen atau pemerintahan.

Klaim demokrasi yang lain, pemerintahan yang terpilih adalah
pemerintahan rakyat. Anggapan ini sangat jelas kekeliruannya. Pada
praktiknya, tidak mungkin seluruh rakyat memerintah. Tetap saja yang
menjalankan pemerintahan adalah elit penguasa yang berasal dari
pemilik modal besar atau pengendali kekuatan militer.

Demokrasi dan Kebebasan

Bagi para pendukung demokrasi, kebebasan berpendapat dianggap sebagai
salah satu nilai unggul dan luhur dari demokrasi. Kenyataannya
tidaklah seperti itu. Tetap saja, dalam negara demokrasi, kebebasan
berpendapat dibatasi oleh demokrasi itu sendiri. Artinya, pendapat
yang dianggap bertentangan dangan nilai-nilai demokrasi atau akan
menghancurkan demokrasi tetap saja dilarang. Organisasi atau partai
politik yang dibebaskan adalah juga yang sejalan dengan demokrasi.
Kalau tidak, mereka tetap saja dilarang.

Demokrasi dan Kesejahteraan

Banyak penganut sekularisme memandang bahwa demokrasi akan membawa
kesejahteraan bagi dunia. Hal ini sering dipropagandakan oleh negara-
negara Barat kepada dunia ketiga supaya mereka mahu dan setia
menerapkan sistem demokrasi. Namun, apa kenyataannya? Sistem
demokrasi yang dipraktikkan oleh negara-negara kapitalis hanyalah
memakmurkan dunia Barat saja atau negara-negara boneka barat yang
menjadi agen kapitalisme Barat seperti Jepang dan Singapura.
Sebaliknya, dunia ketiga tetap saja menderita. Lihat saja, saat dunia
dipimpin dan dikendalikan oleh negara-negara kapitalis penjajah,
dunia ketiga semakin tidak sejahtera. Badan pangan dunia (FAO), dalam
World Food Summit pada 2002, menyatakan bahwa 817 juta penduduk dunia
terancam kelaparan, dan setiap 2 detik satu orang meninggal dunia
akibat kelaparan. Kesejahteraan yang dialami negara-negara Barat
sebetulnya bukan karena faktor demokrasinya, tetapi karena
eksploitasi mereka terhadap dunia lain.

Demokrasi dan Stabiliti

Mitos lain adalah demokrasi akan menciptakan stabilitas. Dalam banyak
kasus, yang terjadi justru sebaliknya. Secara konseptual, hubungan
konflik dan demokrasi bisa dirujuk pada ide utama demokrasi, yakni
kebebasan atau kemerdekaan. Ketika pintu demokrasi dibuka, banyak
pihak kemudian menuntut kebebasan dan kemerdekaan; biasanya atasa
nama bangsa, suku, kelompok. Muncullah konflik hantar pihak yang
bersinggungan kepentingan atas nama bangsa, suku atau kelompoknya.
Contoh nyata dalam hal ini adalah Indonesia. Masa reformasi ditandai
dengan meningkatnya konflik di beberapa tempat. Seperti Timor Leste
(yang kemudian lepas), Aceh, Maluku dan Papua, selatan Thailand

Demokrasi dan Kemajuan

Pidato Bush yang menyatakan bahwa tanpa demokrasi Timur Tengah akan
menjadi stagnan (jumud)-seakan-akan kemajuan ditentukan oleh apakah
negara itu menganut sistem demokrasi atau tidak-patut dikritisi.
Argumentasi yang sering dilontarkan, demokrasi menjamin kebebasan,
sementara kebebasan adalah syarat bagi kemajuan. Dengan kata lain,
reason (akal) bisa produktif karena adanya kebebasan, baik kebebasan
berpikir maupun kebebasan berbicara, dan keduanya itu hanya ada pada
sistem demokrasi. Karena itu, demokrasi harus diperjuangkan. Benarkah
ini semua? Tentu saja tidak sesederhana itu. Rusia pada masa kejayaan
komunisme meraih kemajuan di bidang sains dan teknologi. Mereka mampu
menciptakan teknologi canggih hingga teknologi ke ruang angkasa.
Padahal komunisme sering diklaim memberangus kebebasan.

Jadi, persoalannya bukanlah masalah kebebasan atau tidak, tetapi
apakah masyarakat itu memiliki kebiasan berfikir produktif atau
tidak. Berfikir produktif sendiri merupakan hasil dari kebangkitan
berfikir yang didasarkan pada ideologi tertentu. Sebab karakter dasar
dari ideologi adalah senantiasa ingin memecahkan persoalan manusia
secara menyeluruh, sekaligus mempertahankan dan menyebarkan
ideologinya.

Demokrasi: Alat Penjajahan Barat

Propaganda demokrasi di negeri-negeri Islam pada dasarnya tidak bisa
dilepaskan dari kepentingan negara-negara kapitalis penjajah. Sebab,
tujuan dari politik luar negeri dari negeri-negeri kapitalis itu
mamang menyebarkan ideologi kapitalisme mereka, dengan demokrasi
sebagai derivatnya.

Demokrasi digunakan untuk menjauhkan kaum Muslim dari sistem Islam
yang bersumber dari Allah Swt. Sebab, demokrasi menyerahkan
kedaulatan ke tangan manusia (rakyat). Sementara dalam Islam
kedaulatan ada di Tangan Allah Swt. Untuk menyebarkan demokrasi itu,
negara-negara kapitalis melakukan berbagai penipuan dan kebohongan,
ide demokrasi pun dikemas sedemikian rupa sehingga tampak bagus dan
memberikan harapan kepada kaum Muslim. Demokrasi tidak pernah dan
tidak akan terwujud dalam aspek kehidupan praktis. Demokrasi hanyalah
alat penekan dan dominasi Amerika (termasuk Barat) kepada negeri-
negeri Islam untuk tunduk pada kepentingan mereka. Wallahu a'lam.

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

al_khair
Warga 4 Bintang
Menyertai: 22.07.2005
Ahli No: 17478
Posting: 247
Dari: Bumi Allah

singapore  


posticon Posting pada: 28-10-06 19:02


Hasil Sistem Demokrasi





Apalah yang hendak dibanggakan dengan sistem demokrasi

makin ke hujung

semakin membawa kecelakaan



Hasil demokrasi

tidak dapat melahirkan

pemimpin yang adil dan jujur

kepada bangsa dan negara

apatah lagi kepada agama



Tidak kira berlaku di negara mana

dan oleh apa bangsa



Hasil demokrasi masyarakat berpecah-belah,

negara porak-peranda, ekonomi binasa



Ramai pemimpin yang menang secara kotor,

paling tidak menjadi tanda tanya



Bagi yang berjaya undi boleh dibeli,

Rasuah/korupsi boleh dibagi,

untuk menang ada janji-janjinya



Musim pilihanraya/ pemilu

sesetengah orang seolah-olah mendapat

durian runtuh



Kepada rakyat yang tidak bertanggungjawab,

pemimpin yang kotor memberi sogokan dan suapan



Rakyat diperjudikan,

rakyat dipermainkan,

rakyat jadi buah catur



oleh tangan-tangan yang khianat



Rakyat umum menunggu pembela

dari satu pilihanraya ke satu pilihanraya



namun tidak kunjung tiba



Harapan demi harapan

namun tidak menjadi kenyataan



Di setengah negara

kerana tidak puas hati hasil demokrasi

rakyat berdemonstrasi



Kerana adanya politik wang,

ada penipuan di dalam undian



Rakyat tidak puas hati,

bercakap-cakap serata negara



Namun pemimpin tidak terasa malu juga





Apa perlu malu?
yang penting aku sudah menang,

aku sudah berjaya dan ada kuasa!



Yang tidak ada duit tapi mahu berjaya

mencerca dan mengata,

menfitnah dan menghina



Tuduh-menuduh satu sama lain,

hilang kasih sayang,

hilang perpaduan di dalam negara



Di dalam demokrasi terpaksalah ada kroni,

ada klik-klik, ada team dan kem/camp



Ada orang aku,

ada orang dia,

ada orang mereka

setengah musuh jadi kawan,

kawan jadi musuh



Kawan tidak setia mudah dapat

kawan mudah hilang kawan



Penyakit demokrasi ini berlaku di dalam negara,

berlaku di dalam parti seolah-olah

sudah menjadi budaya



Di dalam demokrasi

payah mencari kejujuran,

payah mencari kawan setia,

payah kata dikota



Di dalam demokrasi

khianat-mengkhianat i,

jatuh-menjatuhkan perkara biasa



Bahkan di setengah negara

bunuh-membunuh pun terjadi juga



Kemudian pemimpin-pemimpin demokrasi itulah juga yang berslogan:

mari bersatu,

mari maju,

mari bekerjasama



Bila rakyat tidak bersatu,

bertindak balas terang-terangan

atau senyap-senyap

kerana pemimpin2 ini



Mereka lantas menuduh-nuduh setengah rakyatnya



Sebenarnya mereka lempar batu

sembunyi tangan



Padahal rakyat rosak kerana mereka!



Bukannya rakyat buta mata,

bukannya rakyat bodoh semuanya



Tapi rakyat tidak mampu bertindak

kerana mereka sudah dilemahkan



oleh pemimpin-pemimpin mereka yang buta hati

yang celik mata

Bookmark and Share

    


  Member Information For al_khairProfil   Hantar PM kepada al_khair   Pergi ke al_khair's Website   Quote dan BalasQuote

pharmaton
Warga 3 Bintang
Menyertai: 28.12.2005
Ahli No: 21480
Posting: 118
Dari: Kuantan

Pahang  


posticon Posting pada: 29-10-06 03:46


negara Islam hadhari malaysia sekarang ini mengamalkan system democracy.

sesiapa kat sini boleh bagi idea bagaimana nak buat bagi mengantikan system democracy sekarang ini kat malaysia????

boleh bagi idea system apa yang patut diamalkan di malaysia bagi mengantikan democracy??

tindakan apa yang patut dibuat bagi mengantikan democracy di malaysia sekarang ini??

pendekatan apa yang lebih sesuai di malaysia bagi mereplace democracy??

Bookmark and Share

    


  Member Information For pharmatonProfil   Hantar PM kepada pharmaton   Quote dan BalasQuote

alKhattab
Warga 5 Bintang
Menyertai: 02.01.2005
Ahli No: 13471
Posting: 374

Kedah   avatar


posticon Posting pada: 29-10-06 07:01


sistem islam..

yakni daulah khilafah islamiyah..

Bookmark and Share

    


  Member Information For alKhattabProfil   Hantar PM kepada alKhattab   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 29-10-06 16:15


Pada 29-10-06 03:46 , pharmaton posting:

!!! QUOTE !!!

negara Islam hadhari malaysia sekarang ini mengamalkan system democracy.

sesiapa kat sini boleh bagi idea bagaimana nak buat bagi mengantikan system democracy sekarang ini kat malaysia????

boleh bagi idea system apa yang patut diamalkan di malaysia bagi mengantikan democracy??

tindakan apa yang patut dibuat bagi mengantikan democracy di malaysia sekarang ini??

pendekatan apa yang lebih sesuai di malaysia bagi mereplace democracy??



Assalamualaikum,

Saudara/saudari pharmaton boleh refer my posting in http://ukhwah.com/viewtopic.php?topic=27228&forum=11 yang bertajuk:-


MENUBUHKAN NEGARA ISLAM MENGIKUT THARIQAH RASUL SAW

.::Antara Metod Akal dan Wahyu::.

Posting pada: 29-10-06 15:57


dan juga :-

Posting pada: 29-10-06 16:06

..::WARISAN RASULULLAH SAW::..
Menegakkan Semula Daulah Khilafah

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

Abu_Ruqayyah
WARGA SETIA
Menyertai: 15.03.2006
Ahli No: 23449
Posting: 590
Dari: Manchester

Selangor  


posticon Posting pada: 29-10-06 21:54


Kalau PAS menang, adakah ia mampu melaksanakan sistem Khilafah?

Bookmark and Share

    


  Member Information For Abu_RuqayyahProfil   Hantar PM kepada Abu_Ruqayyah   Pergi ke Abu_Ruqayyah's Website   Quote dan BalasQuote

simpLe_sHida

Menyertai: 13.10.2003
Ahli No: 4313
Posting: 2504
Dari: greenland....

egypt   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 01:00


aiwah..
banyak sungguh posting min portal_ukhwah..
al awal.. ahlan wasshlan ila portal ukhwah.com

erm.. boleh ana tau.. dari mana info yang enti/anta dapat??
kalau dari laman web.. mohon link web nyaa...
kalau dari buku.. nyatakan sumbernye..

mohon postingkan dalam semua topik yang anda telah buka ye..
ala kulihal.. syukran atas info yang telah dipostingkan..

moga.. semua perbincangan tidak ada perbalahan..
tidak perlu juga membangkitkan ISU POLITIK yang melampau..
moga dapat faham maksud ana...


wallahua'lam.. :roll: :roll: :roll:


-----------------

::prAy hArd+wOrk sMarT::
bAraKalLahu Lakum..
[ Telah diedit oleh: simpLe_sHida pada 30-10-06 01:02 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For simpLe_sHidaProfil   Hantar PM kepada simpLe_sHida   Pergi ke simpLe_sHida's Website   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 13:07


Pada 30-10-06 01:00 , simpLe_sHida posting:

!!! QUOTE !!!

aiwah..
banyak sungguh posting min portal_ukhwah..
al awal.. ahlan wasshlan ila portal ukhwah.com

erm.. boleh ana tau.. dari mana info yang enti/anta dapat??
kalau dari laman web.. mohon link web nyaa...
kalau dari buku.. nyatakan sumbernye..

mohon postingkan dalam semua topik yang anda telah buka ye..
ala kulihal.. syukran atas info yang telah dipostingkan..

moga.. semua perbincangan tidak ada perbalahan..
tidak perlu juga membangkitkan ISU POLITIK yang melampau..
moga dapat faham maksud ana...


wallahua'lam.. :roll: :roll: :roll:




Assalamualaikum

Untuk pengetahuan saudara/saudari,di sini saya paparkan beberapa website untuk dirujuk bagi merungkai segala fitnah dan tuduhan terhadap segelintir pihak yang menyebarkan fitnah terhadap gerakan Hizbut Tahrir.

http://hizb-ut-tahrir.org

http://hizb-ut-tahrir.info

http://khilafah.com

http://khilafah.net

http://mykhilafah.com

http://islamsyumul.blogspot.com

http://islamkaffah.blogspot.com

http://freewebs.com/islamkaffah



http://www.hizb-ut-tahrir.org/

http://www.hizb-ut-tahrir.info/



http://www.hizbut-tahrir.or.id/

http://www.hizb.org.uk/

http://www.khilafah.com/

http://www.khilafah.net/

http://www.khilafah.budak/

http://www.khilafat.org/

http://www.kalifaat.org/

http://www.kalifat.org/

http://www.hilafet.com/

http://www.mykhilafah.com/

http://www.al-aqsa.org/

http://www.al-nahda.org/

http://www.risala.org/

http://www.expliciet.nl/

http://www.muslimuzbekistan.net/

http://www.muslimrulers.com/

http://www.islamdevleti.org/

http://www.islam-in-poland.org/

http://www.turkiye-vilayeti.org/

http://albadil.edaama.org/

Insya-Allah,dengan paparan website di atas,mudahan-mudahan sahabat dan sahabiah di ukhwah.com dapat mencari kebenaran yang sebenar tentang perjuangan Hizbut Tahrir.Alhamdulillah,dalam penelitian saya terhadap beberapa kitab Hizbut Tahrir,sedikit pun tidak bercanggah dengan syara'.Contohnya,kitab Nizham Islam,Nizham Ijtima'ie,Syakhsiah Islamiyah dan berbagai lagi.Mungkin saudara/saudari boleh rujuk juga kitab-kitab tersebut dalam website mereka http://hizb-ut-tahrir.org/index.php/AR/books Begitu juga saudara/saudari boleh download kitab Demokrasi Sistem Kufur dalam Bahasa Arab yang bertajuk "Ad-Dimuqhratiyyah Nizham Kufr Yahrum Akhzuha Au Tathbiquha Au Ad-Da'watu Ilaiha."Di situlah penjelasan sebenar mengenai Demokrasi dari akar ke umbinya yang bercanggah dengan syariat Allah swt.Kalau tak silap saya buku tersebut setebal 22 muka surat. http://www.hizb-ut-tahrir.org/index.php/AR/bshow/85

Untuk mengetahui lebih dekat mengenai Hizbut Tahrir bolehlah saudara/saudari layari website ini http://www.hizb-ut-tahrir.org/index.php/AR/bshow/84

Tapi yang menyedihkan,ada segelintir pihak kurang berpuas-hati dengan perjuangan mereka sanggup mengambil artikel-artikel yang berbaur fitnah dan tohmahan keji terhadap gerakan tersebut tanpa merujuk kepada kitab-kitab yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir sendiri dan disebarkan ke dalam forum ini.

Apapun,dalam website-website yang tertera di atas terdapat kitab-kitab keluaran Hizbut Tahrir dalam bahasa arab,dipersilakan lah untuk membaca dan mengkaji serta memahaminya agar tidak menimbulkan fitnah lagi.

~sekian~

    

:-) :-) :-) :-) :-) :-) :-) :-)
[ Telah diedit oleh: portal_ukhwah pada 30-10-06 13:12 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

shayuki

Menyertai: 05.12.2003
Ahli No: 5507
Posting: 164
Dari: Hira Shayuki

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 14:17


Assalamualaikum,

Boleh tahan juga lah.
Tapi kalau baca Fatwa yang dikeluarkan oleh Mohamed El-Moctar El-Shinqiti


Dia cakap macam ini :

==========================================



Wa`alaykum as-salamu wa rahmatullahi wa barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.

Dear brother in Islam, thank you for your question, which reflects your desire to have a clear view of the teachings of Islam. Allah commands Muslims to refer to scholars to become well acquainted with the teachings of Islam in aspects of life.

Muslims believe that pluralism and political freedom are intrinsic parts of Islamic teachings. It is worth stressing here that we accept the articles and principles of democracy that agree with the teachings of Islam and reject those principles that are un-Islamic.

In his response to your question, Sheikh Muhammad Al-Mukhtar Ash-Shinqiti, director of the Islamic Center of South Plains in Lubbock, Texas, states the following:

    Democracy consists of a set of values and procedures. One of most the important values of democracy is people's right to choose their leader and not to be ruled by force or tyranny. This is also an Islamic value, which we call shura or mutual consultation.

    Another important value is checks and balances by which powers are distributed and separated in a way that achieves independence of each power and the ability to check and correct each other. In Qur'anic terminology, this is called al-mudafa`ah, which is a very important Islamic concept that protects the society against corruption. Almighty Allah says, (Al-Baqarah 2:251).

    As for the procedures of democracy, such as elections, voting, campaigning, et cetera, these are means for achieving principles. In this sense, democracy is also an Islamic principle. This does not mean that each democratic country is Islamic, but it does mean that each Islamic country should be democratic.

    As for non-Muslim countries applying democracy, they are still non-Muslim. In one way, they adopt an Islamic political system, but they also lack other aspects of Islam such as belief, manners, and social conduct.

=============================================




Dan Yusuf Al-Qaradawi pun cakap :

===========================================

Wa `alaykum As-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.

Dear brother in Islam, we would like to thank you for the great confidence you place in us, and we implore Allah Almighty to help us serve His cause and render our work for His Sake.

In response to the question you raised, we'di like to cerita the following comprehensive fatwa issued by the eminent Muslim scholar, Sheikh Yusuf Al-Qaradawi; it reads:

"Islam wants this nation to consult with each other, and stand as a united body, so no enemy can penetrate it. This is not what democracy is for. Democracy is a system that can’t solve all societal problems. Democracy itself also can make whatever it wants as lawful, or prohibit anything it does not like. In comparison, the Shari`ah as a political system has limits. If we are to adopt democracy, we should adopt its best features. These are the issues of methods, guarantees, and manners of a democratic society. As a Muslim society we should adopt it in an Islamic context of a society that seeks to live with its Shari`ah laws. Our society should abide by what have been made lawful by Allah and also what have been made unlawful by Him. In comparison democracy with a slim majority can cancel all laws and rules. It can even eliminate itself with this type of margin. In fact, in some case democracy may become worse than dictatorship. What I am for is a genuine type of democracy, for a society driven by the laws of Shari`ah that is compatible with the values of freedom, human rights, justice, and equity.

I am against this type of distorted democracy that is adopted by many regimes in the Arab-Islamic world. I am really troubled by the four digit results of elections. Most rulers in the Arab world, as well as in the Islamic world are elected by 99.99% of the people. What kind of democracy is this? The people can never consent to anything with this margin. Furthermore, I want draw the attention to the issue of the spread of deviance in the democratic societies. We should take the “good”, and abandon the “bad”. For instance, many democratic countries have allowed types of sexual deviance to spread, and even legalized such behavior. Gays and Lesbians now can marry each other legally.

Our democracy is different. It is well connected to the laws of Shari`ah. Yes we adopt some of the principles of democracy, but it is incumbent upon us also to uphold our principles. We have pillars of our Shari`ah that we have to abide by. We want the people to be consulted and participate actively in politics as well as in the process of decision-making.

Shura has always been good for the Muslim society, and autocracy has always been evil since the beginning of mankind on this planet. History has told us about dictators such as pharaohs, the Nimord, and many, many examples. The Qur'an tells us about the story of Prophet Ibrahim (peace be upon him) and the Nimrod, the dictator who disputed the existence of Allah, and declared himself as a God. The Qur'an says: “Hast thou not turned thy vision to one who disputed with Abraham about his Lord, because Allah had granted him power? Abraham said: “my Lord is he who giveth life and death.” He said: “I give life and death.” Said Abraham: “but it is Allah that causeth the sun to rise from the East: do thou then cause him to rise from the West? Thus was he confounded who (in arrogance) rejected faith? Nor doth Allah give guidance to a people unjust.” (Al-Baqarah: 258) This dictator was so arrogant. To challenge the will of Allah, he asked two people who were passing by during his argument with Abraham to come to him. He ordered one of them to be executed on the spot, and told the other I pardoned you. He said to Abraham “see I gave one life, and I ordered one to death.” However, Abraham was smarter than the dictator and asked him, if he is really a God can he make the Sun rise from the West.

The same story repeats itself with the dictator of Egypt, the Pharaoh who declared himself as a God and refused to accept the message sent to him. Throughout history dictatorships, despotic regimes, and unjust regimes have been associated with the issue of corrupting earth. The Qur'an says, “(All) these transgressed beyond bounds in the lands, and heaped therein mischief (on mischief).” (Al-Fajr: 11-12) Allah also says about the Pharaohs of Egypt: “…and remember, we delivered you from the people of pharaoh: they set hard tasks and punishments, slaughtered your sons and let your womenfolk live; therein was tremendous trial from your lord.” (Al-Baqarah: 50) Islam has stood fast against these types of rulers and made it mandatory on the people to resist tyranny and injustices.

To conclude, Islam is not anti-democracy. What we want is a free society that lives within the rules and laws of the Shari`ah which is very compatible with the values of democracy, freedom, human rights, justice, development, and prosperity."

========================================

Kesimpulan,
Islam tak larang pun democracy ni. Cuma democracy ni kena berlandaskan syariah.

Bookmark and Share

    


  Member Information For shayukiProfil   Hantar PM kepada shayuki   Pergi ke shayuki's Website   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 14:49


Pada 30-10-06 14:17 , shayuki posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum,



Kesimpulan,
Islam tak larang pun democracy ni. Cuma democracy ni kena berlandaskan syariah.



Assalamualaikum

Pemahaman Seputar Perubahan Yang Mesti Diubah


Tatkala pemahaman kaum muslim terhadap Islam mengalami kemunduran, dan hampir-hampir berada pada titik nadir, muncullah gagasan-gagasan ganjil yang diklaim berasal dari ajaran Islam. Padahal, gagasan-gagasan itu telah menyimpang jauh dan tidak memiliki akar dalam syariat dan ‘aqidah Islam. Diantara gagasan-gagasan itu adalah:

1. Perubahan harus dilakukan secara bertahap.

2. Perubahan harus dimulai dari mengubah negeri-negeri muslim, kemudian semuanya bergabung membentuk Khilafah Islamiyyah.

3. Perubahan harus dimulai dari perubahan individu, keluarga, baru masyarakat.

4. Perubahan harus dimulai dari perubahan akhlaq dan penjernihan hati (qalbun salim).

Kami terpanggil untuk menjelaskan dan menyingkap kekeliruan gagasan-gagasan tersebut, demi obyektivitas, kemurnian ajaran Islam, serta keselamatan dan masa depan umat.

1. Perubahan Harus Dilakukan Secara Bertahap?

Sebelum membahas tentang tadarruj, kita mesti mendefinisikan terlebih dahulu apa itu tadarruj. Ada beberapa pemahaman mengenai tadarruj (bertahap).

Pertama, tadarruj sering diartikan dengan menerapkan syariat Islam secara bertahap, atau melalui tahapan-tahapan. Dengan kata lain, tadarruj adalah menerapkan atau mengakui hukum kufur yang dianggap dekat dengan syariat Islam sebagai tahapan untuk menerapkan syariat Islam secara sempurna. Contoh dari tadarruj model ini adalah partai-partai Islam yang mengikuti pesta demokrasi untuk meraih jabatan presiden, sebelum mengangkat seorang Khalifah. Presiden adalah kepala negara dalam sistem pemerintahan kufur demokratik. Presiden dianggap sebagai sebuah tahapan untuk menuju pembai’atan seorang Khalifah. Contoh lain adalah partai-partai Islam yang melibatkan diri dengan parlemen kufur untuk mengubah sedikit demi sedikit hukum negara dengan hukum Islam; atau mencalonkan orang-orang kafir sebagai wakil umat sebagai tahapan untuk mendakwahi mereka. Mereka menganggap parlemen kufur sebagai wasilah untuk melakukan perubahan sistem, meskipun mereka juga memahami bahwa parlemen demokratik bertentangan dengan Islam secara diametrical. Inilah beberapa contoh yang berhubungan dengan tadarruj.

Kedua, tadarruj juga bermakna, menerapkan sebagian syariat Islam, dan “berdiam diri” terhadap sebagian hukum-hukum kufur untuk sementara waktu, sampai tibanya waktu untuk menerapkan syariat Islam secara sempurna. Contoh yang palang gamblang adalah apa yang dilakukan oleh anggota-anggota gerakan Islam di parlemen demokratik. Mereka berdiam, bahkan melibatkan diri dalam aturan-aturan kufur untuk mengubah hukum-hukum kufur secara bertahap.

Ketiga, tadarruj kadang-kadang juga berhubungan dengan pemikiran-pemikiran yang menyangkut ‘aqidah, misalnya demokrasi Islam, sosialisme Islam, dan lain sebagainya. Kadang-kadang juga berhubungan dengan masalah hukum syariat, misalnya, seorang wanita muslimah mengenakan jilbab yang tidak panjang –sebatas lutut--, hingga tiba waktunya mengenakan jilbab yang sempurna. Tadarruj kadang-kadang juga berkaitan dengan system, misalnya, adanya keinginan sebagian gerakan Islam yang memasukkan anggotanya ke dalam parlemen kufur, atau jabatan-jabatan kenegaraan kufur, sebagai tahapan untuk menuju sistem yang Islam. Tadarruj, juga diartikan sebagai upaya untuk menerapkan hukum syariat dan berdiam diri terhadap hukum-hukum kufur, dengan harapan semakin lama akan semakin banyak hukum Islam yang diterapkan, hingga seluruh sistem berubah sesuai dengan syariat Islam.

Alasan-Alasan Tadarruj

Sebagian kaum muslim yang berpendapat bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap mengajukan beberapa argumentasi sebagai berikut;

Pertama, al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur dan bertahap, bukan dengan cara serentak.

Kedua, dalam penetapan hukum atas beberapa kasus, syara’ juga melakukannya secara bertahap. Contohnya adalah kasus pelarangan riba dan khamer. Mereka menyatakan bahwa pelarangan riba dan khamer dilakukan secara bertahap, bukan secara langsung. Untuk itu, dalam menerapkan aturan-aturan Allah SWT boleh dilakukan secara bertahap, dan tidak harus secara serentak.

Inilah argumentasi-argumentasi yang diketengahkan oleh sebagian gerakan Islam yang membolehkan gagasan tadarruj.

Bantahan atas argumentasi-argumentasi di atas adalah sebagai berikut:

Pertama, benar, al-Qur'an memang diturunkan secara bertahap bukan serentak. Allah SWT menurunkan al-Qur'an sesuai dengan kejadian dan perkara yang terjadi agar ia semakin menguatkan hati kaum muslim. Ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah SWT pertama kali berhubungan dengan masalah keimanan, surga dan neraka, baru kemudian masalah halal dan haram. Namun, ini tidak bisa dipahami bahwa bolehnya kaum muslim mengambil sebagian ajaran Islam dan meninggalkan ajaran yang lainnya.

Kaum muslim di awal-awal Islam senantiasa mengikatkan diri dan menjalankan apa yang diturunkan kepada mereka secara sempurna, tidak secara bertahap. Mereka tidak pernah meninggalkan satupun hukum yang telah kepada mereka. Ketika turun ayat tentang iman, mereka langsung menerapkan dan mengamalkannya secara sempurna. Begitu juga ketika turun ayat berhubungan dengan halal haram, kaum muslim segera melaksanakan dan terikat dengan apa yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Ketika Allah SWT baru menurunkan 5 ayat, mereka langsung mengerjakan 5 ayat tersebut secara sempurna. Mereka segera mengerjakan secara serentak lima ayat yang telah diturunkan kepada mereka, bukan secara bertahap. Sebab, ayat yang baru turun kepada mereka hanya lima ayat. Jadi lima ayat ini telah sempurna diturunkan dan diamalkan secara serentak oleh para shahabat. Ketika telah turun 5 ayat, mereka tidak pernah mengerjakan 2 ayat saja, dan meninggalkan 3 ayat yang lain, tadarruj atau dengan alasan al-Qur'an diturunkan secara bertahap.

Para pengusung gagasan tadarruj memahami bahwa al-Qur'an diturunkan secara bertahap, sehingga ketika semua ayat telah sempurna diturunkan kepada kaum muslim, maka kaum muslim boleh mengaplikasikannya secara bertahap sejalan dengan cara diturunkannya al-Qur'an. Akibatnya, sebagian hukum boleh diaplisikasikan terlebih dahulu, sedangkan yang lain tidak diaplikasikan; meskipun hukum yang ditinggalkan itu telah diturunkan kepada mereka. Pemahaman semacam ini jelas-jelas sesat dan keliru. Sebab, aplikasi hukum ketika hukum sudah diturunkan secara sempurna, tidak ada hubungannya dengan periode turunnya al-Qur'an, akan tetapi berhubungan dengan ahkaam takliifiy dan ahkaam al-wadl’iy, dan prinsip istitha’ah (kemampuan). Jika hukum itu telah diturunkan, maka kaum muslim wajib melaksanakan hukum tersebut sesuai dengan syarat-syaratnya (hukum taklifiy dan wadl’iy, istitha’ah).

Atas dasar itu, generasi awal Islam pun telah mengaplikasikan semua ayat yang diturunkan kepada mereka secara sempurna, bukan secara bertahap sebagaimana yang dipahami oleh pengusung gagasan tadarruj. Dengan kata lain, para shahabat tidak pernah melakukan tadarruj, akan tetapi mereka melaksanakan semua hukum yang diturunkan kepada mereka secara sempurna. Para shahabat juga tidak pernah kompromi dengan hukum-hukum kufur sebagai tahapan untuk melaksanakan hukum Islam. Mereka tidak pernah terlibat atau melibatkan diri dengan hukum kufur dengan alasan tadarruj. Ini semakin membuktikan bahwa para shahabat tidak pernah melakukan tadarruj.

Tidak berbeda dengan kaum muslim saat ini. Pada dasarnya, ketentuan Allah telah diturunkan secara sempurna. Dalam kondisi semacam ini, tidak dibenarkan secara syar’iy, kita hanya melaksanakan sebagian hukum Islam dan meninggalkan hukum Islam yang lain dengan alasan tadarruj. Sebab, kaum muslim mesti melaksanakan seluruh ketentuan Allah SWT tanpa terkecuali. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Iislam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (Qs. al-Baqarah : 208).*1)

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi system keyakinan Islam (‘aqidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, I/247).

Imam al-Nasafiy menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah SWT atau Islam. Kata “kaaffah”adalah haal dari dlamir “udkhulu”, dan bermakna “jamii’an” (menyeluruh) (Imam al-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta’wiil, I/112).

Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz “kaaffah” merupakan “haal” dari dlamir “mu’miniin’. Makna “kaaffah” adalah “jamii’an” (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, III/18).

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah Saw agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.

Imam Thabariy menyatakan: “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337).

Demikianlah, kami telah menjelaskan kesalahan istinbath sebagian kaum muslim yang membolehkan tadarruj. Turunnya al-Qur'an secara berangsur sama sekali tidak menunjukkan adanya tadarruj, atau kebolehan kaum muslim melakukan perubahan secara bertahap sebagaimana pemahaman sebagian kelompok dan partai Islam. Lebih-lebih lagi jika ada sebagian orang yang memahami bolehnya kaum muslim menerapkan hukum kufur sebagai tahap untuk melaksanakan syariat Islam secara sempurna. Misalnya, fatwa bolehnya kepala negara wanita dengan alasan bahwa ini merupakan satu tahapan untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah. Contoh yang lain adalah, mengangkat orang kafir sebagai caleg sebagai tahapan pertama untuk mendakwahi mereka. Jelas, tadarruj seperti adalah tadarruj yang tidak memiliki akar dalam syariat Islam.

Walhasil, jika masih ada yang menyerukan tadarruj, sementara hukum Allah SWT telah diturunkan secara sempurna, maka seruan ini adalah seruan bathil dan menyalahi nash-nash yang qath’iy.

Adapun dalam konteks aplikasi hukum, maka seluruh hukum yang dibebankan kepada setiap kaum muslim harus dijalankan oleh setiap kaum muslim tanpa pengecualian. Misalnya, sholat, zakat, puasa, nikah, dan lain sebagainya. Demikian juga, jika aplikasi suatu hukum disandarkan kepada partai atau kelompok Islam, maka pelaksanaannya tergantung pada keberadaan partai atau jamaah. Misalnya, kewajiban menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah. Hukum-hukum ini tidak akan bisa diaplikasikan tanpa keberadaan sebuah jama’ah atau partai politik Islam. Sebab, kewajiban ini hanya bisa dipikul oleh kelompok atau gerakan Islam. Bila aplikasi suatu hukum tergantung pada eksistensi negara, maka pelaksanaan hukum tersebut digantungkan kepada negara. Individu tidak boleh menerapkan hukum tersebut. Sebab, individu tidak berhak melaksanakan hukum tersebut. Contohnya adalah, memberikan sanksi hudud dan jinayat, pengaturan urusan publik, politik luar negeri, futuhat dan perang. Hukum-hukum semacam ini, aplikasinya digantungkan kepada eksistensi negara. Sebab, hanya negara yang berhak menerapkan hukum-hukum semacam ini.

Kedua, adapun mengenai kasus pelarangan khamer dan riba, maka siapa saja yang mengkaji masalah ini secara jernih dan mendalam akan berkesimpulan bahwa tidak ada tadarruj dalam kasus tersebut. Lebih dari itu, kasus ini sama sekali tidak boleh digunakan sebagai dalil untuk membenarkan gagasan bathil semacam tadarruj.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum khamer adalah sebagai berikut;

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat kepada manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar.” (Qs. al-Baqarah : 219).

Ini adalah ayat pertama yang berbicara tentang khamer. Setelah itu turunlah ayat kedua:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (Qs. an-Nisaa’ : 43).

Sedangkan ayat terakhir yang menetapkan keharaman khamer secara tegas adalah firman Allah SWT:

“Sesungguhnya khamer, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilkah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan.” (Qs. al-Maa'idah : 90).

Inilah ayat-ayat yang dijadikan dalil keharusan untuk melakukan perubahan secara berangsur-angsur (tadarruj). Berdasarkan keseluruhan ayat ini mereka berargumentasi bahwa pada awalnya khamer diperbolehkan bagi kaum muslim berdasarkan ayat yang pertama. Selanjutnya, kebolehan khamer tersebut dipersempit; yakni janganlah mengerjakan sholat dalam kondisi mabuk. Artinya, kaum muslim masih diperbolehkan minum khamer, akan tetapi mereka dilarang sholat dalam kondisi mabuk. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (Qs. an-Nisaa’ : 43). Setelah itu, turunlah ayat yang secara tegas mengharamkan khamer. Mereka menambahkan lagi, khamer adalah penyakit masyarakat. Sedangkan jalan untuk mengenyahkan penyakit ini dilakukan secara berangsur-angsur dan bertahap. Walhasil, kisah pelarangan khamer memberikan satu pelajaran bagi kaum muslim, agar dalam mengenyahkan penyakit masyarakat atau melakukan perubahan harus ditempuh secara bertahap, bukan secara serentak. Inilah argumentasi-argumentasi sebagian kaum muslim yang membolehkan tadarruj.

Adapun bantahan atas pendapat di atas adalah sebagai berikut;

Bila ayat-ayat di atas dikaji dengan pemahaman dan istinbath yang benar, maka siapapun tidak pernah berkesimpulan bahwa generasi awal Islam telah melakukan tadarruj, sebagaimana pemahaman sebagian gerakan dan partai Islam.

Apabila ayat-ayat tadi diperhatikan dengan pandangan yang syar’i, maka tidak akan ditemukan tahapan apapun di dalam pengharaman khamer. Sebab, tidak ada hukum atas khamer sebelum turunnya ayat yang mengharamkannya. Artinya, sebelumnya khamer itu dibiarkan, atau maskût ‘anhu (didiamkan) meskipun mereka melakukannya, sampai turunnya ayat yang ke tiga.

Pendiaman atas status hukum khamer ini bisa disimpulkan dari perkataan Umar bin Khattab ra: ‘Wahai Allah, jelaskanlah bagi kami hukum khamer dengan penjelasan yang memuaskan, karena khamer itu menghabiskan harta dan menghilangkan akal.’ Selanjutnya, turunlah firman Allah SWT:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi.” (Qs. al-Baqarah : 219).

Umar lalu dipanggil, dan ayat tersebut dibacakan kepadanya, kemudian ia berkata: ‘Wahai Allah, jelaskanlah bagi kami hukum khamer dengan penjelasan yang memuaskan’; setelah itu turunlah ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk.” (Qs. an-Nisaa' : 43).

Umar lalu dipanggil, dan ayat tersebut dibacakan kepadanya. Umar pun berdoa kembali: ‘Wahai Allah, jelaskanlah kepada kami tentang hukum khamer dengan penjelasan yang memuaskan.’ Kemudian turunlah ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah.” (Qs. al-Maa'idah : 90).

Umar pun dipanggil dan ayat tersebut dibacakan kepadanya hingga ketika sampai pada bacaan:

“Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Qs. al-Maa'idah : 91); Umar lalu berkata: ‘Kami berhenti wahai Rabb, kami berhenti wahai Rabb.’ .

Dari riwayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa, hukum khamer didiamkan (maskût ‘anhu) meskipun para shahabat melakukannya. Sayidina Umar terus memohon agar Allah menjelaskan hukum khamer dengan penjelasan yang memuaskan, dimana sebelumnya didiamkan kebolehannya sebelum turunnya ayat yang pertama. Beliau terus memohon meskipun telah diturunkan dua ayat yang pertama dan yang kedua. Hal itu menunjukkan bahwa khamer tetap dalam kebolehannya hingga turunnya ayat pengharaman khamer pada ayat yang ketiga.

Larangan yang terdapat di dalam ayat yang kedua difokuskan kepada shalat dalam keadaan mabuk, bukan ditujukan kepada (haramnya) khamer. Ayat ini berhubungan dengan shalat. Jika kita perhatikan secara lebih seksama terhadap fiqih ayat ini, maka ayat tersebut tidak melarang kaum Muslim meminum khamer selain pada waktu shalat. Yang dilarang atas kaum Muslim adalah shalat dalam keadaan mabuk, sehingga mereka mengetahui apa yang mereka ucapkan. Seandainya -setelah turunnya ayat ini- tercium dari mulut seorang muslim bau khamer ketika dia shalat, atau dia membawa segentong khamer, atau telah meminum khamer dalam jumlah yang tidak sampai membuatnya mabuk, maka hal itu tidak apa-apa baginya (boleh saja).

Allah telah mencela khamar pada ayat yang pertama karena merugikan. Kemudian Allah melarang shalat dalam keadaan mabuk pada ayat yang kedua. Setelah itu Allah mengharamkan khamer pada ayat yang ketiga. Hal semacam ini tidak bisa dikatakan adanya tahapan di dalam pengharaman khamer, karena tidak seorangpun menganggap khamer itu mubah setelah turunnya ayat pengharaman khamer (surat al-Maidah), baik pada masa Rasulullah Saw maupun pada masa sahabat, atau pada masa tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Tidak ada satu pun kitab-kitab fiqih yang dikarang oleh ulama-ulama besar dan para mujtahid umat ini yang membahas masalah tadarruj dalam kasus pengharaman khamer.

Bukti yang lain adalah kisah-kisah futuhât yang dilakukan oleh para shahabat. Dahulu kala, futuhât Islam dilakukan hanya dengan berjalan kaki. Saat itu banyak negeri-negeri dibuka. Pada waktu itu manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah. Kaum Muslim yang membuka negeri itu tidak mempedulikan ke-Islaman saudara-saudara mereka yang masih baru, dan tidak membiarkan mereka minum khamer melalui tahapan sebagaimana ‘tahapan’ yang telah dilewati dalam pengharaman khamer. Artinya, setelah turun ayat pelarangan khamer, para shahabat tidak pernah membolehkan kaum muslim meminum khamer dengan alas an pelarangan khamer itu dilakukan secara bertahap. Hukum terakhir adalah hukum yang ditegakkan, bukan hukum yang telah dihapus atau dianulir.

Padahal, kondisi saat itu sangat menuntut mereka untuk memberikan keringanan kepada saudara-saudaranya yang baru masuk Islam. Namun, para shahabat tetap melarang kaum muslim –meskipun baru masuk Islam—untuk meminum khamer. Ini menunjukkan bahwa, ketika mereka menerapkan hukum, mereka hanya berpatokan pada ayat yang terakhir turun, tidak melakukannya secara bertahap. Wajar saja, karena para ulama kita terdahulu tidak pernah membahas masalah tadarruj.

Demikianlah, anda telah kami jelaskan dengan gamblang kesalahan proses istinbath dan dalil yang diketengahkan para penggagas tadarruj.

Sesungguhnya, tadarruj merupakan pembahasan baru yang dipicu oleh keadaan sulit dan kerasnya situasi. Mereka berusaha menghadapi situasi dakwah yang sulit ini dengan cara menundukkan nash-nash syara’ di bawah keinginan dan kondisi yang sulit. Metodeologi berfikir mereka menjadi terbalik. Mereka telah menetapkan tadarruj terlebih dahulu, baru kemudian dicarikan argumentasi syar’iynya. Mereka beranggapan bahwa tadarruj adalah strategi yang paling mungkin. Namun mereka lupa, bahwa fakta bukanlah dalil syara’, namun obyek yang harus dihukumi. Bahkan dengan congaknya mereka menjadikan tadarruj sebagai metoda berpikir yang tidak hanya mencakup sebagian hukum saja tetapi juga melampaui agama seluruhnya. Benarlah sabda Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang menjumpai perbedaan yang banyak, maka berhati-hatilah kalian dari segala perkara yang menambah-nambah sesuatu yang baru (dalam masalah agama), karena yang demikian itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah (tempatnya) di dalam neraka.” .

Seandainya tadarruj diperbolehkan, maka kita bisa mengajukan pertanyaan kepada para penggagas tadarruj: Apakah boleh bagi kita mengambil hukum sebelum Islam dengan alasan tadarruj dalam penerapan hukum?

Tentunya, orang yang beriman kepada Allah akan menjawab dengan tegas: Tidak! Alasannya, hukum pengharaman khamer adalah qath’i, dan secara syar’i kita tidak boleh merujuk kembali kepada hukum sebelumnya, dengan alas an tadarruj. Jika kita melaksanakan hukum sebelumnya –membolehkan meminum khamer--, kemudian secara bertahap diharamkan, berarti kita telah melaksanakan apa yang tidak diperintahkan Allah SWT kepada kita. Sebab, kita hanya diperintahkan untuk mengambil ketetapan hukum yang paling akhir, bukan hukum sebelumnya. Inilah (pendapat) yang dianut oleh orang-orang terdahulu dan kemudian. Hukum khamer sekarang ini hanya satu, yakni haram, dan tidak akan pernah berubah dalam kondisi bagaimanapun. Siapa saja yang membolehkan meminum khamer dengan alasan tadarruj, sungguh ia telah keluar dari kelompok orang-orang beriman. Sebab, ia telah menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT.


2. Perubahan Harus Dimulai Dari mengubah Negeri-Negeri Muslim, Kemudian baru Membentuk Khilafah Islamiyyah?

Gagasan semacam ini merupakan turunan dari cara berfikir tadarruj. Akibatnya, mereka melupakan nash-nash syara’ sharih yang berbicara tentang strategi perubahan serta keharusan untuk hanya menegakkan system pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyyah tanpa melalui tahapan non syar’iy. Mereka menetapkan strategi ini lebih karena mengacu kepada fakta dan kondisi yang ada, bukan berdasarkan pemikiran syar’iy dan pertimbangan strategis yang mendalam dan matang. Anehnya, mereka menyatakan bahwa strategi ini lebih realistis dan mudah, daripada langsung menegakkan Khilafah Islamiyyah.

Padahal, menegakkan secara langsung Khilafah Islamiyyah merupakan strategi yang paling efisien, ampuh, dan memperpendek masa transisi reformasi. Dalam teori transformasi, ada sebuah adagium, “Apakah strategi yang diterapkan itu bisa memperpendek masa transisi, reformasi atau malah memperpanjang.” Contohnya, ketika partai-partai Islam mengangkat Gus Dus sebagai presiden, mereka berharap akan terjadi proses transformasi. Sayangnya, pengangkatan Gus Dur malah memperpanjang masa transisi reformasi. Yang terjadi bukan transformasi atau perubahan, akan tetapi malah muncul problem baru yang harus direformasi. Begitu seterusnya. Begitu juga bila arah perjuangan diarahkan untuk menegakkan Daulah Islamiyyah di masing-masing negeri Islam. Perjuangan semacam ini, malah akan memperpanjang transisi reformasi, bukan memperpendeknya.

Walhasil, mengangkat pemimpin-pemimpin di negeri-negeri Islam merupakan langkah yang secara obyektif malah memperpanjang transisi reformasi, bukan malah memperpendek. Selain itu, kekuatan kaum muslim akan terpecah belah dalam berbagai nation yang justru memudahkan kapitalisme global untuk menguasai kaum muslim dan mengarahkan arah reformasi kaum muslim di setiap negeri Islam. Dengan begitu, kapitalisme global akan lebih mudah dalam mengontrol dan menghancurkan kekuatan kaum muslim yang telah tercerai berai itu.

Selain malah memperpanjang proses dan transisi reformasi, perjuangan untuk mengubah negeri-negeri Islam menjadi Daulah Islamiyyah, justru akan melanggengkan paham nasionalisme dan negara bangsa. Dalam kondisi seperti ini, sangat sulit rasanya melawan konspirasi internasional yang dilancarkan oleh AS dan sekutu-sekutunya. Jika kita menengok kembali sejarah kehancuran kaum muslim, senjata ampuh yang digunakan kaum kafir untuk menggerogoti Khilafah Islamiyyah dan eksistensi kaum muslim sebagai umat wahidah adalah nasionalisme.

Benar, dalam tataran perjuangan atau aktivitas, maka dakwah harus dilakukan dimana kita berada. Ketika kita di Indonesia, maka konteks aktivitas kita adalah di Indonesia, bukan di Malaysia. Namun demikian, secara konsepsi perjuangan di negeri ini juga harus diarahkan untuk menegakkan system pemerintahan yang syar’iy yakni Khilafah Islamiyyah, bukan mendirikan “Daulah Islamiyyah”; atau dipersiapkan untuk menyongsong tegaknya Khilafah Islamiyyah di negeri yang lain. Sebab, sistem ini (Daulah Islamiyyah) jelas-jelas bertentangan dengan nash-nash sharih yang mengharuskan kaum muslim hidup di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah.

Dengan kata lain, pada tataran idealitas dan konsepsi, setiap gerakan Islam harus hanya mengusung ide-ide, dan strategi Islamiy ideal. Sedangkan dalam tataran praktis, setiap gerakan Islam harus memfokuskan aktivitasnya di tempat di mana ia tinggal. Yang tidak dibenarkan adalah, mengubah idealitas hanya karena kita berada di sebuah local tertentu, Indonesia misalnya. Contohnya, gerakan ataui partai Islam tidak berjuang menegakkan Khilafah Islamiyyah, akan tetapi malah terlibat dalam system republik, dan berjuang untuk meraih kedudukan-kedudukan yang secara syar’iy tidak dibenarkan, misalnya jabatan presiden, maupun anggota legislative.

Terakhir, gagasan untuk mengubah negeri-negeri Islam baru kemudian menegakkan khilafah Internasional, adalah gagasan yang secara normative jelas-jelas melanggar ketentuan syara’. Gagasan ini sama saja telah menghalalkan sesuatu yang diharamkan dengan alasan tadarruj. Padahal, bukankah system Khilafah merupakan system final yang telah ditetapkan oleh Rasulullah; dan bukankah tidak ada tadarruj di dalamnya? Apakah kita akan memperjuangkan system yang tidak Islamiy, sebagai tahapan menegakkan system Khilafah Islamiyyah? Jawab: tentu tidak! Sebab, jika kita membenarkan gagasan semacam ini, sama artinya kita telah membolehkan sesuatu yang jelas haram, dan melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, sama artinya kita telah mengiyakan gagasan tadarruj yang bathil itu. Bukankah Rasulullah Saw telah menolak Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi yang mengajukan permintaan kepada Rasulullah Saw agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka? Bukankah ini merupakan dalil yang sangat sharih agar kita tidak menempuh jalan keharaman, dengan alas an tadarruj?


3. Perubahan Harus Dimulai dari Individu, Keluarga, Masyarakat, baru Negara?

Gagasan semacam ini tidak lepas dari metodologi berfikir tadarruj. Pengusung gagasan ini menganggap bahwa masyarakat itu tersusun dari individu. Atas dasar itu, mengubah masyarakat harus dimulai dari individu, keluarga, dan seterusnya.

Kesalahan dari gagasan ini terletak pada asumsi dasarnya. Sesungguhnya, asumsi bahwa masyarakat itu tersusun dari individu, dan perubahan masyarakat tergantung dari individunya, adalah asumsi yang salah. Sebab, masyarakat tidak hanya tersusun oleh individu, akan tetapi juga disusun oleh pemikiran, perasaaan, dan aturan. Bahkan, ketiga hal inilah yang akan menentukan perubahan masyarakat, bukan individunya. Lebih dari itu, perubahan perilaku individu juga ditentukan oleh perubahan pemikiran dan perasaannya. Atas dasar itu, perubahan apapun, baik individu dan masyarakat harus dimulai dari adanya perubahan pemikiran dan perasaannya.

Demikian juga mengenai masyarakat. Sebuah masyarakat tidak akan berubah sebelum pemikiran, perasaan dan aturan yang tumbuh di dalamnya berubah. Jika semesta pembicaraan kita adalah perubahan menuju masyarakat Islam, maka masyarakat kufur tidak akan berubah menjadi masyarakat Islam sebelum pemikiran dan aturan yang diterapkan berubah. Meskipun individu-individunya seluruhnya beragama Islam, namun selama aturan yang diterapkan di dalamnya bukan aturan Islam, maka masyarakat itu tetap disebut masyarakat kufur. Bahkan, meskipun seluruh individunya memahami Islam dan tergerak untuk mengubah sistem tersebut, namun selama sistem aturannya tidak berubah maka masyarakat di dalamnya tidak disebut sebagai masyarakat Islam. Sebaliknya, walaupun mayoritas individu yang ada di tengah-tengah masyarakat adalah kafir, akan tetapi selama aturan yang diberlakukan dan keamanan di negeri itu dijamin oleh kaum muslim, maka masyarakat itu tetap disebut sebagai masyarakat Islam. Ini menunjukkan bahwa perubahan masyarakat harus dimulai dari perubahan aturan dan pemikiran yang ada di dalamnya.

Dengan kata lain, perubahan masyarakat harus dilakukan dengan cara mengubah sistem aturan dan pemikiran mendasar yang dijadikan landasan oleh masyarakat tersebut. Di sisi yang lain, sebuah gerakan maupun partai tidak akan mampu mengubah setiap individu yang ada di tengah-tengah masyarakat sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Bahkan, keadaan semacam ini sudah merupakan sunnatullah yang telah digariskan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja, akan tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu…” (Qs. al-Maa'idah : 48).

Keadaan ini semakin memperkuat bahwa perubahan masyarakat tidak disandarkan pada perubahan individu-individunya, akan tetapi pada sistem aturan yang diberlakukan.

Benar, Rasulullah Saw berdakwah seorang diri, kemudian menghubungi para shahabat satu persatu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa dakwah yang ditujukan oleh Rasulullah Saw adalah dakwah yang ditujukan untuk hanya mengubah individu-individunya saja, sehingga jika individu ini berubah maka keluarga dan masyarakat pun juga akan berubah. Pemahamannya tidaklah demikian.

Sesungguhnya, individu-individu ini dipersiapkan oleh Rasulullah Saw untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat dengan jalan menyerang seluruh pemikiran, keyakinan dan aturan-aturan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Jadi watak perubahan yang ditanamkan oleh Rasulullah kepada para kadernya adalah perubahan yang bersifat sistemik, bukan individual.

Di samping itu, Rasulullah Saw juga mengutus para shahabat untuk menghubungi para pemimpin kabilah –sebagai representasi dari kekuatan masyarakat—dan menggalang dukungan dari mereka. Rasulullah Saw juga melakukan thalabun nushrah kepada para pemimpin kabilah Arab untuk diminta kekuasaannya. Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa dakwah untuk mengubah masyarakat kufur tidak dilakukan dengan konsens pada perubahan individunya belaka. Lebih dari itu, perubahan masyarakat harus dilakukan dengan cara mengubah sistem aturan yang ada di dalamnya sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah Saw. Sedangkan dakwah Rasulullah Saw, jelas-jelas menunjukkan bahwa beliau melakukan perubahan masyarakat dengan cara mengubah pemikiran, dan aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat dengan cara mendirikan kekuasaan Islam.

Sebuah kesalahan jika dakwah Rasulullah saw difokuskan hanya untuk mengubah individu, sehingga secara otomatis ada perubahan keluarga dan masyarakat. Dakwah Rasulullah Saw tidak seperti itu. Dakwah beliau tetap konsens untuk menyerang pemikiran, aturan, keyakinan dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Sebab, pemikiran dan aturan adalah factor utama penyusun masyarakat sekaligus penentu corak dari sebuah masyarakat.


4. Perubahan Harus Dimulai Dari Perubahan Akhlaq Dan Qalbu

Ini adalah gagasan dangkal dan premature dalam memahami proses perubahan masyarakat.*2) Untuk menjawab gagasan ini, perlu kiranya kami mengemukakan sebuah tamsil yang paling mudah. Jika anda ditanya, bagaimana cara mengoperasikan dan memperbaiki pesawat terbang? Tentu anda tidak mungkin menjawabnya dengan jawaban, “Anda mesti jujur, berhati bersih, murah hati, atau berakhlaq mulia, hingga anda berhasil memperbaiki pesawat ini.” Tentunya anda akan menjawab, “Pesawat ini baru bisa diperbaiki dan dioperasikan jika anda telah mengerti system pengoperasian dan mekanisme perbaikannya.” Seandainya anda pemilik pesawat, kemudian anda disodori seorang pilot yang juga ahli teknisi pesawat, dan seorang pedagang yang terkenal memiliki akhlaq yang baik namun buta mengenai seluk beluk pesawat terbang, lantas mana yang akan anda pilih untuk memperbaiki pesawat terbang; dan mana yang anda anggap bisa menyelesaikan masalah? Tentunya, setiap orang bisa menjawab bahwa untuk menyelesaikan masalah ini dibutuhkan orang yang mengerti sistem pesawat dan pengoperasiannya, bukan orang yang berakhlaq baik. Bahkan, akhlaq dalam masalah ini tidak berhubungan dengan cara pengoperasian dan perbaikan pesawat.

Demikian pula jika pokok pembicaraan kita adalah perubahan sistem. Jika sistem masyarakat yang hendak kita ubah, maka arah perjuangan kita harus difokuskan kepada perubahan sistemnya (aturannya), bukan diarahkan kepada perubahan akhlaq maupun hati. Sebab, akhlaq dan qalbu adalah perkara yang bersifat individual, bukan sistemik.

Perubahan akhlaq dan hati (qalbun salim) tidak berhubungan sama sekali dengan perubahan warna masyarakat. Contohnya, masyarakat Hindu dan Budha terkenal memiliki nilai-nilai akhlaq dan hati yang baik. Bahkan mereka sangat menjunjung nilai-nilai tersebut dan berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan. Akan tetapi, masyarakat mereka tetap disebut sebagai masyarakat kufur, meskipun akhlaq dan hati mereka terkenal baik.

Masyarakat mereka tidak otomatis berubah menjadi masyarakat Islam, meskipun akhlaq dan qalbu mereka baik. Seandainya perubahan system harus dimulai dengan perubahan akhlaq dan hati, tentunya ketika akhlaq dan hatinya berubah, masyarakatnya juga ikut berubah.

Masyarakat di negeri-negeri Islam juga terkenal memiliki akhlaq dan qalbu yang sangat baik, akan tetapi masyarakat di negeri-negeri Islam, misalnya Iraq dan Iran, tetap saja tidak berubah statusnya menjadi masyarakat Islam. Ini disebabkan karena system aturan yang diterapkan di negeri-negeri itu bukan hukum Islam. Akibatnya, masyarakat di Iraq dan Iran tidak bisa disebut masyarakat Islam.

Walhasil, dakwah mengubah masyarakat harus dimulai dengan cara mengubah pemikiran, perasaan dan aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat tersebut.

Namun demikian, bukan berarti kita mengabaikan atau menganggap remeh masalah akhlaq dan qalbu salim, akan tetapi kita hendak mendudukkan secara proporsional keduanya di dalam ranah yang sebenarnya. Bahkan, tidak disebut berakhlaq mulia dan berhati baik, ketika seseorang sibuk berdzikir, wirid, dan memberikan pengajian-pengajian qalbu, namun berdiam diri atau malah melibatkan diri dengan aturan-aturan kufur. Yang benar adalah seorang muslim mesti memiliki akhlaq dan hati yang baik, yang tercermin dalam perilakunya; yakni menjalankan seluruh perintah Allah dan berjuang untuk membidas system kufur dan diganti dengan sistem Islam.

Demikianlah, anda telah kami jelaskan secara ringkas namun detail, gagasan-gagasan seputar perubahan yang mesti diubah. Sungguh, kemulyaan hanya milik Allah. Dialah yang akan memenangkan siapa saja yang teguh dalam membela kebenaran dan kebersihan diinNya dari unsure-unsur kekufuran, kefasikan dan kedzaliman.


Manhaj Rasulullah dalam Mengubah Masyarakat

Meraih kekuasaan dari tangan umat adalah thariqah untuk menerapkan syariah Islam. Akan tetapi, cara untuk meraih kekuasaan dari tangan umat harus dilakukan sesuai dengan manhaj (metode) yang telah digariskan oleh Rasulullah Saw.

Di bawah ini adalah prinsip-prinsip dakwah Rasulullah Saw untuk mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islamiy.

1. Perjuangan harus dilakukan secara kolektif (amal jama’iy) bukan individual. Perjuangan semacam ini bisa dituangkan dengan cara membentuk harakah, partai, maupun jama’ah yang bersendikan ‘aqidah Islam.

Ini didasarkan pada fakta sejarah perjuangan Rasulullah Saw dan para shahabat. Beliau Saw dan para shahabat merupakan gambaran factual sebuah perjuangan kolektif.

Rasulullah Saw berkedudukan sebagai pemimpin bagi kutlah (kelompok) shahabat yang memimpin para shahabat untuk meruntuhkan rejim kufur saat itu.*3)

Di sisi lain, perjuangan menegakkan kembali sistem Islam tidak mungkin dipikul oleh perjuangan individual, akan tetapi mutlak memerlukan sebuah perjuangan kolektif. Berdasarkan kaedah ushul fiqh, “Tidak sempurnanya suatu kewajiban kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Menegakkan sistem Islam adalah kewajiban yang tidak mungkin dipikul oleh gerakan individual, akan tetapi harus diemban oleh sebuah kelompok. Walhasil, adanya kelompok merupakan keniscayaan bagi berhasilnya perjuangan menegakkan sistem Islam.

2. Kelompok tersebut melakukan pembinaan (halaqah) anggota-anggotanya dengan tsaqafah Islam, selanjutnya melakukan interaksi dengan masyarakat. Ini ditujukan agar anggota kelompok tersebut memahami visi dan misi perjuangan, dan agar mereka melebur dengan ‘aqidah dan tsaqafah Islam. Namun, kelompok tidak hanya melakukan pembinaan untuk anggota-anggotanya saja, akan tetapi ia harus membina umat agar umat memahami Islam dan mahu mendukung perjuangan untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam.

Dengan kata lain, partai Islam harus berjuang sejalan dengan manhaj dakwah Rasulullah Saw, yang dimulai dari (1) pembinaan, (2) berinteraksi dengan masyarakat, (3) mengambil alih kekuasaan melalui umat.

Rasulullah Saw membina para shahabat di rumah Arqam. Beliau juga melakukan halaqah di tempat-tempat yang telah ditentukan. Pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam pada diri shahabat. Tidak hanya itu, pembinaan yang dilakukan oleh beliau Saw juga ditujukan agar para shahabat mampu mendakwahkan Islam kepada masyarakatnya.

Beliau dan para shabahat tidak henti-hentinya menyerang kebusukan aqidah-aqidah dan pranata jahiliyyah yang ada di tengah-tengah masyarakat. Beliau dan para shahabat sering menyinggahi pasar-pasar, baitullah, dan tempat-tempat yang sering dituju oleh masyarakat.

3. Parpol Islam harus mempersiapkan pemikiran dan metode untuk menerapkan pemikiran tersebut kepada masyarakat sedetail dan serinci mungkin. Kelompok Islam tidak boleh hanya berbekal semangat belaka untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat.

Kelompok Islam harus bisa menggambarkan secara detail dan rinci bagaimana sistem pemerintahan, peradilan, politik luar negeri dan dalam negeri, sistem ekonomi, sistem hubungan social Islamiy dan lain-lain. Bahkan ia harus sudah mempersiapkan konstitusi Islam yang menggambarkan si

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 15:00


Assalamualaikum,


Budaya Barat atau Budaya Timur?

Pengaruh budaya asing (budaya kuning) terhadap muda-mudi semakin parah. Bermula dari cara berpikir, gaya berpakaian, penampilan, sehingga kepada pada bentuk kesenian pun hampir semuanya berkiblat kepada budaya Barat. Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, media cetak maupun dalam program TV. Melihatkan kaum muda mudi yang banyak hanyut dengan dunia hendonisme mereka, Timbalan Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak melakukan teguran terhadap program realiti TV. Kemudian Tun Dr Mahathir menyokong dengan memberikan komentar bahawa program ini amat bercanggah budaya Timur.

Tulisan ini mengupas untuk melihat bagaimana sebenarnya budaya dilihat dari kaca mata ajaran Islam, sebagai sebuah cara hidup yang lengkap.

Budaya Asing atauTimur ?

Allah SWT menjadikan manusia hidup di dunia ini untuk dapat mendapat kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kenikmatan dunia (lihat QS. Al Qashash 77). Perkara ini akan hanya dapat dicapai hanya dengan menjadikan hidup manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Ini bermaksud bahawa hidup manusia itu dalam rangka tunduk , patuh, dan taat kepada aturan Allah. Dia berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan (ingatlah. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu
Dengan demikian hakikat hidup manusia adalah ibadah dan apa jua perbuatan yang dilakukannya mesti didasarkan kepada Islam. Sebab, orang yang akan berbahagia di sisi Allah SWT hanyalah mereka yang menerapkan Islam secara syumul baik dalam perkara keyakinan mahupun perilakunya, termasuk di dalam aspek budaya (Hadharah). Tegas sekali perintah Allah SWT di dalam Al Quran :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam agama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya dan janganlah kamu menurut jejak langkah ; sesungguhnya itu musuh bagi kamu yang terang nyata. .
Imam Ibnu Katsir mengomentari ayat tersebut dengan menyatakan

يقول الله تعالى آمرا عباده المؤمنين به المصدقين أن يأخذوا بجميع عرى الإسلام وشرائعه والعمل بجميع أوامره وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك
Bahawa Firman Allah yang memerintakahkan semua orang beriman yang yakin untuk melaksanakan seluruh cabang iman dan hukum-hukum Islam dan meninggalkan larangannya semampu mungkin. Tambahan pul'Masuklah kalian kedalam syariat agama yang dibawa Muhammad SAW, dan janganlah kalian mengabaikan sedikit pun dari syariat tersebut' ( Tafsirul Qur`anil 'Azhim, jilid I, hal. 209 - 210).

Jadi, Allah SWT mewajibkan kepada orang yang benar-benar beriman untuk terikat dengan peraturan Islam dalam segala hal, termasuk dalam persoalan budaya. Budaya Barat ataupun Timur bila bertentangan dengan ajaran Islam wajib disingkirkan, sesaui dengan maksud dalam ayat tadi, semua itu termasuk jalan ke dalam jejak langkah .

Tanpa mengira siapa yang mengamati Budaya Timur di negara ini, pasti akan menyimpulkan bahawa banyak budaya Timur yang bertentangan dengan Islam. Berapa banyak tayangan wayang yang mengajarkan kebudayaan Hindu (wayang kulit), tarian-tarian daerah pun tidak kurang mempertontonkan aurat (menorah), muzik timur tidak terlepas dari goyangan 'pinggul' si biduanita yang mengalunkannya, dan adanya unsur pemujaan (kuda kepang). Ini tidak termasuk tayangan-tayangan keluaran tempatan yang teracuni oleh budaya asing. Jadi, masalahnya bukan Timur atau Barat. Tetapi terletak pada nilai-nilai yang menjadi asas dan terkandung di dalamnya. Apalah artinya budaya timur kalau ternyata sekedar hasil ciplakan budaya Barat non Islam. Apalah ertinya budaya Timur bila bertentangan dengan ajaran Islam. Bila hal ini diteruskan juga, yang akan terjadi adalah kepedihan dan nestapa di akhirat, serta kerusakan interaksi antara manusia di dunia ini. Budaya yang didasarkan pada aqidah dan peraturan buatan manusia (makhluk yang serba kurang, serba memerlukan, dan serba lemah dibandingkan dengan Allah SWT Penciptanya) sama sahaja dengan menempuh jalan syaithan yang membawa kekejian. Firman Allah SWT :

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu dengan kemiskinan dan kepapaan (jika kamu bersedekah atau menderma) dan dia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji (bersifat bakhil kedekut); sedang Allah menjanjikan kamu (dengan) keampunan daripadaNya serta kelebihan kurniaNya dan (ingatlah), Allah Maha Luas limpah rahmatNya, lagi sentiasa Meliputi PengetahuanNya. .
Budaya: Hadharah dan Madaniyah

Dalam berbagai tulisan, kebudayaan bererti sebagai hasil dari cipta, inisiatif dan rasa manusia atau keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Berdasarkan cara pandang sekular, budaya dalam makna tersebut haruslah bersifat anthroposentris. Maksudnya, segala sesuatunya lahir dari manusia. Seluruh agama -termasuk Islam - pun didudukkan sebagai budaya yang merupakan produk pemikiran manusia.

Berlainan sekali dengan orang yang menjadikan Islam sebagai kepemimpinan ideologi (qiyadah fikriyah) melihat bahawa dalam 'budaya' itu ada 2 hal berbeda. Pertama, Hadharah dan kedua madaniyah. Hadharah diberi makna sebagai kumpulan pemahaman tentang kehidupan, sementara madaniyah merupakan perkakasan fizikal berupa benda-benda hasil karya manusia yang digunakan dalam kehidupannya (Nizhamul Islam, hal. 59). Berdasarkan pengertian tadi, idea-idea, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan hukum-hukum serta adat istiadat termasuk ke dalam Hadharah. Sedangkan contoh madaniyah adalah seluruh peralatan fizikal dapat dilihat, dirasa, disentuh, dan dipergunakan, seperti kilang, bangunan pencakar langi, rumah, kereta, motorsikal, komputer, lampu, candi, masjid, gereja lukisan, kain batik, kancing baju, dll.

Hadharah akan berbeda-beda sesuai dengan aqidah dan hukum yang melahirkannya. Bila aqidah dan hukum yang melahirkan Hadharah tersebut adalah Islam maka Hadharah tersebut merupakan Hadharah Islam. Sebaliknya bila Hadharah itu lahir dari selain Islam maka Hadharahnya menjadi Hadharah bukan Islam, dan tentu saja bertentangan dengan Islam.

Dalam aspek keyakinan misalnya, pemahaman bahawa Allah adalah Zat yang memberi rizki, Maha Pemurah dan Maha Gagah yang dimanifestasikan dengan senantiasa memohon rizki kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya saja merupakan Hadharah Islam. Sementara, keyakinan bahawa ada kekuatan lain seperti Penunggu laut sehingga perlu pesta puja pantai supaya nelayan memperoleh rizki atau pesta menuai untuk memuja semangat padi, semuanya adalah hadharah kufur yang terkandung dalam budaya Timur.

Begitu juga pemikiran bahawa manusia perlu menutup aurat merupakan Hadharah Islam. Sebab ianya merupakan perintah Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31. Sementara, pemikiran bahawa manusia itu bebas bertingkah laku hingga wanita boleh berpakaian mini dalam kehidupan umum di tengah-tengah masyarakat, mengikuti trend yang mengundang berahi, berpakaian ketat dan tipis serta berlenggang-lengok semasa bernyanyi di hadapan umum adalah bukan Hadharah Islam. Manakala dalam bidang ekonomi, hukum-hakam dalam perekonomian tidak boleh mengambil riba merupakan Hadharah Islam kerana Allah SWT telah mengharamkannya. Nabi pun menjelaskan betapa besar dosa pelaku riba yang bahkan melebihi dosa seseorang yang berzina dengan ibu kandungnya! Sebaliknya, amalan riba telah menjadi budaya di tengah kehidupan sekarang merupakan Hadharah bukan Islam.

Contoh lain, dalam bidang pergaulan, Allah SWT melarang kaum muslimin mendekati zina (lihat QS. Al Isra 32) dan Nabi melarang seseorang berkhalwat (menyendiri) dengan wanita kecuali disertai mahramnya. Ini menunjukkan bahawa Hadharah Islam yang berkenaan dengan interaksi laki-laki dan perempuan ada peraturannya tersendiri. Jadi, hubungan laki-laki dengan perempuan sebelum menikah, budaya bergaul bebas dan bersekedudukan tanpa nikah adalah bukan Hadharah Islam. Dalam bidang kenegaraan pun demikian. Gagasan tentang paham kebangsaan (nasionalisme) bukan Hadharah Islam. Islam tidak mengenal paham seperti ini. Malah Rasulullah SAW bersabda :

"Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada 'ashabiyyah (nasionalisme / sukuisme), orang yang berperang karena 'ashabiyyah serta orang-orang yang mati karena 'ashabiyyah" (hari. Abu Dawud).
Walhasil, segala perkara yang menyangkut Hadharah hanya ada dua kemungkinannya, Islam atau bukan. Bila 'budaya' yang merupakan Hadharah tersebut berdasarkan aqidah Islam dan digali dari hukum-hukumnya maka itulah yang harus diambil. Sebaliknya, segala hal yang bertentangan dengan Islam dan atau lahir dari aqidah serta hukum bukan Islam, Allah SWT melarang kaum muslimin untuk mengambil maupun menerapkannya. Firman Allah SWT :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya dan dia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi.
Nabi SAW bersabda :

"Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami ini yang tidak ada dasar daripadanya maka itu tertolak" (hari. Bukhari dan Muslim).
Jadual I : Perbezaan antara Hadahrah Islam dan Barat

(hadharah Islam)

-Berdiri diatas landasan keimanan kepada Allah semata-mata (akidah islam)

-Matlamat kehidupan untuk mencapai kerehoaan Allah (melakukan apa yang disuruh & tinggal apa yang dilarang ).

-Kebahagiaan menurut islam adalah memperolehi keredhoan Allah.

-Perbuatan diukur sejajar dengan perintah Allah (halal & haram)

-Islam mengatur seluruh aspek kehidupan.(hubungan manusia dengan; Allah, manusia, individu)

(hadharah barat)

-Dibangunkan diatas dasar pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme)

-Kehidupan semata-mata untuk meraih manfaat atau maslahat.

-Kebahagiaan hakiki adalah memperolehi sebanyak mungkin kenikmatan dunia.

-Kayu ukur perbuatan adalah manfaat semata-mata

-Peranan pencipta/aspek agama hanya terbatas dalam lingkungan masjid sahaja.

-Contoh hadharah barat(kuffar) : "Demokrasi,HAM,Pluralisme,Liberalisme,Sekularisme dan sebagainya"

Berbeza dengan Hadharah, realiti madaniyah itu ada yang lahir dari Hadharah dan ada pula yang tidak lahir darinya melainkan lahir dari sains dan teknologi. Contoh madaniyah yang didasarkan pada Hadharah bukan Islam dan lahir darinya adalah lukisan makhluk bernyawa. Sebab Rasulnya melarangnya. Al Bukhari meriwayatkan bahawa Nabi saw. bersabda :

"Siapa saja yang membuat gambar (manusia atau hewan) maka Allah akan menyiksanya karena gambar tersebut di hari kiamat hingga ia meniupkan ruh ke dalamnya, padahal ia sama sekali tidak mampu melakukannya."
Begitu juga dengan kalung salib, pohon natal, simbol zionis, swastika, patung dan merupakan madaniyah yang lahir dari Hadharah bukan Islam.

Bentuk kebudayaan kebendaan atau madaniyah bila lahir dari Hadharah bukan Islam bererti tergolong bagian dari Hadharah tersebut. Dengan demikian, seorang mukmin yang benar-benar takut kepada Allah SWT tidak akan menggunakan ataupun menyebarkannya sebab Allah SWT melarang menerima-pakai sesuatu yang ianya bukan dari Hadharah Islam. Berbeza dengan itu, bentuk kebudayaan kebendaan yang lahir dari sains dan teknologi serta tidak terkait dengan Hadharah bukan Islam boleh diambil dari siapa saja tanpa lagi membedakan dari Barat mahupun Timur, penemunya Muslim atau bukan..Rasulullah SAW bersabda:

"Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian " (hari. Muslim)
Hadis ini memberikan kebebasan bagi manusia untuk mengembangkan ilmu sains, industri, dan teknologi moden dan apa saja yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan selama tidak bertentangan dengan syara'. Bahkan, Rasulullah SAW pernah mengirim dua orang sahabat iaitu 'Urwah Ibnu Mas'ud dan Ghailan Ibnu Maslamah ke kota Jarasy di Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata Dabbabah (pemecah pintu kota) setelah beliau mengetahui bahawa alat tersebut mampu digunakan untuk memecahkan benteng lawan (Ath Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, jilid III, hal. 132).

Berdasarkan penjelasan tadi dibolehkan umat Islam menerima-pakai alat teknologi seperti produk elektronik VCD, radio, TV, komputer, elektrik, telefon, motorsikal, kain, makanan, minuman halal, dan produk lainnya sekalipun berasal dari orang bukan Islam tanpa memandang tentang ideologi yang mereka anut. Yang pastinya tentu saja, penggunaan produk tersebut akan berbeza antara umat Islam yang berpegang teguh pada Hadharah Islam dengan mereka yang tidak.

(Madiniyyah Khas dan Madaniyyah Am)

Madiniyyah Khas:

-Dibangun berasaskan kepada hadharah atau kepercayaan
Contoh madaniah bukan islam; Patung sembahan, Gereja, kuil, pakaian paderi & sami, lukisan yang menghairahkan dan seangkatan dengannya.

-Orang islam tidak boleh melibatkan diri dalam madaniah yang berkait dengan hadharah bukan islam.

Madiniyyah Am:

a. Madaniah ini dilestarikan tidak    berpandukan kepada hadharah.
Contoh : peralatan teknologi dan infrastruktur/prasarana.
madaniah ini bersifat universal bukan hak milik umat tertentu. Contoh kesalahan : teknologi moden ini hak barat, jadi apa-apa hal kita tanya barat.


Khatimah

Dewasa ini umat Islam sedang dilanda perang kebudayaan. Berbagai serbuan budaya begitu deras, dan amat sulit sekali dibendung. Bila tidak diselesaikan maka generasi muslim pada masa akan datang mungkin tidak lagi mengenal ajaran Islam dan jauh dari budaya yang lahir dari Islam. Langkah jangka pendek adalah mempopularkan budaya yang lahir dari Islam menggantikan budaya hidup yang bertentangan dengan Islam. Namun, kebudayaan Islam akan terlaksana, terjaga, dan lestari dengan dilaksanakan seluruh syariat Islam. Sebab itu, perjuangan budaya hidup Islama adalah dalam skala individu dan ada beberpa jemaah memperjuangkannya dan dalam skala Negara pula kelihatannya hadharah Barat (sistem demokrasi) diterapkan, undang-undang diluluskan dengan kuasa majoriti, bukannya mengikut Islam. Berlainan sekali dengan sistem Khilafah yang akan melaksanakan hukum-hakam Islam sebagai budaya Islam dan melestarikannya. Wallahu muwaffiq ila aqwamit thariiq!.

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

shayuki

Menyertai: 05.12.2003
Ahli No: 5507
Posting: 164
Dari: Hira Shayuki

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 16:06


Assalamualaikum,

1. Banyak post yang portal_ukhwah tidak relevent dalam perbincangan.

2. Kalau boleh pendekan perbicaraan. Pasal kalau portal_ukhwah nak tahu, saya bersusah payah kena baca post awak. Dakwah kena mudah, bukannya campakkan fakta kemudian kasi kami fikir.

3. Apabila saya baca suku dari post awak, dah hilang minat. Panjang sangat. Kasi rumusan sudah lah.

Dan untuk demokrasi ni, awak tak jelaskan dengan lanjut. Kalau adapun sudah tengelam dalam post awak.

========================

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.

Kemudian ada konsep shura, peraturan yang dipinda mesti melalui Agong dan Majlis raja-raja. mereka ni yang tentukan sama ada peraturan ini elok tak elok. USA tak ada sistem ini.

Sistem Shura itu, harapnya portal_ukhwah boleh jeleskan lebih lanjut (tapi tak mahu copy paste) kasi rumusan supaya semua org kat sini boleh faham.

Terima Kasih,
Terima Kasih,

Bookmark and Share

    


  Member Information For shayukiProfil   Hantar PM kepada shayuki   Pergi ke shayuki's Website   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 17:04


Pada 30-10-06 16:06 , shayuki posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum,

1. Banyak post yang portal_ukhwah tidak relevent dalam perbincangan.

2. Kalau boleh pendekan perbicaraan. Pasal kalau portal_ukhwah nak tahu, saya bersusah payah kena baca post awak. Dakwah kena mudah, bukannya campakkan fakta kemudian kasi kami fikir.

3. Apabila saya baca suku dari post awak, dah hilang minat. Panjang sangat. Kasi rumusan sudah lah.

Dan untuk demokrasi ni, awak tak jelaskan dengan lanjut. Kalau adapun sudah tengelam dalam post awak.

========================

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.

Kemudian ada konsep shura, peraturan yang dipinda mesti melalui Agong dan Majlis raja-raja. mereka ni yang tentukan sama ada peraturan ini elok tak elok. USA tak ada sistem ini.

Sistem Shura itu, harapnya portal_ukhwah boleh jeleskan lebih lanjut (tapi tak mahu copy paste) kasi rumusan supaya semua org kat sini boleh faham.

Terima Kasih,
Terima Kasih,








1. Banyak post yang portal_ukhwah tidak relevent dalam perbincangan.

2. Kalau boleh pendekan perbicaraan. Pasal kalau portal_ukhwah nak tahu, saya bersusah payah kena baca post awak. Dakwah kena mudah, bukannya campakkan fakta kemudian kasi kami fikir.

3. Apabila saya baca suku dari post awak, dah hilang minat. Panjang sangat. Kasi rumusan sudah lah.

Dan untuk demokrasi ni, awak tak jelaskan dengan lanjut. Kalau adapun sudah tengelam dalam post awak.

========================

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.

Kemudian ada konsep shura, peraturan yang dipinda mesti melalui Agong dan Majlis raja-raja. mereka ni yang tentukan sama ada peraturan ini elok tak elok. USA tak ada sistem ini.

Sistem Shura itu, harapnya portal_ukhwah boleh jeleskan lebih lanjut (tapi tak mahu copy paste) kasi rumusan supaya semua org kat sini boleh faham.

Terima Kasih,
Terima Kasih,



Assalamualaikum,

Untuk pengetahuan saudara Sistem Demokrasi Demokrasi berasal dari bahasa Latin, demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan), dan merupakan suatu bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.Prinsip Demokrasi yang bertentangan dengan Islam aspek kedaulatannya iaitu kedaulatan milik rakyat yakni rakyat lah yang berhak untuk membuat,merubah dan menggubal undang-undang.Contohnya,kalau hukuman murtad diusulkan di Parlimen,mustahil akan diluluskan oleh perlembagaan Malaysiakerana memerlukan 2/3 suara majoriti.Dan sehingga hari ini pun undang-undang murtad tidak dikuatkuasakan di Malaysia.Bahkan yang timbul sebaliknya.Yakni adanya undang-undang yang membela orang-orang murtad.Wal’iya Zu Billahi Min Zaalik!

Dan di dalam akta perlembagaan kurungan 4 menyatakan : “Mana-mana undang-undang yang bercanggah dengan perlembagaan setelah merdeka,maka secara automatik terbatal.”

Di samping itu,juga adanya badan-badan yang membuat,merubah dan menggubal undang-undang.Seperti Legislatif,Yudikatif dan Eksekutif.

Kalau mengikut Islam,yang berhak untuk membuat aturan dan hokum hanyalah Allah swt.Sebagaimana firmannya : “…..Sesungguhnya yang berhak membuat hukum itu,hanyalah Allah swt.” (Surah Al-An'aam : 57)

Selain itu,demokrasi juga mengamalkan 4 kebebasan yang mana keempat-empat kebebasan tersebut bercanggah dengan syara'.Boleh rujuk dalam posting saya yang lepas.

4 kebebasan tersebut ialah :

1).Kebebasan beraqidah(Sesiapa saja yang ingin murtad akan dibela oleh perlembagaan Malaysia).Kan ini bercanggah dalam Islam.Di mana Islam meletakkan hukuman murtad adalah bunuh.

2).Kebebasan Bersuara(Sesiapa yang nak mencaci Nabi di jaga hak oleh perlembagaan Malaysia.Siapa pun tak berani ambil tindakan.Contohnya:kes Farsih Noor kutuk Nabi.)Dalam Islam,sesiapa yang mencaci maki Nabi,maka hukumannya dibunuh.

3).Kebebasan Hak Milik(Sesiapa saja nak memiliki harta,bebas memperolehinya dengan cara apa pun baik riba,mencuri dan merompak @ melalui pelaburan arak).Islam mengatur tetang kepemilikan baik itu pemilikan individu,umum mahupun negara.

4).Kebebasan Bertingkah Laku(Sesiapa saja bebas bergaul bebas antara laki dan wanita serta bebas bertingkah laku macam orang kafir,kerana perlembagaan Malaysia tak menghalangnya.)Dalam Islam,Islam mengatur tentang nizham ijtimaie(sistem pergaulan) antara masyarakat,baik lelaki mahupun perempuan.

Dan banyak lagi tentang konsep demokrasi yang bertentangan dengan Islam.Kalau saudara nakkan bukunya,diharap saudara boleh hubungi saya melalui email ini [email protected].
Insya-Allah saya akan send kan untuk saudara.

Lahirnya sistem demokrasi ini adalah dari aqidah sekularisme(pemisahan agama dari kehidupan).Aqidah sekularisme inilah akarnya yang melahirkan demokrasi dan kapitalisme.Sistem pemerintahan yang lahir dari aqidah sekularisme disebut sebagai sistem pemerintahan demokrasi,manakala dalam sistem ekonominya pula disebut sebagai sistem ekonomi kapitalis.

Sepatutnya saudara tahu membezakan antara hadharah dan madaniyah.Sekiranya,hadharah itu berasal dari hadharah barat,maka haram kita mengambilnya.
Contohnya: Demokrasi,Pluralisme,Sekularisme,Sosialisme,Komunisme,Liberalisme,Hak Asasi Manusia.

Dari segi madaniyah,terbahagi kepada 2:

1).    Madaniyah Am.Contohnya: Komputer,ilmu-ilmu yang bersifat universal yang tidak ada kaitan dengan kepercayaan sesuatu kaum.(Matematik,Biologi dan sebagainya).Hukumnya,boleh diambil.

2) .    Madaniyah Khas.Contohnya:Salib,Baju Sami Budha dan sebagainya.Hukumnya haram.

Berkenaan prinsip syura pula adalah sebagai berikut:

Keputusan Shura Boleh Digunakan Untuk Menggubal Undang-undang Hanya
Dalam Isu-isu Yang Dibenarkan(Mubah)

Mubah ditakrifkan sebagai kebenaran yang diberikan oleh Allah (SWT) berkenaan dengan perbuatan individu yang memberikan pilihan kepada beliau sama ada untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan itu. Imam al-Ghazali menerangkan bahawa ia diwujudkan sebagai kebenaran daripada Allah (SWT) yang membolehkan sesuatu perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan dalam diri atau berkaitan dengan manafaat atau kemudaratan yang boleh berlaku dalam dunia ini. Al-Mubah adalah salah satu daripada 5 hukum Syarak selain daripada
Wajib/Fardu, yang disunatkan (Mandub), yang tidak disukai (Maknih) dan yang tidak dibenarkan (Haram).

Shura tidak boleh mengubah perkara yang wajib menjadi hanya perkara yang dibenarkan sahaja. Contohnya Shura tidak boleh mengubah pembayaran zakat menjadi satu perkara yang boleh dipilih sama ada untuk dilakukan atau tidak. Abu Bakar yang dilantik menjadi Khalifah selepas wafatnya Rasulullah (SAW) telah membentuk sebuah pasukan tentera untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat kerana pembayaran zakat adalah perkara yang kekal wajib. Masyarakat juga tidak boleh menghalalkan perkara yang haram atau menjadikan
perkara _yang dikeji menjadi perkara yang disunatkan. Kehendak rakyat yang disuarakan melalui Shura boleh dijadikan undang-undang dalam isu-isu yang dibenarkan (mubah) selagi masyarakat melaksanakan sesuatu tindakan bersesuaian dengan undang-undang Allah (S buat).


Ingatlah,hukum Allah swt yang bersifat baku,maka tidak boleh dishurakan.

Yang dibolehkan untuk shura adalah dalam hal dan perkara-perkara yang mubah saja.Perkara yang jelas-jelas qathie yang datang melalui wahyu ilahi,maka tidak boleh dishurakan.

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

zulman

Menyertai: 22.12.2004
Ahli No: 13229
Posting: 2786
Dari: dunia ini hanya sementara

Perak   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 17:21


Pada 30-10-06 17:04 , portal_ukhwah posting:

!!! QUOTE !!!

Pada 30-10-06 16:06 , shayuki posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum,

1. Banyak post yang portal_ukhwah tidak relevent dalam perbincangan.

2. Kalau boleh pendekan perbicaraan. Pasal kalau portal_ukhwah nak tahu, saya bersusah payah kena baca post awak. Dakwah kena mudah, bukannya campakkan fakta kemudian kasi kami fikir.

3. Apabila saya baca suku dari post awak, dah hilang minat. Panjang sangat. Kasi rumusan sudah lah.

Dan untuk demokrasi ni, awak tak jelaskan dengan lanjut. Kalau adapun sudah tengelam dalam post awak.

========================

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.

Kemudian ada konsep shura, peraturan yang dipinda mesti melalui Agong dan Majlis raja-raja. mereka ni yang tentukan sama ada peraturan ini elok tak elok. USA tak ada sistem ini.

Sistem Shura itu, harapnya portal_ukhwah boleh jeleskan lebih lanjut (tapi tak mahu copy paste) kasi rumusan supaya semua org kat sini boleh faham.

Terima Kasih,
Terima Kasih,








1. Banyak post yang portal_ukhwah tidak relevent dalam perbincangan.

2. Kalau boleh pendekan perbicaraan. Pasal kalau portal_ukhwah nak tahu, saya bersusah payah kena baca post awak. Dakwah kena mudah, bukannya campakkan fakta kemudian kasi kami fikir.

3. Apabila saya baca suku dari post awak, dah hilang minat. Panjang sangat. Kasi rumusan sudah lah.

Dan untuk demokrasi ni, awak tak jelaskan dengan lanjut. Kalau adapun sudah tengelam dalam post awak.

========================

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.

Kemudian ada konsep shura, peraturan yang dipinda mesti melalui Agong dan Majlis raja-raja. mereka ni yang tentukan sama ada peraturan ini elok tak elok. USA tak ada sistem ini.

Sistem Shura itu, harapnya portal_ukhwah boleh jeleskan lebih lanjut (tapi tak mahu copy paste) kasi rumusan supaya semua org kat sini boleh faham.

Terima Kasih,
Terima Kasih,



Assalamualaikum,

Untuk pengetahuan saudara Sistem Demokrasi Demokrasi berasal dari bahasa Latin, demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan), dan merupakan suatu bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.Prinsip Demokrasi yang bertentangan dengan Islam aspek kedaulatannya iaitu kedaulatan milik rakyat yakni rakyat lah yang berhak untuk membuat,merubah dan menggubal undang-undang.Contohnya,kalau hukuman murtad diusulkan di Parlimen,mustahil akan diluluskan oleh perlembagaan Malaysiakerana memerlukan 2/3 suara majoriti.Dan sehingga hari ini pun undang-undang murtad tidak dikuatkuasakan di Malaysia.Bahkan yang timbul sebaliknya.Yakni adanya undang-undang yang membela orang-orang murtad.Wal’iya Zu Billahi Min Zaalik!

Dan di dalam akta perlembagaan kurungan 4 menyatakan : “Mana-mana undang-undang yang bercanggah dengan perlembagaan setelah merdeka,maka secara automatik terbatal.”

Di samping itu,juga adanya badan-badan yang membuat,merubah dan menggubal undang-undang.Seperti Legislatif,Yudikatif dan Eksekutif.

Kalau mengikut Islam,yang berhak untuk membuat aturan dan hokum hanyalah Allah swt.Sebagaimana firmannya : “…..Sesungguhnya yang berhak membuat hukum itu,hanyalah Allah swt.” (Surah Al-An'aam : 57)

Selain itu,demokrasi juga mengamalkan 4 kebebasan yang mana keempat-empat kebebasan tersebut bercanggah dengan syara'.Boleh rujuk dalam posting saya yang lepas.

4 kebebasan tersebut ialah :

1).Kebebasan beraqidah(Sesiapa saja yang ingin murtad akan dibela oleh perlembagaan Malaysia).Kan ini bercanggah dalam Islam.Di mana Islam meletakkan hukuman murtad adalah bunuh.

2).Kebebasan Bersuara(Sesiapa yang nak mencaci Nabi di jaga hak oleh perlembagaan Malaysia.Siapa pun tak berani ambil tindakan.Contohnya:kes Farsih Noor kutuk Nabi.)Dalam Islam,sesiapa yang mencaci maki Nabi,maka hukumannya dibunuh.

3).Kebebasan Hak Milik(Sesiapa saja nak memiliki harta,bebas memperolehinya dengan cara apa pun baik riba,mencuri dan merompak @ melalui pelaburan arak).Islam mengatur tetang kepemilikan baik itu pemilikan individu,umum mahupun negara.

4).Kebebasan Bertingkah Laku(Sesiapa saja bebas bergaul bebas antara laki dan wanita serta bebas bertingkah laku macam orang kafir,kerana perlembagaan Malaysia tak menghalangnya.)Dalam Islam,Islam mengatur tentang nizham ijtimaie(sistem pergaulan) antara masyarakat,baik lelaki mahupun perempuan.

Dan banyak lagi tentang konsep demokrasi yang bertentangan dengan Islam.Kalau saudara nakkan bukunya,diharap saudara boleh hubungi saya melalui email ini [email protected].
Insya-Allah saya akan send kan untuk saudara.

Lahirnya sistem demokrasi ini adalah dari aqidah sekularisme(pemisahan agama dari kehidupan).Aqidah sekularisme inilah akarnya yang melahirkan demokrasi dan kapitalisme.Sistem pemerintahan yang lahir dari aqidah sekularisme disebut sebagai sistem pemerintahan demokrasi,manakala dalam sistem ekonominya pula disebut sebagai sistem ekonomi kapitalis.

Sepatutnya saudara tahu membezakan antara hadharah dan madaniyah.Sekiranya,hadharah itu berasal dari hadharah barat,maka haram kita mengambilnya.
Contohnya: Demokrasi,Pluralisme,Sekularisme,Sosialisme,Komunisme,Liberalisme,Hak Asasi Manusia.

Dari segi madaniyah,terbahagi kepada 2:

1).    Madaniyah Am.Contohnya: Komputer,ilmu-ilmu yang bersifat universal yang tidak ada kaitan dengan kepercayaan sesuatu kaum.(Matematik,Biologi dan sebagainya).Hukumnya,boleh diambil.

2) .    Madaniyah Khas.Contohnya:Salib,Baju Sami Budha dan sebagainya.Hukumnya haram.

Berkenaan prinsip syura pula adalah sebagai berikut:

Keputusan Shura Boleh Digunakan Untuk Menggubal Undang-undang Hanya
Dalam Isu-isu Yang Dibenarkan(Mubah)

Mubah ditakrifkan sebagai kebenaran yang diberikan oleh Allah (SWT) berkenaan dengan perbuatan individu yang memberikan pilihan kepada beliau sama ada untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan itu. Imam al-Ghazali menerangkan bahawa ia diwujudkan sebagai kebenaran daripada Allah (SWT) yang membolehkan sesuatu perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan dalam diri atau berkaitan dengan manafaat atau kemudaratan yang boleh berlaku dalam dunia ini. Al-Mubah adalah salah satu daripada 5 hukum Syarak selain daripada
Wajib/Fardu, yang disunatkan (Mandub), yang tidak disukai (Maknih) dan yang tidak dibenarkan (Haram).

Shura tidak boleh mengubah perkara yang wajib menjadi hanya perkara yang dibenarkan sahaja. Contohnya Shura tidak boleh mengubah pembayaran zakat menjadi satu perkara yang boleh dipilih sama ada untuk dilakukan atau tidak. Abu Bakar yang dilantik menjadi Khalifah selepas wafatnya Rasulullah (SAW) telah membentuk sebuah pasukan tentera untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat kerana pembayaran zakat adalah perkara yang kekal wajib. Masyarakat juga tidak boleh menghalalkan perkara yang haram atau menjadikan
perkara _yang dikeji menjadi perkara yang disunatkan. Kehendak rakyat yang disuarakan melalui Shura boleh dijadikan undang-undang dalam isu-isu yang dibenarkan (mubah) selagi masyarakat melaksanakan sesuatu tindakan bersesuaian dengan undang-undang Allah (S buat).


Ingatlah,hukum Allah swt yang bersifat baku,maka tidak boleh dishurakan.

Yang dibolehkan untuk shura adalah dalam hal dan perkara-perkara yang mubah saja.Perkara yang jelas-jelas qathie yang datang melalui wahyu ilahi,maka tidak boleh dishurakan.



Assalamualaikum,
sekadar nak bertanya,
adakah konsep syura itu merupakan satu bentuk ala demokrasi, maksud ana, konsep membuat keputusan didalam syura itu sendiri, cuma umat didalamnya merupakan golongan pakar dan tertakluk dengan garis panduan syarak itu sendiri. Dan didalam syura semestinya ada pro dan kontra, tetapi keputusan dibuat secara bersama dan semuanya kena berbaiat dengan keputusan yang dikeluarkan.Adakah ini salah satu bentuk demokrasi...dan kalau benar, pastinya berbeza dengan demokrasi ala barat .

Bookmark and Share

    


  Member Information For zulmanProfil   Hantar PM kepada zulman   Quote dan BalasQuote

aye
WARGA SETIA
Menyertai: 03.04.2006
Ahli No: 23921
Posting: 2913
Dari: semerak

Kelantan   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 17:22


Ana faham.....portal_ukhwah berfikrah HT... so memang tak dinafkanlah anti anti demokrasi.....
Cuma ana nak tau, dan berikan pada ana dalil2 khatie yang mgatakan islam menolok demokrasi...
Syukran..

Bookmark and Share

    


  Member Information For ayeProfil   Hantar PM kepada aye   Pergi ke aye's Website   Quote dan BalasQuote

shayuki

Menyertai: 05.12.2003
Ahli No: 5507
Posting: 164
Dari: Hira Shayuki

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 17:23


Assalamualaikum,

Kalau ada baca post saya dengan teliti saya ada cakap :

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.


Jika demokrasi dah berlandaskan Islam maka insyaAllah masalah boleh selesai.

Kalau demokrasi dijalankan dalam framework syariah, Yusuf Qardawi pun cakap tak mengapa.

Isu-Isu yang tetap memang duduk bawah syariah. Tapi peraturan baru seperti peraturan jalan raya, pelajaran, export import, semuanya kena ikut prosedure demokrasi. Peraturan yang digubal melalui perbincangan. Tapi kalau terlanggar syariah maka terbatal peraturan itu.

Yang menjadi sukar kerana orang yang bukan Islam pun banyak kat sini. Maka kita tak boleh pakai PERKATAAN SHURA. Lebih baik pakai PERKATAAN DEMOKRASI. Tukar nama, tapi konsep shura. Kasi sedap sikit orang bukan Islam nak terima.

Kita pun pasti tak mahu terima sesuatu ideology kalau namanya pelik pelik. kami akan biasa kalau theory itu namanya dalam bahasa arab.

Yang penting konsep.

Kan lebih elok begini :
Orang bukan Islam terima pakai sistem demokrasi berlandaskan Islam walhal mereka tak sedar pun ikut ajaran Islam. Lama kelamaan bila mereka sedar, insyaAllah mereka boleh terima perkataan shura.

Daripada :
Kita cakap demokrasi itu haram, itu haram. Terus nak implikasikan Shura. Orang bukan Islam tak dapat nak biasakan diri lantas terus buat persatuan anti-Islam.

Nak pujuk orang ke Islam kena cara hikmah.

Terima Kasih,

Bookmark and Share

    


  Member Information For shayukiProfil   Hantar PM kepada shayuki   Pergi ke shayuki's Website   Quote dan BalasQuote

samudra
WARGA SETIA
Menyertai: 06.12.2005
Ahli No: 20847
Posting: 721
Dari: Tanah Melayu

stkitts_nevis   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 18:09


" demokrasi sistem yang penuh dengan kebohongan" --mao tse tung

Bookmark and Share

    


  Member Information For samudraProfil   Hantar PM kepada samudra   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 18:25


Pada 30-10-06 17:23 , shayuki posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum,

Kalau ada baca post saya dengan teliti saya ada cakap :

Bagi saya demokrasi itu elok jika berlandaskan agama. Pasal, demokrasi ini meminta pendapatan orang melalui parlimen. Rakyat juga boleh memilih siapa yang jadi pemimpin.


Jika demokrasi dah berlandaskan Islam maka insyaAllah masalah boleh selesai.

Kalau demokrasi dijalankan dalam framework syariah, Yusuf Qardawi pun cakap tak mengapa.



Terima Kasih,



Assalamualaikum,

Wahai saudara,kalau benda tu dah bercanggah dengan Islam,maka tidak akan berhasil juga,kalau menggunakannya.

Realiti dah membuktikannya.Cuba saudara tengok Parti Refah di Turki yang memperjuangkan Islam melalui sistem demokrasi,walaupun dah berjaya meraih kemenangan undi,tetapi tidak berjaya juga menrapkan Islam,bahkan yang jadi sebaliknya.Tentera pula yang ambil kekuasaan dan mengisytiharkan darurat.

Begitu juga, parti FIS di Al-Jazair yang telah memenangi undi secara majoriti,tapi tak boleh nak terap Islam juga.Begitu lah sistem demokrasi yang penuh penipuan.Kalau kita tahu demokrasi itu penuh penipuan,buat apalah kita nak ambil dan gunapakai nya lagi kan.Tokoh FIS al-Jazair(Ali Belhaj) sendiri pun telah mengarang kitab yang bertajuk dalil-dalil kewajipan menegakkan kembali Khilafah.

Contohnya,macam saudara pergi ke kedai ahmad,membeli gula di kedainya,tapi ahmad telah menipu saudara dengan menjual gula sekilo RM5.Tetapi saudara masih pergi lagi ke kedai Ahmad tersebut untuk membeli gula.

Dah tahu kena tipu,pergi saja kedai lain.Kan senang.

Ingatlah akan sabda Nabi saw : "Hendaklah seorang mukmin itu tidak terperosok ke satu lubang 2 kali." (Hadis Riwayat Ahmad,Bukhari,Muslim,Abu Daud,Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Kalau perjuangan kita bercampur aduk antara yang haq dan yang batil,macam mana perjuangan tersebut nak raih kemenangan dan keredhaan Allah swt.

Firman Allah swt : "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dan yang batil,dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran,walhal kamu mengetahuinya." (Surah Al-Baqarah : 42 )

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

zulman

Menyertai: 22.12.2004
Ahli No: 13229
Posting: 2786
Dari: dunia ini hanya sementara

Perak   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 18:45


Assalamualaikum

sekadar nak beri pendapat melalui tulisan ini

Malaysia Demokrasi Islam? part 1

Oleh: Mohd Rumaizuddin Ghazali

Takrif Demokrasi



Para ilmuwan Muslim membahaskan masalah ini dengan panjang lebar. Ada berpendapat menyatakan Islam tiada sama dengan demokrasi, ada juga yang berpendapat ia adalah sama dengan demokrasi. Ada berpendapat, di sana ada persamaan dan juga perbezaan.Fahmi Huwaidi dalam bukunya al-Islam wa al-Dimuqratiyah menjelaskan bahawa dua keadaan yang menjadi kesalahan besar kepada Islam iaitu ketika seseorang yang menyatakan Islam sama dengan demokrasi dan ketika ia menyatakan Islam menentang demokrasi. Sesungguhnya perkara ini memerlukan kepada kebebasan dan penjelasan yang mendalam.

Dr. Dyiauddin al-Ris dalam bukunya yang bertajuk Nazariah al-Siyasah al-Islamiah menyebut:

i. Kalimat “bangsa” atau “rakyat” dalam sistem demokrasi hanya terhad dalam rakyat negara tërsebut atau dikenali sebagai “Nasionalisme”.. Bangsa tersebut dibatasi oleh sempadan geografi, yang hidup dalam satu iklim di mana individu-individu di dalamnya terikat oleh ikatan darah, jenis, bahasa dan kebudayaan. Menurut Islam, “umat” tidak harus terikat oleh sesuatu tempat, darah atau bahasa tetapi terikat dalam bentuk akidah..

ii. Matlamatnya adalah untuk material semata-mata manakala Islam meliputi kerohanian dan kebendaan dengan memberi semua keperluan tersebut secara seimbang.

Menurut demokrasi Barat, kekuasaan rakyat adalah secara mutlak. Umat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Umat boleh membuat dan membatalkan undang-undang dan segala keputusan meskipun keputusan itu bertentangan dengan norma-norma susila atau bertentangan dengan kepentingan manusia secara keseluruhan. Perkara ini berbeza dengan Islam yang mana kekuasaan itu tertakluk kcpada undang-undang Islam.Umat tidak boleh bertindak melebihi batas-batas yang ditetapkan dalam ajaran Islam.

Beliau juga menjelaskan bahawa Islam tidak dapat disamakan dengan sistem-sistem yang lain sama ada faham autokrasi, teokrasi dan demokrasi dengan pengertian yang sempit. Ini disebabkan kekuasaan tertinggi dalam Islam sangat utuh dan mantap yang berpadu kepada umat dan syariat Islam. Oleh itu, umat dan syariat merupakan pemegang kekuasaan penuh dalam negara Islam.

Meskipun demokrasi Barat memiliki kelebihan-kelebihan, tetapi ia tidak memiliki sebarang prinsip yang membatasinya atau nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupannya seperti kebebasan mutlak, digunakan untuk membela kepentingan sesetengah kelompok yang kuat dan meruntuhkan nilai-nilai murni termasuk nilai-nilai murni demokrasi itu sendiri. Apabila perkara ini terjadi, maka sistem demokrasi yang digambarkan sebagai terbaik menjadi lebih kejam daripada kediktatoran.

Demokrasi ialah kesepakatan rakyat untuk memilih sebahagian orang yang akan memerintah dan mengatur urusan mereka.Dengan cara itu rakyat terhindar daripada memilih seorang pemimpin yang tidak mereka kehendaki dan dari sistem yang menindas mereka. Demokrasi boleh difahami sebagai satu sistem yang mempunyai undang-undang berprosedur yang mengkhususkan siapa yang berwibawa untuk membuat sesuatu keputusan secara kolektif dan melalui prosedur apakah yang harus digunakan untuk membut keputusan.Demokrasi mengandungi prosedur-prosedur demi untuk mencapai keputusan secara kolektif dalam suasana menjamin penyertaan secara maksima yang boleh tercapai bagi mereka yang berkepentingan,termasuklah kepentingan ini ialah :

i. kepentingan hak untuk samarata

ii. kepentingan golongan majoriti yang memerintah dan jaminan kepada hak minoriti. Ini adalah untuk memastikan keputusan kolektif dipersetujui oleh sebilangan suara yang secukupnya untuk membuat keputusan tersebut.

iii. Prinsip undang-undang

iv. Jaminan berpelembagaan untuk kebebasan berkumpul dan luahan pendapat dan hak-hak kebebasan lain-lain yang akan membantu menjamin siapa yang akan membuat keputusan atau dipilih untuk buat keputusan supaya boleh memilih dari pilihan-pilihan yang terbaik.

Demokrasi sebenarnya cara atau metode bagi menghalang sokongan yang memerintah untuk terus menerus menyesuaikan kuasa yang ada padanya untuk kepentingan matlamatnya sahaja. Atau dengan kata yang berbeza sedikit, politik demokrasi moden ialah pemerintah di mana pemerintah dipertanggungjawabkan dalam tindakan mereka dihadapan orang awam dari rakyat jelata yang bertindak secara tidak langsung melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih dalam satu suasana persaingan dan permuafakatan.

Bagi pemikir-pemikir politik Islam yang utama, definisi sedemikian yang difahami dari demokrasi adalah amat sesuai dengan nilai-nilai syura yang diamalkan dalam ajaran Islam. Walaupun demikian ada di kalangan pemikir Islam menganggap dengan penuh keyakinan demokrasi tidak sesuai dengan Islam. Demokrasi juga bermaksud kuasa politik dan segala hak politik diserahkan kepada rakyat. Demokrasi juga bukan sahaja bentuk kerajaan tetapi juga satu bentuk masyarakat. Namun ada sebahagian pemikir Islam mendesak supaya umat Islam tidak berfikir secara dikatomi demokrasi mahupun diktator sahaja tanpa melihat elemen-elemen Islam seperti syura, keadilan, persamaan yang lebih lengkap dan mantap sifatnya dalam ajaran Islam.

Kategori Penerimaan dan Penolakan terhadap Demokrasi

Dalam hal tersebut, terdapat tiga aliran pendapat mengenai demokrasi iaitu :

1. Golongan menolak demokrasi secara mutlak iaitu menanggapnya sebagai satu peraturan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Antara pendukung pendapat ini ialah Taqiyuddin al-Nabhani, Pengasas Hizbul Tahrir al-Islami dalam bukunya Nizam al-Hukm fi al-Islam, 1989 yang menyebutkan bahawa demokrasi adalah bertentangan dengan akidah Islamiah. Mereka mendakwa bahawa tidak ada apa-apa dalam tradisi Islam yang serasi dengan kerajaan berperlembagaan dan perwakilan. Demokrasi juga merupakan legasi imperialis Barat.

2. Golongan yang bersetuju dengan demokrasi secara mutlak. Antara golongan ini ialah Syeikh Muhammad Husein dalam artikelnya Tanbih al-Ummah wa Tanziyah al-Millah yang menyeru berpegang kepada demokrasi sebagai satu wasilah untuk menumbangkan diktator. Menurutnya, diktator terbahagi kepada dua iaitu diktator politik dan diktator agama dan diktator agama adalah yang paling sukar dihapuskan.

3. Golongan ini tidak menerima atau menolak secara mutlak.Mereka membezakan demokrasi sebagai alat dengan demokrasi sebagai satu bentuk pegangan. Golongan ini semakin mendapat tempat di kalangan umat Islam sekarang ini. Termasuk dalam golongan ini seperti Muhammad Khatami, Presiden Iran, Muhmmad Mahdi Syamsuddin, seorang ulamak syiah, Yusuf al-Qaradhawi, Rashid al-Ghannoushi., Taufiq al-Shawi dan Hassan al-Turabi. Pendokong demokrasi Islamik menekankan konsep-konsep syura, bye’ah, permuafakatan, ijtihad dan maslahah untuk menunjukkan bahawa Islam tidak berkurangan dalam landasan-landasan asas yang secocok dengan tatacara dan matlamat demokrasi.

Al-Afghani, Abduh dan Rashid Rida menyatakan antara faktor kemunduran umat Islam ialah wujudnya pemimpin politik yag jahat.Pemerintahan yang kejam menyebabkan umat Islam lupa terhadap perkara perundingan dan kesatuan.


Akan bersambung ...baca yang ini dulu InsyaAllah

Bookmark and Share

    


  Member Information For zulmanProfil   Hantar PM kepada zulman   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 18:55


Pada 30-10-06 17:22 , aye posting:

!!! QUOTE !!!

Ana faham.....portal_ukhwah berfikrah HT... so memang tak dinafkanlah anti anti demokrasi.....
Cuma ana nak tau, dan berikan pada ana dalil2 khatie yang mgatakan islam menolok demokrasi...
Syukran..


Sebelum saya menjawab pertanyaan saudara,boleh tak saudara kemukakan kepada saya dalil qathie yang melarang kita menggunakan tanda salib?????

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:07


Pada 30-10-06 18:45 , zulman posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum

sekadar nak beri pendapat melalui tulisan ini

Malaysia Demokrasi Islam? part 1

Oleh: Mohd Rumaizuddin Ghazali

Takrif Demokrasi



Para ilmuwan Muslim membahaskan masalah ini dengan panjang lebar. Ada berpendapat menyatakan Islam tiada sama dengan demokrasi, ada juga yang berpendapat ia adalah sama dengan demokrasi. Ada berpendapat, di sana ada persamaan dan juga perbezaan.Fahmi Huwaidi dalam bukunya al-Islam wa al-Dimuqratiyah menjelaskan bahawa dua keadaan yang menjadi kesalahan besar kepada Islam iaitu ketika seseorang yang menyatakan Islam sama dengan demokrasi dan ketika ia menyatakan Islam menentang demokrasi. Sesungguhnya perkara ini memerlukan kepada kebebasan dan penjelasan yang mendalam.

Dr. Dyiauddin al-Ris dalam bukunya yang bertajuk Nazariah al-Siyasah al-Islamiah menyebut:

i. Kalimat “bangsa” atau “rakyat” dalam sistem demokrasi hanya terhad dalam rakyat negara tërsebut atau dikenali sebagai “Nasionalisme”.. Bangsa tersebut dibatasi oleh sempadan geografi, yang hidup dalam satu iklim di mana individu-individu di dalamnya terikat oleh ikatan darah, jenis, bahasa dan kebudayaan. Menurut Islam, “umat” tidak harus terikat oleh sesuatu tempat, darah atau bahasa tetapi terikat dalam bentuk akidah..

ii. Matlamatnya adalah untuk material semata-mata manakala Islam meliputi kerohanian dan kebendaan dengan memberi semua keperluan tersebut secara seimbang.

Menurut demokrasi Barat, kekuasaan rakyat adalah secara mutlak. Umat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Umat boleh membuat dan membatalkan undang-undang dan segala keputusan meskipun keputusan itu bertentangan dengan norma-norma susila atau bertentangan dengan kepentingan manusia secara keseluruhan. Perkara ini berbeza dengan Islam yang mana kekuasaan itu tertakluk kcpada undang-undang Islam.Umat tidak boleh bertindak melebihi batas-batas yang ditetapkan dalam ajaran Islam.

Beliau juga menjelaskan bahawa Islam tidak dapat disamakan dengan sistem-sistem yang lain sama ada faham autokrasi, teokrasi dan demokrasi dengan pengertian yang sempit. Ini disebabkan kekuasaan tertinggi dalam Islam sangat utuh dan mantap yang berpadu kepada umat dan syariat Islam. Oleh itu, umat dan syariat merupakan pemegang kekuasaan penuh dalam negara Islam.

Meskipun demokrasi Barat memiliki kelebihan-kelebihan, tetapi ia tidak memiliki sebarang prinsip yang membatasinya atau nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupannya seperti kebebasan mutlak, digunakan untuk membela kepentingan sesetengah kelompok yang kuat dan meruntuhkan nilai-nilai murni termasuk nilai-nilai murni demokrasi itu sendiri. Apabila perkara ini terjadi, maka sistem demokrasi yang digambarkan sebagai terbaik menjadi lebih kejam daripada kediktatoran.

Demokrasi ialah kesepakatan rakyat untuk memilih sebahagian orang yang akan memerintah dan mengatur urusan mereka.Dengan cara itu rakyat terhindar daripada memilih seorang pemimpin yang tidak mereka kehendaki dan dari sistem yang menindas mereka. Demokrasi boleh difahami sebagai satu sistem yang mempunyai undang-undang berprosedur yang mengkhususkan siapa yang berwibawa untuk membuat sesuatu keputusan secara kolektif dan melalui prosedur apakah yang harus digunakan untuk membut keputusan.Demokrasi mengandungi prosedur-prosedur demi untuk mencapai keputusan secara kolektif dalam suasana menjamin penyertaan secara maksima yang boleh tercapai bagi mereka yang berkepentingan,termasuklah kepentingan ini ialah :

i. kepentingan hak untuk samarata

ii. kepentingan golongan majoriti yang memerintah dan jaminan kepada hak minoriti. Ini adalah untuk memastikan keputusan kolektif dipersetujui oleh sebilangan suara yang secukupnya untuk membuat keputusan tersebut.

iii. Prinsip undang-undang

iv. Jaminan berpelembagaan untuk kebebasan berkumpul dan luahan pendapat dan hak-hak kebebasan lain-lain yang akan membantu menjamin siapa yang akan membuat keputusan atau dipilih untuk buat keputusan supaya boleh memilih dari pilihan-pilihan yang terbaik.

Demokrasi sebenarnya cara atau metode bagi menghalang sokongan yang memerintah untuk terus menerus menyesuaikan kuasa yang ada padanya untuk kepentingan matlamatnya sahaja. Atau dengan kata yang berbeza sedikit, politik demokrasi moden ialah pemerintah di mana pemerintah dipertanggungjawabkan dalam tindakan mereka dihadapan orang awam dari rakyat jelata yang bertindak secara tidak langsung melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih dalam satu suasana persaingan dan permuafakatan.

Bagi pemikir-pemikir politik Islam yang utama, definisi sedemikian yang difahami dari demokrasi adalah amat sesuai dengan nilai-nilai syura yang diamalkan dalam ajaran Islam. Walaupun demikian ada di kalangan pemikir Islam menganggap dengan penuh keyakinan demokrasi tidak sesuai dengan Islam. Demokrasi juga bermaksud kuasa politik dan segala hak politik diserahkan kepada rakyat. Demokrasi juga bukan sahaja bentuk kerajaan tetapi juga satu bentuk masyarakat. Namun ada sebahagian pemikir Islam mendesak supaya umat Islam tidak berfikir secara dikatomi demokrasi mahupun diktator sahaja tanpa melihat elemen-elemen Islam seperti syura, keadilan, persamaan yang lebih lengkap dan mantap sifatnya dalam ajaran Islam.

Kategori Penerimaan dan Penolakan terhadap Demokrasi

Dalam hal tersebut, terdapat tiga aliran pendapat mengenai demokrasi iaitu :

1. Golongan menolak demokrasi secara mutlak iaitu menanggapnya sebagai satu peraturan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Antara pendukung pendapat ini ialah Taqiyuddin al-Nabhani, Pengasas Hizbul Tahrir al-Islami dalam bukunya Nizam al-Hukm fi al-Islam, 1989 yang menyebutkan bahawa demokrasi adalah bertentangan dengan akidah Islamiah. Mereka mendakwa bahawa tidak ada apa-apa dalam tradisi Islam yang serasi dengan kerajaan berperlembagaan dan perwakilan. Demokrasi juga merupakan legasi imperialis Barat.

2. Golongan yang bersetuju dengan demokrasi secara mutlak. Antara golongan ini ialah Syeikh Muhammad Husein dalam artikelnya Tanbih al-Ummah wa Tanziyah al-Millah yang menyeru berpegang kepada demokrasi sebagai satu wasilah untuk menumbangkan diktator. Menurutnya, diktator terbahagi kepada dua iaitu diktator politik dan diktator agama dan diktator agama adalah yang paling sukar dihapuskan.

3. Golongan ini tidak menerima atau menolak secara mutlak.Mereka membezakan demokrasi sebagai alat dengan demokrasi sebagai satu bentuk pegangan. Golongan ini semakin mendapat tempat di kalangan umat Islam sekarang ini. Termasuk dalam golongan ini seperti Muhammad Khatami, Presiden Iran, Muhmmad Mahdi Syamsuddin, seorang ulamak syiah, Yusuf al-Qaradhawi, Rashid al-Ghannoushi., Taufiq al-Shawi dan Hassan al-Turabi. Pendokong demokrasi Islamik menekankan konsep-konsep syura, bye’ah, permuafakatan, ijtihad dan maslahah untuk menunjukkan bahawa Islam tidak berkurangan dalam landasan-landasan asas yang secocok dengan tatacara dan matlamat demokrasi.

Al-Afghani, Abduh dan Rashid Rida menyatakan antara faktor kemunduran umat Islam ialah wujudnya pemimpin politik yag jahat.Pemerintahan yang kejam menyebabkan umat Islam lupa terhadap perkara perundingan dan kesatuan.


Akan bersambung ...baca yang ini dulu InsyaAllah




assalamualaikum 'ALAYKUM

INSYA-ALLAH,CUBA INI PULA.




A B di U L    Q A di I M    Z A L L U M




DEMOKRASI :
SISTEM KUFUR



HARAM
Mengambilnya,
Menerapkannya,
dan
Menyebarluaskannya





عبد القَديم زَلّوم


الدّيمُقراطيةُ نظام كُفْرٍ
يَحْرُمُ
أخذها أو تطبيقهـا أو الدّعوة إليهـا


من مَنشورات حزب التحرير






ABDUL QADIM ZALLUM



DEMOKRASI :
SISTEM KUFUR



HARAM
Mengambilnya,
Menerapkannya,
dan
Menyebarluaskannya





عبد القَديم زَلّوم


الدّيمُقراطيةُ نظام كُفْرٍ
يَحْرُمُ
أخذها أو تطبيقهـا أو الدّعوة إليهـا


من مَنشورات حزب التحرير







Judul Asli     :    الديمقراطية نظام كفرٍ،
         يحرم أخذها أو تطبيقها أو الدعوة إليها

Pengarang    :    Abdul Qadim Zallum
        Dikeluarkan dan disebarluaskan oleh HIZBUT TAHRIR

Penerjemah    :    Muhammad Shiddiq Al Jawi
Penyunting    :    A.R. Nasser
Penata Letak    :    Abu Azka



بِســمِ اللهِ الرَّحمَن الرَّحيم


Demokrasi yang telah dijajakan negara Barat kafir ke negeri-negeri Islam, sesungguhnya adalah sistem kufur. Ia tidak punya hubungan sama sekali dengan Islam, baik langsung maupun tidak langsung. Demokrasi sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam dalam garis besar maupun rinciannya, dalam sumber kemunculannya, aqidah yang melahirkannya atau asas yang mendasarinya, serta berbagai ide dan peraturan yang dibawanya.
    Karena itu, kaum muslimin diharamkan secara mutlak mengambil, menerapkan dan menyebarluaskan demokrasi.
    Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang dibuat manusia, dengan tujuan untuk membebaskan diri dari kezhaliman dan penindasan para penguasa terhadap manusia atas nama agama. Demokrasi adalah suatu sistem yang bersumber dari manusia. Tidak ada hubungannya dengan wahyu atau agama.
    Kelahiran demokrasi bermula dari adanya para penguasa di Eropa yang beranggapan bahwa penguasa adalah Wakil Tuhan di bumi dan berhak memerintah rakyat berdasarkan kekuasaan Tuhan. Mereka beranggapan bahwa Tuhan telah memberi mereka kewenangan membuat hukum dan menerapkannya. Dengan kata lain, penguasa dianggap memiliki kewenangan memerintah rakyat dengan peraturan yang dibuat penguasa itu sendiri, karena mereka telah mengambil kekuasaannya dari Tuhan, bukan dari rakyat. Lantaran hal itu, mereka menzhalimi dan menguasai rakyat —sebagaimana pemilik budak menguasai budaknya— berdasarkan anggapan tersebut.
    Lalu timbullah pergolakan antara para penguasa Eropa dengan rakyatnya. Para filosof dan pemikir mulai membahas masalah pemerintahan dan menyusun konsep sistem pemerintahan rakyat —yaitu sistem demokrasi— di mana rakyat menjadi sumber kekuasaan dalam sistem tersebut. Penguasa mengambil sumber kekuasaannya dari rakyat yang menjadi pemilik kedaulatan. Rakyat dikatakan memiliki kehendaknya, melaksanakan sendiri kehendaknya itu, dan menjalankannya sesuai sesuai keinginannya. Tidak ada satu kekuasaan pun yang menguasai rakyat, karena rakyat ibarat pemilik budak, yang berhak membuat peraturan yang akan mereka terapkan, serta menjalankannya sesuai dengan keinginannya. Rakyat berhak pula mengangkat penguasa untuk memerintah rakyat —karena posisinya sebagai wakil rakyat— dengan peraturan yang dibuat oleh rakyat.
    Karena itu, sumber kemunculan sistem demokrasi seluruhnya adalah manusia, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan wahyu atau agama.
    Demokrasi merupakan lafal dan istilah Barat yang digunakan untuk menunjukkan pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Rakyat dianggap penguasa mutlak dan pemilik kedaulatan, yang berhak mengatur urusannya sendiri, serta melaksanakan dan menjalankan kehendaknya sendiri. Rakyat tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan siapapun, selain kekuasaan rakyat. Rakyat berhak membuat peraturan dan undang-undang sendiri —karena mereka adalah pemilik kedaulatan— melalui para wakil rakyat yang mereka pilih. Rakyat berhak pula menerapkan peraturan dan undang-undang yang telah mereka buat, melalui para penguasa dan hakim yang mereka pilih dan keduanya mengambil alih kekuasaan dari rakyat, karena rakyat adalah sumber kekuasaan. Setiap individu rakyat —sebagaimana individu lainnya— berhak menyelenggarakan negara, mengangkat penguasa, serta membuat peraturan dan undang-undang.
    Menurut konsep dasar demokrasi —yaitu peme-rintahan yang diatur sendiri oleh rakyat— seluruh rakyat harus berkumpul di suatu tempat umum, lalu membuat peraturan dan undang-undang yang akan mereka terapkan, mengatur berbagai urusan, serta memberi keputusan terhadap masalah yang perlu diselesaikan.
    Namun karena tidak akan mungkin mengumpulkan seluruh rakyat di satu tempat agar seluruhnya menjadi sebuah lembaga legislatif, maka rakyat kemudian memilih para wakilnya untuk menjadi lembaga legislatif. Lembaga inilah yang disebut dengan Dewan Perwakilan, yang dalam sistem demokrasi dikatakan mewakili kehendak umum rakyat dan merupakan penjelmaan politis dari kehendak umum rakyat. Dewan ini kemudian memilih pemerintah dan kepala negara —yang akan menjadi penguasa dan wakil rakyat dalam pelaksanaan kehendak umum rakyat. Kepala negara tersebut mengambil kekuasaan dari rakyat yang telah memilihnya, untuk memerintah rakyat dengan peraturan dan undang-undang yang dibuat oleh rakyat. Dengan demikian, rakyatlah yang memiliki kekuasaan secara mutlak, yang berhak menetapkan undang-undang dan memilih penguasa yang akan melaksanakan undang-undang tersebut.
    Kemudian, agar rakyat dapat menjadi penguasa bagi dirinya sendiri serta dapat melaksanakan kedaulatan dan menjalankan kehendaknya sendiri secara sempurna —baik dalam pembuatan undang-undang dan peraturan maupun dalam pemilihan penguasa— tanpa disertai tekanan atau paksaan, maka kebebasan individu menjadi prinsip yang harus diwujudkan oleh demokrasi bagi setiap individu rakyat. Dengan demikian rakyat akan dapat mewujudkan kedaulatannya dan melaksanakan kehendaknya sendiri sebebas-bebasnya tanpa tekanan atau paksaan.
    Kebebasan individu ini nampak dalam empat macam kebebasan berikut ini :
1. Kebebasan Beragama.
2. Kebebasan Berpendapat.
3. Kebebasan Kepemilikan.
4. Kebebasan Bertingkah Laku.

    Demokrasi lahir dari aqidah pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi asas ideologi Kapitalisme. Aqidah ini merupakan jalan tengah yang tidak tegas, yang lahir dari pergolakan antara para raja dan kaisar di Eropa dan Rusia dengan para filosof dan pemikir. Saat itu para raja dan kaisar telah memanfaatkan agama sebagai alat mengeksploitasi dan menzhalimi rakyat, serta alat untuk menghisap darah mereka. Ini disebabkan adanya suatu anggapan bahwa raja dan kaisar adalah wakil Tuhan di muka bumi. Para raja dan kaisar itu lalu memanfaatkan para rohaniwan sebagai tunggangan untuk menzhalimi rakyat, sehingga berkobarlah pergolakan sengit antara mereka dengan rakyatnya.
    Pada saat itulah para filosof dan pemikir bangkit. Sebagian di antara mereka ada yang mengingkari keberadaan agama secara mutlak, dan ada pula yang mengakui keberadaan agama tetapi menyerukan pemisahan agama dari kehidupan, yang kemudian melahirkan pemisahan agama dari negara dan pemerintahan.
    Pergolakan ini berakhir dengan suatu jalan tengah, yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang dengan sendirinya akan menyebabkan pemisahan agama dari negara. Ide ini merupakan aqidah yang menjadi asas ideologi Kapitalisme dan menjadi landasan pemikiran (Qaidah Fikriyah) bagi ideologi tersebut, yang mendasari seluruh bangunan pemikirannya, menentukan orientasi pemikiran dan pandangan hidupnya, sekaligus menjadi sumber pemecahan bagi seluruh problem kehidupan. Maka aqidah ini merupakan pengarahan pemikiran (Qiyadah Fikriyah) yang diemban oleh Barat dan selalu diserukannya ke seluruh penjuru dunia.
    Jelaslah bahwa aqidah tersebut telah menjauhkan agama dan gereja dari kehidupan bernegara, yang selanjutnya menjauhkan agama dari pembuatan peraturan dan undang-undang, pengangkatan penguasa dan pemberian kekuasaan kepada penguasa. Oleh karena itu, rakyat harus memilih peraturan hidupnya sendiri, membuat peraturan dan undang-undang, dan mengangkat penguasa yang akan memerintah rakyat dengan peraturan dan undang-undang tersebut, serta mengambil kekuasaannya berdasarkan kehendak umum mayoritas rakyat.
    Dari sinilah sistem demokrasi lahir. Jadi, ide pemisahan agama dari kehidupan adalah aqidah yang telah melahirkan demokrasi, sekaligus merupakan landasan pemikiran yang mendasari seluruh ide-ide demokrasi.

Demokrasi berlandaskan dua ide :
1. Kedaulatan di tangan rakyat.
2. Rakyat sebagai sumber kekuasaan.
    Kedua ide tersebut dicetuskan oleh para filosof dan pemikir di Eropa ketika mereka melawan para kaisar dan raja, untuk menghapuskan ide Hak Ketuhanan (Divine Rights) yang menguasai Eropa waktu itu. Atas dasar ide itu, para raja menganggap bahwa mereka memiliki Hak Ketuhanan atas rakyat dan hanya merekalah yang berhak membuat peraturan dan menyelenggarakan pemerintahan serta peradilan. Raja adalah negara.
    Sementara itu rakyat dianggap sebagai pihak yang harus diatur, dan dianggap tidak memiliki hak dalam pembuatan peraturan, kekuasaan, peradilan, atau hak dalam apapun juga. Rakyat berkedudukaan sebagai budak yang tidak memiliki pendapat dan kehendak, melainkan hanya berkewajiban untuk taat saja kepada penguasa dan melaksanakan perintah.
    Lalu disebarkanlah dua ide landasan demokrasi tersebut untuk menghancurkan ide Hak Ketuhanan secara menyeluruh, dan untuk memberikan hak pembuatan peraturan dan pemilihan penguasa kepada rakyat. Dua ide tersebut didasarkan pada anggapan bahwa rakyat adalah ibarat tuan pemilik budak, bukan budak yang dikuasai tuannya. Jadi rakyat ibarat tuan bagi dirinya sendiri, tidak ada satu pihak pun yang dapat menguasainya. Rakyat harus memiliki kehendaknya dan melaksanakannya sendiri. Jika tidak demikian, berarti rakyat adalah budak, sebab perbudakan artinya ialah kehendak rakyat dijalankan oleh orang lain. Maka apabila rakyat tidak menjalankan kehendaknya sendiri, berarti rakyat tetap menjadi budak.
    Maka untuk membebaskan rakyat dari perbudakan ini, harus dianggap bahwa rakyat saja yang berhak menjalankan kehendaknya dan menetapkan peraturan yang dikehendakinya, atau menghapus dan membatalkan peraturan yang tidak dikehendakinya. Sebab, rakyat adalah pemilik kedaulatan yang mutlak. Rakyat harus dianggap pula berhak melaksanakan peraturan yang ditetapkannya, serta memilih penguasa (badan eksekutif) dan hakim (badan yudikatif) yang dikehendakinya untuk menerapkan peraturan yang dikehendaki rakyat. Sebab, rakyat adalah sumber seluruh kekuasaan, sementara penguasa mengambil kekuasaannya dari rakyat.
    Dengan berhasilnya revolusi melawan para kaisar dan raja serta robohnya ide Hak Ketuhanan, maka kedua ide landasan demokrasi tersebut —kedaulatan di tangan rakyat, dan rakyat sebagai sumber kekuasaan— dapat diterapkan dan dilaksanakan. Dua ide inilah yang menjadi asas sistem demokrasi.
    Dengan demikian, rakyat bertindak sebagai Musyarri' (pembuat hukum) dalam kedudukannya sebagai pemilik kedaulatan, dan bertindak sebagai Munaffidz (pelaksana hukum) dalam kedudukannya sebagai sumber kekuasaan.
    Demokrasi adalah sistem pemerintahan berdasarkan suara mayoritas. Anggota-anggota lembaga legislatif dipilih berdasarkan suara mayoritas pemilih dari kalangan rakyat. Penetapan peraturan dan undang-undang, pemberian mosi percaya atau tidak percaya kepada pemerintah dalam dewan perwakilan, ditetapkan pula berdasarkan suara mayoritas. Demikian pula penetapan semua keputusan dalam dewan perwakilan, kabinet, bahkan dalam seluruh dewan, lembaga, dan organisasi lainnya, ditetapkan berdasarkan suara mayoritas. Pemilihan penguasa oleh rakyat baik langsung maupun melalui para wakilnya, ditetapkan pula berdasarkan suara mayoritas pemilih dari rakyat.
    Oleh karena itu, suara bulat (mayoritas) adalah ciri yang menonjol dalam sistem demokrasi. Pendapat mayoritas menurut demokrasi merupakan tolok ukur hakiki yang akan dapat mengungkapkan pendapat rakyat yang sebenarnya.
    Demikianlah penjelasan ringkas mengenai demokrasi dari segi pengertiannya, sumbernya, latar belakangnya, aqidah yang melahirkannya, asas-asas yang melandasinya, serta hal-hal yang harus diwujudkannya agar rakyat dapat melaksanakan demokrasi.
    Dari penjelasan ringkas tersebut, nampak jelaslah poin-poin berikut ini :
1.     Demokrasi adalah buatan akal manusia, bukan berasal dari Allah SWT. Demokrasi tidak bersandar kepada wahyu dari langit dan tidak memiliki hubungan dengan agama mana pun dari agama-agama yang diturunkan Allah kepada para rasul-Nya.
2. Demokrasi lahir dari aqidah pemisahan agama dari kehidupan, yang selanjutnya melahirkan pemisahan agama dari negara.
3.     Demokrasi berlandaskan dua ide :
    a. Kedaulatan di tangan rakyat.
    b. Rakyat sebagai sumber kekuasaan.
4.    Demokrasi adalah sistem pemerintahan mayoritas. Pemilihan penguasa dan anggota dewan perwakilan diselenggarakan berdasarkan suara mayoritas para pemilih. Semua keputusan dalam lembaga-lembaga tersebut diambil berdasarkan pendapat mayoritas.
5.     Demokrasi menyatakan adanya empat macam kebebasan, yaitu :
    a.    Kebebasan Beragama (freedom of religion)
    b.    Kebebasan Berpendapat (freedom of speech)
    c.    Kebebasan Kepemilikan (freedom of ownership)
    di.    Kebebasan Bertingkah Laku (personal freedom)

    Demokrasi harus mewujudkan kebebasan tersebut bagi setiap individu rakyat, agar rakyat dapat melaksanakan kedaulatanya dan menjalankannya sendiri. Juga agar dapat melaksanakan haknya untuk berpartisipasi dalam pemilihan para penguasa dan anggota lembaga-lembaga perwakilan dengan sebebas-bebasnya tanpa ada tekanan atau paksaan.
    Dengan memperhatikan poin 1 di atas, sebenarnya sudah jelas bahwa demokrasi adalah sistem kufur, tidak berasal dari Islam, dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Islam.
    Namun sebelum kami menjelaskan lebih lanjut pertentangan demokrasi dengan Islam serta hukum syara' dalam pengambilannya, kami ingin menjelaskan terlebih dahulu, bahwa demokrasi itu sendiri sebenarnya belum pernah diterapkan di negara-negara asal demokrasi, dan bahwa praktek demokrasi itu sesungguhnya didasarkan pada kedustaan dan penyesatan. Kami ingin menjelaskan pula tentang kerusakan dan kebusukan demokrasi, serta berbagai musibah dan malapetaka yang telah menimpa dunia akibat penerapan demokrasi, termasuk sejauh mana kebobrokan masyarakat yang menerapkan demokrasi.
    Demokrasi dalam maknanya yang asli, adalah ide khayal yang tidak mungkin dipraktekkan. Demokrasi belum dan tidak akan pernah terwujud sampai kapan pun. Sebab, berkumpulnya seluruh rakyat di satu tempat secara terus menerus untuk memberikan pertimbangan dalam berbagai urusan, adalah hal yang mustahil. Demikian pula keharusan atas seluruh rakyat untuk menyelenggarakan pemerintahan dan mengurus administrasinya, juga hal yang mustahil.
    Oleh karena itu, para penggagas demokrasi lalu mengarang suatu manipulasi terhadap ide demokrasi dan mencoba menakwilkannya, serta mengada-adakan apa yang disebut dengan "Kepala Negara", "Pemerintah" dan "Dewan Perwakilan".
    Namun meskipun demikian, pengertian demokrasi yang telah ditakwilkan ini pun toh tetap tidak sesuai dengan fakta yang ada dan tidak pernah pula terwujud dalam kenyataan.
    Klaim bahwa kepala negara, pemerintah, dan anggota parlemen dipilih berdasarkan mayoritas suara rakyat; bahwa dewan perwakilan adalah penjelmaan politis kehendak umum mayoritas rakyat; dan bahwa dewan tersebut mewakili mayoritas rakyat, semuanya adalah klaim yang sangat tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
    Sebab, anggota parlemen sesungguhnya hanya dipilih sebagai wakil dari minoritas rakyat —bukan mayoritasnya— mengingat kedudukan seorang anggota di parlemen itu sebenarnya dicalonkan oleh sejumlah orang, bukan oleh satu orang. Karena itu suara para pemilih di suatu daerah, harus dibagi dengan jumlah orang yang mencalonkan. Dengan demikian, orang yang meraih suara mayoritas para pemilih di suatu daerah sebenarnya tidak memperoleh suara mayoritas dari mereka yang berhak memilih di daerah tersebut. Konsekuensinya ialah para wakil yang menang, sebenarnya hanya mendapatkan suara minoritas rakyat, bukan mayoritasnya. Maka mereka menjadi orang-orang yang mendapat kepercayaan dari minoritas rakyat dan menjadi wakil mereka, bukan orang-orang yang mendapat kepercayaan dari mayoritas rakyat dan tidak pula menjadi wakil mereka.
    Demikian pula kepala negara, baik yang dipilih oleh rakyat secara langsung maupun oleh para anggota parlemen, sebenarnya juga tidak dipilih berdasarkan mayoritas suara rakyat, tetapi berdasarkan minoritas suara rakyat, sebagaimana halnya pemilihan anggota parlemen tersebut di atas.
    Lagi pula, para kepala negara dan anggota parlemen di negara-negara asal demokrasi, seperti Amerika Serikat dan Inggris, sebenarnya mewakili kehendak kaum kapitalis —yaitu para konglomerat dan orang-orang kaya— dan tidak mewakili kehendak rakyat ataupun mayoritas rakyat. Kondisi ini dikarenakan para kapitalis raksasa itulah yang mendudukkan mereka ke berbagai posisi pemerintahan dan lembaga-lembaga perwakilan, yang akan merealisasikan kepentingan para kapitalis itu. Kaum kapitalis tersebut telah membiayai proses pemilihan presiden dan anggota parlemen, sehingga mereka memiliki pengaruh yang kuat atas presiden dan anggota parlemen. Fakta ini sudah terkenal di Amerika.
    Sementara di Inggris, yang berkuasa adalah orang-orang dari partai Konservatif. Partai Konservatif ini juga mewakili para kapitalis raksasa, yaitu para konglomerat, para pengusaha dan pemilik tanah, serta golongan bangsawan yang aristokratis. Partai Buruh tidak dapat menduduki pemerintahan, kecuali terdapat kondisi politis yang mengharuskan tersingkirnya Partai Konservatif dari pemerintahan. Oleh karena itu, para penguasa dan anggota parlemen di Amerika Serikat dan Inggris sebenarnya hanya mewakili para kapitalis, tidak mewakili kehendak rakyat ataupun kehendak mayoritas rakyat.
    Berdasarkan fakta ini, maka pernyataan bahwa parlemen di negeri-negeri demokrasi adalah wakil dari pendapat mayoritas, merupakan perkataan dusta dan menyesatkan. Demikian pula pernyataan bahwa para penguasa dipilih oleh mayoritas rakyat dan mengambil kekuasaan mereka dari rakyat, juga merupakan dusta yang menyesatkan!
    Di samping itu, peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam parlemen-parlemen tersebut, serta kebijakan-kebijakan yang diambil oleh negara-negara tersebut, diputuskan dengan pertimbangan: bahwa kepentingan para kapitalis harus lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat atau mayoritas rakyat.
    Kemudian pernyataan bahwa penguasa/presiden bertanggung jawab kepada parlemen yang merupakan penjelmaan kehendak umum rakyat; dan bahwa keputusan-keputusan yang penting tidak dapat diambil kecuali dengan persetujuan mayoritas anggota parlemen, tidaklah sesuai dengan hakekat dan kenyataan yang ada. Sir Anthony Eden (PM Inggris), misalnya, telah mengumumkan Perang Suez terhadap Mesir tanpa memberi tahu baik kepada parlemen maupun kepada para menteri yang memiliki andil dalam pemerintahannya. Hanya dua atau tiga menteri saja yang diberitahu. John Foster Dulles pada saat Perang Suez telah diminta oleh Kongres untuk menyerahkan laporan mengenai Terusan Suez dan menjelaskan sebab-sebab pembatalan usulan pembiayaannya. Namun dia menolak mentah-mentah untuk menyerahkan laporan tersebut kepada Kongres. Sementara itu Charles ada Gaulle telah mengambil keputusan-keputusan tanpa diketahui para menterinya. Raja Hussein pun telah mengambil keputusan-keputusan yang penting dan berbahaya tanpa diketahui oleh para menteri atau anggota parlemen.
    Oleh karenanya, pernyataan bahwa parlemen-parlemen di negeri-negeri demokrasi telah mewakili pendapat mayoritas, dan bahwa para penguasa dipilih berdasarkan suara mayoritas serta menjalankan pemerintahan menurut peraturan yang ditetapkan dan dikehendaki oleh mayoritas, ternyata tidak sesuai dengan hakekat dan kenyataan yang sebenarnya. Perkataan itu dusta dan menyesatkan!

    Penjelasan di atas berkenaan dengan kenyataan di negeri-negeri asal usul demokrasi. Adapun parlemen-parlemen di Dunia Islam, keadaannya lebih buruk lagi. Parlemen-parlemen tersebut tak lebih dari sekedar istilah yang tidak ada faktanya. Sebab, tidak ada satu parlemen pun di Dunia Islam yang berani mengkritik atau menentang penguasanya, atau menentang sistem pemerintahannya. Parlemen Yordania misalnya —yang dipilih dengan slogan "Mengembalikan Demokrasi dan Mewujudkan Kebebasan"— ternyata tidak berani mengkritik Raja Hussein, atau mengkritik rezim pemerintahannya. Padahal semua anggota parlemen tahu bahwa penyebab krisis dan kemerosotan ekonomi yang terjadi tak lain adalah kebobrokan rezim keluarga kerajaan yang telah mencuri harta kekayaan negara.
    Kendatipun demikian, tidak ada seorang anggota parlemen pun yang berani mengkritik rezim tersebut. Mereka hanya berani mengkritik Zaid Rifa'i dan beberapa menteri. Padahal mereka tahu bahwa Zaid Rifa'i dan para menteri itu hanyalah pegawai bawahan, yang tidak akan berani mengambil satu tindakan pun tanpa mendapat ijin dan restu dari raja.
    Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, undang-undang yang ada umumnya justru dibuat oleh pemerintah, dalam bentuk rancangan undang-undang. Kemudian rancangan undang-undang itu dikirim oleh pemerintah ke parlemen, lalu dikaji oleh komisi-komisi khusus yang akan memberikan pendapatnya mengenai rancangan tersebut, dan kemudian menyetujuinya. Padahal faktanya banyak anggota parlemen yang tidak memahami isi undang-undang tersebut sedikit pun, sebab pembahasan dalam undang-undang tersebut bukan bidang keahlian mereka.
    Oleh karena itu, pernyataan bahwa peraturan yang ditetapkan oleh parlemen-parlemen di negeri-negeri demokrasi merupakan ungkapan kehendak umum rakyat, dan bahwa kehendak umum itu mewakili kedaulatan rakyat, adalah pernyataan yang tidak sesuai dengan hakikat dan kenyataan yang ada.

    Cacat yang menonjol dalam sistem demokrasi —yang berkaitan dengan pemerintahan dan kabinet— antara lain ialah bila di dalam suatu negeri demokrasi tidak terdapat partai-partai politik besar —yang dapat mencapai mayoritas mutlak di parlemen dan menyusun kabinetnya sendiri— maka pemerintah negeri tersebut akan selalu tidak stabil dan kabinetnya akan terus digoncang dengan tekanan krisis-krisis politik yang silih berganti. Hal ini terjadi karena pemerintah negeri tersebut sulit mendapatkan kepercayaan mayoritas parlemennya, sehingga kondisi ini akan memaksa pemerintah untuk meletakkan jabatannya. Kadang-kadang presiden selama berbulan-bulan tak mampu membentuk kabinetnya yang baru sehingga pemerintah menjadi lumpuh atau nyaris tak berfungsi. Kadang-kadang pula presiden terpaksa membubarkan parlemen dan menyelengggarakan pemilu yang baru, dengan tujuan mengubah perimbangan kekuatan politik agar dia dapat menyusun kabinetnya yang baru.
    Krisis-krisis tersebut terjadi berulang kali sehingga pemerintah selalu tidak stabil dan aktivitas politiknya pun terus digoncang dan nyaris tak terurus. Kondisi seperti ini pernah terjadi di Italia, Yunani, dan negeri-negeri demokrasi yang lain, yang memiliki banyak partai politik sementara tidak ada satu partai politik besar yang mampu mendapatkan mayoritas mutlak.
    Karena kondisinya seperti itu, maka tawar menawar selalu terjadi di antara partai-partai tersebut, sehingga terkadang partai-partai kecil dapat mendikte partai-partai lain —yang mengajak berkoalisi untuk membentuk kabinet— dengan cara mengajukan syarat-syarat yang sulit sebagai langkah untuk mewujudkan kepentingannya sendiri. Dengan demikian, partai-partai kecil —yang hanya mewakili minoritas rakyat itu— dapat mengendalikan partai lain dan mendikte kegiatan politik negeri tersebut termasuk penetapan kebijakan-kebijakan kabinetnya.
    Di antara bencana paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia, ialah ide kebebasan individu yang dibawa oleh demokrasi. Ide ini telah mengakibatkan berbagai malapetaka secara universal, serta memerosotkan harkat dan martabat masyarakat di negeri-negeri demokrasi sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang!
    Sebenarnya ide kebebasan kepemilikan dan oportunisme yang dijadikan sebagai tolok ukur perbuatan, telah mengakibatkan lahirnya para kapitalis yang bermodal. Mereka ini jelas membutuhkan bahan-bahan mentah untuk menjalankan industrinya dan membutuhkan pasar-pasar konsumtif untuk memasarkan produk-produk industrinya. Hal inilah yang telah mendorong negara-negara kapitalis untuk bersaing satu sama lain guna menjajah bangsa-bangsa yang terbelakang, menguasai harta bendanya, memonopoli kekayaan alamnya, serta menghisap darah bangsa-bangsa tersebut dengan cara yang sangat bertolak belakang dengan seluruh nilai-nilai kerohanian, akhlak, dan kemanusiaan.
    Keserakahan dan kerakusan yang luar biasa dari negara-negara kapitalis itu, kekosongan jiwa mereka dari nilai-nilai kerohanian, akhlak, dan kemanusiaan, serta persaingan di antara mereka untuk mencari harta yang haram; telah membuat darah bangsa-bangsa terjajah menjadi barang dagangan. Faktor-faktor tersebut juga telah mengakibatkan berkobarnya fitnah dan peperangan di antara bangsa-bangsa terjajah, sehingga negara-negara kapitalis tersebut dapat menjajakan produk-produk industrinya dan dapat mengembangkan industri-industri militernya yang menghasilkan keuntungan besar.
    Sungguh betapa banyak hal yang menggelikan sekaligus memuakkan, yang selalu menjadi bahan bualan negara-negara demokrasi penjajah yang tidak tahu malu itu. Amerika, Inggris, dan Perancis, misalnya, selalu saja menggembar-gemborkan nilai-nilai demokrasi dan Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) di mana-mana. Padahal pada waktu yang sama mereka telah menginjak-injak seluruh nilai kemanusiaan dan akhlak, mencampakkan seluruh Hak-Hak Asasi Manusia, dan menumpahkan darah berbagai bangsa di dunia. Krisis-krisis di Palestina, Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika Hitam (Afrika Tengah), dan Afrika Selatan, adalah bukti paling nyata yang akan menampar wajah mereka dan akan membeberkan sifat mereka yang sangat pendusta dan tidak tahu malu itu!
    Adapun ide kebebasan bertingkah laku, sesung-guhnya telah memerosotkan martabat berbagai masyarakat yang mempraktekkan demokrasi sampai pada derajat masyarakat binatang yang sangat rendah. Ide itu juga telah menyeret mereka untuk mengambil gaya hidup serba-boleh (permissiveness) yang najis, yang bahkan tidak dijumpai dalam pergaulan hantar binatang. Maha Benar Allah SWT yang berfirman :

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكيْلاً 
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ أَو يَعْقِلُوْنَ إِنْ هُمْ إلاَّ كَالأَنْعَام بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيْلاً 
"Terangkanlah kepada-Ku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami ? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)."
(Al-Furqaan 43-44)

    Dalam masyarakat demokrasi ini, hubungan seksual menjadi aktivitas yang sah-sah saja —seperti halnya minum air— karena telah disahkan oleh undang-undang yang ditetapkan parlemen negeri-negeri tersebut dan direstui oleh para tokoh gerejanya. Peraturan tersebut membolehkan hubungan seksual dan pergaulan lelaki-perempuan dengan sebebas-bebasnya bila masing-masing telah berumur 18 tahun. Negara dan orang tua tidak berwenang sedikit pun untuk mencegah segala perilaku seksual tersebut.
    Undang-undang itu ternyata tidak sekedar membenarkan hubungan seksual dengan lawan jenis, tetapi lebih dari itu telah membolehkan hubungan seksual sesama jenis. Bahkan beberapa negeri demokrasi telah mengesahkan pernikahan antara dua orang yang berkelainan seksual, yakni pria dibolehkan menikahi sesamanya, dan wanita dibolehkan menikahi sesamanya pula.
    Karena itu di antara fenomena yang dianggap wajar dan biasa dalam masyarakat demokrasi, ialah Anda akan menyaksikan —di jalan-jalan, taman-taman, bus-bus, dan di wagon-wagon kereta api— para pemuda dan pemudi saling berciuman, berangkulan, berpelukan, serta saling mengisap bibir dan bercumbu. Semua ini mereka lakukan tanpa rasa sungkan dan risih sedikit pun karena perilaku semacam itu oleh mereka sudah dianggap biasa dan wajar-wajar saja.
    Begitu pula sudah dianggap biasa kalau para wanita Barat menunggu matahari terbit pada musim panas dengan cara berbaring di taman-taman dengan tubuh telanjang —persis seperti keadaan mereka tatkala dilahirkan oleh ibu-ibu mereka— tanpa penutup kecuali secarik kain yang menutupi bagian tubuh mereka yang paling vital. Juga sudah dianggap biasa para wanita di sana pada musim panas berjalan-jalan dengan tubuh nyaris bugil dan tidak menutupi tubuh mereka, kecuali hanya sekedarnya saja.
    Berbagai perilaku seksual yang menyimpang dan abnormal telah memenuhi masyarakat demokrasi yang bejat ini. Perilaku homoseksual hantar lelaki, lesbianisme di kalangan wanita, dan pemuasan seksual dengan binatang (bestiality) telah banyak terjadi. Juga banyak terjadi perilaku seksual kolektif (orgy), di mana beberapa pria dan wanita melakukan hubungan seksual bersama-sama. Padahal perilaku seperti ini bahkan tak akan dijumpai di dalam kandang-kandang binatang ternak sekalipun.
    BERSAMBUNG....!
[ Telah diedit oleh: abdullah_syakir pada 30-10-06 19:09 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:10


Sensus sebuah koran Amerika Serikat menyebutkan, bahwa 25 juta pelaku seksual yang menyimpang di Amerika Serikat telah menuntut pengesahan perkawinan di antara mereka dan menuntut hak-hak yang sama seperti yang dimiliki oleh orang normal. Sebuah koran lain juga mempublikasikan data, bahwa satu juta orang di Amerika Serikat telah melakukan hubungan seksual dengan keluarga mereka sendiri (incest), baik dengan ibu, anak perempuan, maupun saudara perempuan mereka.
    Perilaku serba boleh gaya binatang inilah yang telah menyebarluaskan berbagai penyakit kelamin —yang paling mematikan adalah AIDS— dan juga telah menghasilkan banyak anak zina, sampai-sampai sebuah koran menyebutkan bahwa 75 % orang Inggris adalah anak zina.
    Dalam masyarakat demokrasi, institusi keluarga benar-benar telah hancur berantakan. Tak ada lagi yang namanya rasa kasih sayang di antara bapak, anak, ibu, saudara lelaki, dan saudara perempuan. Karenanya, sudah merupakan pemandangan biasa, jika terdapat puluhan bahkan ratusan pria dan wanita tua bangka yang berjalan-jalan di taman hanya bertemankan anjing-anjing. Hewan inilah yang menemani kaum lanjut usia itu di rumah, di meja makan, dan bahkan di tempat tidur mereka! Anjing-anjing itu menjadi sahabat dalam kesendirian mereka, sebab masing-masing memang hanya hidup sebatang kara. Tak ada sahabat lagi selain anjing.

    Itulah beberapa contoh kerusakan yang dihasilkan oleh nilai-nilai demokrasi, khususnya ide kebebasan individu yang selalu mereka dengung-dengungkan itu. Itu pula salah satu bentuk dan penampilan peradaban mereka yang senantiasa mereka bangga-banggakan, mereka gembar-gemborkan, dan mereka sebarluaskan ke seluruh pelosok dunia. Tujuannya tak lain agar seluruh dunia ikut terjerumus ke dalam peradaban mereka yang sangat buruk itu. Kebejatan-kebejatan tersebut tidak mempunyai makna apa-apa, kecuali menunjukkan kerusakan, keburukan, dan kebusukan demokrasi.

    Beberapa kerusakan dan keburukan demokrasi tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Masyarakat-masyarakat demokrasi Barat telah bejat sedemikian rupa, hingga terpesosok ke derajat binatang yang kotor, yang bahkan tidak pernah ada dalam komunitas binatang ternak. Hal ini akibat adanya keliaran yang dihasilkan oleh ide kebebasan bertingkah laku.
2.    Penjajahan Barat yang demokratis itu telah nyata-nyata menimbulkan berbagai krisis, bencana, dan penghisapan bangsa-bangsa yang terjajah dan terbelakang; dengan cara mencuri sumber daya alam, merampok kekayaan mereka, memelaratkan penduduk, dan menistakan rakyat-rakyatnya, serta menjadikan negeri-negeri mereka sebagai pasar konsumtif bagi industri dan produk mereka.
3.    Demokrasi dalam arti yang sebenaranya tidak mungkin diterapkan. Bahkan dalam pengertiannya yang baru, sesudah dita'wilkan, tetap tidak sesuai dengan fakta dan tidak akan terwujud dalam kenyataan.
4.    Kedustaan dan kebohongan para penganut demokrasi telah nyata. Mereka mengklaim bahwa parlemen adalah wakil dari kehendak umum masyarakat, merupakan perwujudan politis kehendak umum mayoritas rakyat, dan mewakili pendapat mayoritas. Nyata pula kedustaan mereka yang mengklaim bahwa hukum-hukum yang dibuat parlemen ditetapkan berdasarkan mayoritas suara wakil rakyat yang mengekspresikan kehendak mayoritas rakyat. Begitu pula nyata kedustaan mereka yang mengklaim bahwa para penguasa dipilih oleh mayoritas rakyat serta mengambil kekuasaannya dari rakyat.
5.    Cacat dalam sistem demokrasi telah jelas, khususnya aspek yang berhubungan dengan kekuasaan dan para penguasa jika tidak terdapat partai-partai besar di suatu negeri yang akan menjadi golongan mayoritas di dalam dewan perwakilan.

    Ya, meskipun semua keburukan tersebut telah terjadi, namun Barat yang kafir ternyata telah mampu memasarkan ide-ide demokrasi yang rusak itu di negeri-negeri Islam!

    Adapun bagaimana Barat yang kafir itu dapat berhasil memasarkan ide-ide demokrasi yang kufur —yang tidak berhubungan sama sekali dengan hukum-hukum Islam itu— di negeri-negeri Islam?
    Jawabnya adalah bahwa keberhasilan Barat dalam hal ini disebabkan negara-negara Eropa yang kafir dan sangat dengki dan dendam terhadap Islam dan kaum muslimin itu, dalam hati mereka terdapat rasa dendam yang sangat dalam terhadap Islam dan kaum muslimin. Maha Benar Allah dengan firman-Nya:

قَدْ بَدَتِ البَغْضَـآءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَ مَا تُخْفِي صُدُوْرُهُمْ أَكْبَرُ
“…telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Ali ‘Imraan 118)

Mereka telah memahami bahwa rahasia kekuatan kaum muslimin terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Sebab Aqidah Islamiyah adalah sumber kekuatan yang dahsyat bagi umat Islam. Maka setelah itu, mereka pun menyusun strategi jahannam untuk memerangi Dunia Islam, dengan jalan melancarkan serangan misionaris (kristenisasi) dan serangan kebudayaan (berupa westernisasi).
    Serangan kebudayaan (westernisasi) ini ternyata telah mengusung kebudayaan dan ide-ide barat —termasuk demokrasi— serta peradaban dan pandangan hidup Barat ke Dunia Islam. Negara-negara Eropa itu segera menyerukan ide-ide tersebut kepada kaum muslimin, dengan maksud agar kaum muslimin menjadikannya sebagai asas cara berpikir dan pandangan hidup mereka, sehingga pada gilirannya negara-negara Eropa itu akan dapat menyimpangkan kaum muslimin dari Islam serta menjauhkan mereka dari keterikatannya dengan Islam dan kewajiban penerapan hukum-hukumnya. Tujuan akhirnya ialah agar Barat dapat dengan mudah menghancurkan negara Islam —yakni negara Khilafah— dan kemudian menghapuskan penerapan hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan demikian kaum muslimin selanjutnya akan mudah diarahkan untuk mengambil berbagai ide, peraturan, dan undang-undang kafir, sebagai ganti dari Islam. Akhirnya Barat akan dapat menjauhkan kaum muslimin dari Islam dan dapat mengencangkan cengkeramannya atas mereka. Maha Benar Allah SWT yang telah berfirman :

وَ لَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَ لاَ النَّصَارى حَتَّى تَتَّبعَ مِلَّتَهُم قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَ لَئِنِ اتَبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَذِي جَـآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لاَ نَصِيْرٍ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu (Muhammad) mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan (bukti yang nyata) datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al-Baqarah 120)

    Serangan misionaris dan kebudayaan ini semakin sengit ketika kemerosotan kaum muslimin di bidang pemikiran dan politik semakin parah pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah (pada paruh kedua abad XIX M). Pada saat itu telah terjadi perubahan dalam perimbangan kekuatan yang menunjukkan keunggulan negara-negara Eropa. Yaitu setelah terjadinya revolusi pemikiran dan revolusi industri di Eropa dan terwujudnya berbagai kreativitas dan penemuan ilmiah, yang dengan cepat menghantarkan Eropa menuju ketinggian dan kemajuan. Sementara itu, Khilafah Utsmaniyah tetap jumud dan semakin lemah dari hari ke hari. Kondisi inilah yang akhirnya mengakibatkan banjirnya berbagai kebudayaan, ide, peradaban, dan peraturan Barat yang mengalir deras ke negeri-negeri Islam.
    Negara-negara Eropa dalam serangan misionaris dan kebudayaan yang ditujukan ke negeri-negeri Islam menggunakan cara merendahkan ajaran Islam dan menjelek-jelekkan hukum-hukumnya, menyebarkan keraguan kepada kaum muslimin terhadap kebenaran ajaran Islam, membangkitkan kebencian kaum muslimin terhadap Islam, serta menyatakan bahwa Islamlah yang menjadi sebab kemerosotan dan kemunduran mereka. Sebaliknya, negara-negara Eropa mengagung-agungkan Barat dan peradabannya, membangga-banggakan ide dan sistem demokrasi, serta menggembar-gemborkan kehebatan peraturan dan undang-undang demokrasi itu.
    Selain itu, negara-negara Eropa juga menggunakan cara penyesatan. Yaitu menyebarkan sangkaan di tengah-tengah kaum muslimin bahwa peradaban Barat tidak bertentangan dengan peradaban Islam, dengan alasan bahwa peradaban Barat sebenarnya berasal dari Islam juga, dan bahwa peraturan dan undang-undang Barat sesungguhnya tidak menyalahi hukum-hukum Islam.
    Mereka juga melekatkan sifat Islam pada ide dan peraturan demokrasi, serta menyatakan bahwa demokrasi tidak menyalahi atau bertentangan dengan Islam. Bahkan mereka katakan demokrasi itu berasal dari Islam itu sendiri, atau identik dengan musyawarah, amar ma'ruf nahi munkar, dan mengoreksi penguasa.
    Propaganda mereka ini ternyata sangat mem-pengaruhi kaum muslimin sehingga akhirnya mereka dapat dikendalikan oleh ide-ide dan peradaban Barat.
    Propaganda tersebut juga berhasil mendorong kaum muslimin untuk mengambil beberapa peraturan dan undang-undang Barat pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah. Dan setelah negara khilafah hancur, kaum muslimin malahan mengambil sebagian besar peraturan dan undang-undang Barat.
    Propaganda Barat itu berhasil pula mempe-ngaruhi kaum terpelajar, para politikus, para pengem-ban Tsaqafah Islamiyah, sebagian pengemban dakwah Islam, dan mayoritas kaum muslimin.
    Mengenai kaum terpelajar, sesungguhnya sangat banyak dari mereka yang terpengaruh oleh kebudayaan Barat —yang telah dijadikan asas pendidikan mereka— tatkala mereka mempelajari kebudayaan tersebut di Barat ataupun di negeri-negeri Islam sendiri. Ini disebabkan karena kurikulum pendidikan negeri-negeri Islam setelah Perang Dunia I, telah disusun atas dasar falsafah dan pandangan hidup Barat. Kondisi ini menyebabkan banyak dari kaum terpelajar yang akhirnya menggemari, menggandrungi, dan bahkan mengagung-agungkan kebudayaan Barat. Sebaliknya mereka mengingkari Tsaqafah Islamiyah dan hukum-hukum Islam jika bertentangan dengan kebudayaan, peraturan, dan undang-undang Barat. Mereka pun akhirnya membenci Islam sebagaimana halnya orang-orang kafir Eropa membenci Islam, serta sangat memusuhi kebudayaan, peraturan, dan hukum Islam, sebagaimana halnya kelakuan orang-orang Eropa yang kafir itu. Kaum terpelajar ini akhirnya menjadi corong-corong propaganda bagi peradaban, ide, dan peraturan Barat, sekaligus menjadi alat penghancur dan penghina bagi peradaban, hukum, dan peraturan Islam.

BERSAMBUNG..........!

Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:10


Mengenai para politikus, sesungguhnya mereka telah benar-benar mengikhlaskan dirinya untuk mengabdi kepada Barat dan peraturannya. Mengikatkan diri dengan Barat dan menjadikan Barat sebagai kiblat perhatian mereka. Mereka meminta tolong kepada Barat, mengandalkan bantuannya, dan menobatkan diri sebagai penjaga berbagai undang-undang dan peraturan Barat. Bahkan dengan suka rela mereka mengangkat diri mereka sebagai budak-budak yang bertugas melestarikan kepentingan Barat dan menjalankan semua konspirasinya yang sangat jahat.
    Dengan demikian mereka telah menyatakan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya dan telah mengumumkan perang terhadap "Islam politik" beserta segenap pengemban dakwahnya yang ikhlas. Mereka mencurahkan segala potensi yang mereka miliki untuk menghalang-halangi berdirinya negara Khilafah dan kembalinya hukum yang diturunkan Allah ke tahta kekuasaan. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling dari kebenaran ?
    Adapun para pengemban Tsaqafah Islamiyah, sesungguhnya mereka tidak lagi memiliki kesadaran terhadap Islam dan hakikat/realitas hukum-hukum syara', serta tidak menyadari pula hakikat peradaban, ide, dan peraturan Barat. Selain itu, mereka juga tidak mengetahui kontradiksi antara peradaban, ide, dan pandangan hidup Barat dengan aqidah, hukum, peradaban, dan pandangan hidup Islam.
    Kondisi tersebut terjadi karena taraf pemikiran kaum muslimin telah merosot sehingga mereka sangat lemah dalam memahami Islam dan hukum-hukumnya, serta telah salah paham dalam memahami cara penerapan syari’at Islam di tengah masyarakat.
    Akibatnya, Islam lalu ditafsirkan dengan pengertian yang tidak sesuai dengan kandungan nash-nash syara'. Demikian juga hukum-hukum Islam ditakwilkan agar sesuai dengan kondisi yang ada, bukan sebaliknya, yaitu mengubah kondisi yang ada agar sesuai dengan hukum-hukum Islam. Mereka kemudian mengambil berbagai hukum yang tidak ada dasarnya dari syara', atau dasarnya lemah, dengan hujah kaidah syar'iyah rumusan mereka yang sangat keliru :

لاَ يُنْكَرُ تَغَيُّرُ الأَحْكَامِ بِتَغَيُّرِ الزَّمَانِ
"Tidak diingkari adanya perubahan hukum-hukum karena adanya perubahan zaman."

    Akhirnya Islam pun ditakwilkan banyak orang agar sesuai dengan setiap aliran, gagasan, dan ideologi, walaupun penakwilan mereka bertentangan dengan hukum-hukum dan pandangan hidup Islam. Mereka lalu mengatakan bahwa peradaban dan ide-ide Barat tidaklah bertentangan dengan Islam dan hukum-hukum Islam, karena semua itu justru diambil dari peradaban Islam. Mereka katakan pula bahwa sistem pemerintahan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme juga tidak bertentangan dengan hukum-hukum Islam, padahal faktanya kedua sistem tersebut adalah sistem kufur. Mereka berkata pula bahwa ide demokrasi dan kebebasan individu itu berasal dari Islam, padahal kedua ide itu pada hakekatnya sangat bertentangan dengan Islam.
    Dengan demikian, muncullah ketidakjelasan dalam benak mereka mengenai apa-apa yang boleh diambil kaum muslimin dari bangsa dan umat lain —seperti ilmu kedokteran, perikanan, matematika, kimia, pertanian, industri, peraturan lalu lintas, transportasi, dan perkara mubah lainnya yang tidak menyalahi Islam— dengan apa-apa yang tidak boleh mereka ambil, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Aqidah Islamiyah dan hukum-hukum syara'.
    Hal-hal seperti ini tidak boleh diambil dari bangsa dan umat lain. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan aqidah dan hukum syara' tidak boleh diambil kecuali dari wahyu yang dibawa Rasulullah, yaitu Al-Kitab dan As-Sunah, serta dalil-dalil syara' yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunah, yaitu Qiyas dan Ijma' Sahabat.
    Ketidakjelasan dalam benak mereka inilah yang akhirnya menyebabkan Barat mampu menjajakan peradaban dan pandangan hidup mereka, ide demokrasi dan kapitalisme, serta ide kebebasan individu di negeri-negeri Islam.
    
    Sebelum kami menjelaskan pertentangan demokrasi dengan Islam dan menerangkan hukum syara' dalam pengambilan demokrasi, kami ingin mengupas tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh diambil kaum muslimin dari umat dan bangsa lain. Serta tentang hal-hal yang haram diambil oleh kaum muslimin, sesuai dengan nash-nash dan hukum-hukum syara'. Penjelasan kami sebagai berikut :
1.    Sesungguhnya seluruh perbuatan manusia, dan seluruh benda-benda yang digunakannya dan atau berhubungan dengan perbuatan manusia, hukum asalnya adalah mengikuti Rasulullah SAW dan terikat dengan hukum-hukum risalah beliau. Keumuman ayat-ayat hukum menunjukkan bahwa dalam masalah-masalah tersebut wajib hukumnya merujuk kepada syara' dan terikat dengan hukum-hukum syara'. Allah SWT berfirman :

وَ مَا آتَاكُمُ الرَسُولُ فَخُذُوهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا
"Apa-apa yang diberikan/diperintahkan Rasul kepada-mu maka terimalah/laksankanlah, dan apa yang dila-rangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr 7)

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muham-mad) sebagai hakim/pemutus terhadap perkara yang mereka perselisihkan,..." (An-Nisaa' 65)

وَ مَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إلَى اللهِ
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah." (Asy-Syuura 10)

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَ الرَّسُولِ
"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul(Nya) (Sunnahnya)." (An-Nisaa' 59)

Bersabda Rasulullah SAW:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang melakukan suatu perbuatan yang tak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak." (hari. Muslim)

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang mengada-adakan —dalam urusan (agama) kami ini— sesuatu yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak." (hari. Bukhari)

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa mengikuti hukum syara' dan terikat dengannya adalah wajib. Baik yang berkaitan dengan perbuatan manusia maupun benda-benda yang digunakannya. Dengan demikian, seorang muslim tidak boleh melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, kecuali setelah mengetahui hukum Allah untuk perbuatan itu. Ia harus tahu apakah suatu perbuatan hukumnya wajib atau mandub sehingga dia dapat melakukannya; ataukah hukumnya haram atau makruh sehingga dia harus meninggalkannya, ataukah mubah sehingga dia berhak memilih untuk melakukan perbuatan itu atau meninggalkannya. Atas dasar inilah, maka untuk perbuatan manusia berlaku kaidah bahwa hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allah.
Adapun benda-benda yang berhubungan dengan perbuatan manusia, maka hukum asalnya adalah mubah, selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya. Jadi hukum asal benda adalah mubah. Benda tidak diharamkan kecuali jika terdapat dalil syar'i yang menunjukkan keharamannya.
Prinsip ini didasarkan pada nash-nash syara' yang telah membolehkan manusia untuk memanfaatkan semua benda yang ada (di alam sekitarnya), sesuai nash-nash umum dalam masalah ini yang meliputi semua benda.

Allah SWT berfirman :

أَ لَمْ تَرَوا أَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السّمَوَاتِ وَ مَا فِي الأَرضِ
"Tidakkah kalian perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kalian apa saja yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." (Luqman 20)

Arti menundukkan seluruh apa yang ada di langit dan bumi untuk manusia, adalah bahwasanya Allah SWT telah membolehkan semua yang ada di dalamnya untuk dimanfaatkan oleh manusia. Allah SWT berfirman pula :

هُوَ الّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا
"Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian." (Al-Baqarah 29)

يَا أَيُّهَا النَّاس كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (tidak menjijikkan) dari apa yang terdapat di bumi."
(Al Baqarah 168)

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمْ الأَرضَ ذَلُولاً فَامْشُـوا
فِي مَنَاكِبِهَـا وَ كُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
"Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya" (Al-Mulk 15)

Demikianlah. Semua ayat yang telah membolehkan segala sesuatu itu bersifat umum dan keumumannya ini menunjukkan hukum bolehnya memanfaatkan segala sesuatu yang ada. Dengan kata lain, hukum bolehnya memanfaatkan semua benda telah ditunjukkan oleh khithab (seruan) Asy-Syari' (Allah SWT) yang bersifat umum. Maka jika suatu benda diharamkan, berarti harus ada nash syara' yang mengkhususkan keumuman nash tersebut, serta menunjukkan pengecualian benda tersebut dari hukum mubah yang bersifat umum. Misalnya firman Allah SWT :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ المَيْتَةُ وَ الدَّمُ وَ لَحْمُ الخِنْزِيرِ وَ مَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَ الْمُنْخَنِقَةُ وَ المَوْقُوذَةُ وَ المُتَرَدِّيَةُ وَ النَّطِيحَةُ وَ مَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاّ مَا ذَكَّيْتُم وَ مَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ .

"Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging bab*, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian menyembelihnya, dan (diharamkan bagi kalian) yang disembelih untuk berhala..." (Al-Maaidah 3)

Dari dalil-dalil tersebut, maka hukum asal terhadap benda-benda yang digunakan manusia, adalah mubah.
2.    Hukum-hukum Syari'at Islam secara sempurna telah meliputi seluruh fakta yang telah ada, problem yang sedang terjadi, dan kejadian yang mungkin akan ada pada masa mendatang. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi, baik pada masa lalu, saat ini, maupun masa depan, kecuali ada hukumnya dalam Syari'at Islam. Jadi, Syari'at Islam telah menjangkau semua perbuatan manusia secara sempurna dan menyeluruh.

Allah SWT berfirman :

وَ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَ هُدًى
وَ رَحْمَةً وَ بُشْرَى لِلمُسْلِمِيْنَ
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang Islam." (An-Nahl 89)

مَا فَرَّطْنَا فِيْ الكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
"Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab (Al-Quran)." (Al-An'aam 38)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَ رَضِيْتُ لَكُمُ الإِسلاَمَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian ni'mat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu menjadi agama bagi kalian." (Al-Maaidah 3)

Walhasil, Syari'at Islam tidak pernah melalaikan satu pun perbuatan manusia. Bagaimana pun juga perbuatan itu, Syari'at Islam pasti akan menetapkan dalil untuk suatu perbuatan melalui nash Al-Quran dan Al-Hadits, atau dengan menetapkan tanda (amaarah) dalam Al-Quran dan Al-Hadits yang menunjukkan maksud dari tanda tersebut atau menunjukkan alasan penetapan hukumnya, sehingga hukum yang ada dapat diterapkan pada setiap objek hukum yang mengandung tanda atau alasan tersebut.
Jadi, secara syar'i tidak mungkin ada perbuatan manusia yang tidak dijelaskan oleh dalil, atau tanda yang menunjukkan status hukumnya. Ini berdasarkan keumuman firman Allah SWT:

تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
"untuk menjelaskan segala sesuatu" (An Nahl 89).

Juga berdasarkan nash yang tegas bahwa Allah SWT telah menyempurnakan agama Islam ini (Al-Maaidah 3).
3.    Berdasarkan dua poin penjelasan sebelumnya, jelaslah mana saja hal-hal yang boleh diambil kaum muslimin —dari apa yang dimiliki oleh umat dan bangsa lain— dan mana saja yang tidak boleh mereka ambil.
Seluruh ide yang berhubungan dengan sains, teknologi, penemuan-penemuan ilmiah, dan yang semisalnya, serta segala macam bentuk benda/alat/ bangunan yang bercorak kekotaan dan terlahir dari kemajuan sains dan teknologi, boleh diambil oleh kaum muslimin. Kecuali jika terdapat aspek-aspek tertentu yang menyalahi ajaran Islam, maka kaum muslimin haram untuk mengambilnya.
Ini dikarenakan semua pemikiran yang berkaitan dengan sains dan teknologi tidaklah berhubungan dengan Aqidah Islamiyah dan hukum-hukum syara' yang berkedudukan sebagai solusi terhadap problematika manusia dalam kehidupan, melainkan dapat dikategorikan ke dalam sesuatu yang mubah, yang dapat dimanfaatkan manusia dalam berbagai urusan hidupnya.
Dalil untuk ketentuan tersebut adalah ayat-ayat yang bersifat umum yang menerangkan bolehnya memanfaatkan seluruh benda-benda yang ada di alam semesta bagi kepentingan manusia. Juga berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW :

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ، إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيءٍ مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ،
وَ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيءٍ مِنْ أُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ
"Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian. Jika aku perintahkan kepada kalian mengenai sesuatu hal yang termasuk dalam urusan agama kalian, maka laksanakanlah perintah itu. Tapi jika aku perintahkan kalian mengenai sesuatu hal yang termasuk dalam urusan dunia kalian, maka ketahuilah aku ini hanyalah manusia biasa." (hari. Muslim).

Juga berdasarkan hadits Nabi SAW tentang penyer-bukan korma sebagaimana sabdanya :

أَنْتُمْ أَدْرَى بِشُئُوونِ دُنْيَاكُمْ
"Kalian lebih mengetahui urusan-urusan dunia kalian." (hari. Muslim)

Juga berdasarkan tindakan Nabi SAW tatkala mengutus beberapa shahabatnya ke suatu daerah di Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata perang.
    Atas dasar inilah, maka setiap perkara yang tidak termasuk masalah aqidah atau hukum syara', boleh untuk diambil selama tidak menyalahi ajaran Islam dan sepanjang tidak terdapat dalil khusus yang mengharamkannya.
Berdasarkan uraian di atas, kaum muslimin dibolehkan mengambil semua ilmu-ilmu yang ber-hubungan dengan kedokteran, teknik, matematika, astronomi, kimia, fisika, pertanian, industri, transportasi, ilmu kelautan, geografi, ilmu ekonomi —yang membahas aspek produksi, peningkatan kualitasnya, serta pengadaan sarana-sarana produksi dan peningkatan kualitasnya. Sebab, ilmu ini bersifat universal dan tidak dikhususkan untuk umat penganut Islam, kapitalisme atau sosialisme, dan semua ilmu tersebut boleh diambil selama tidak menyalahi ajaran Islam.
    Maka dari itu, Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah keturunan kera, tidak boleh diambil karena teori ini bertentangan dengan firman Allah SWT :

خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالفَخَّارِ
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar." (Ar-Rahmaan 14)

وَ بَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِيْنٍ
"(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (mani)." (As-Sajdah 7)

وَ مِنْ أَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ طُرَابٍ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah." (Ar-Ruum 20)


BERSAMBUNG......!

Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:11


Sebagaimana dibolehkan mengambil semua ilmu-ilmu seperti yang kami sebutkan di atas, kaum muslimin dibolehkan pula mengambil benda apa saja yang dihasilkannya seperti produk-produk industri, alat-alat, mesin-mesin, dan berbagai bentuk benda yang bercorak kekotaan dan berhubungan dengan sivilisasi. Maka dari itu dibolehkan mengambil pabrik-pabrik industri dalam segala jenisnya dan segala jenis produknya. Dikecualikan di sini pabrik-pabrik yang memproduksi patung, minuman keras, dan salib, karena terdapat nash yang mengharamkannya. Produk-produk industri boleh diambil baik yang berupa benda kemiliteran maupun bukan, baik industri berat —seperti tank, pesawat tempur, peluru kendali, satelit, bom atom, bom hidrogen, bom elektronik, bom kimia, traktor, teruk, kereta api, kapal api— maupun industri ringan seperti industri konsumtif, senjata-senjata ringan, alat-alat laboratorium, alat-alat kedokteran, alat-alat pertanian, furniture, karpet, dan barang-barang konsumtif.
Semua yang telah disebutkan di atas boleh diambil sebab semuanya termasuk dalam kategori benda-benda yang mubah, dan dalam hal ini terdapat dalil umum yang menunjukkan ke-mubahannya. Tindakan mengambilnya adalah berstatus mengamal-kan hukum syara', yaitu mubah, dan juga dalam rangka mengikuti syari'at Rasulullah SAW sebab semua itu termasuk mubah, sedang mubah merupakan salah satu hukum taklif (legal capacity) yang lima, yaitu: wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah.
4.    Adapun ide-ide yang berkaitan dengan aqidah dan hukum-hukum syara', serta ide-ide yang yang berhubungan dengan peradaban/kultur Islam, pan-dangan hidup Islam, dan hukum-hukum yang menjadi solusi bagi seluruh problema manusia, maka semua ide ini wajib disesuaikan dengan ketentuan syara', dan tidak boleh diambil dari mana pun kecuali hanya dari Syari'at Islam saja. Artinya, hanya diambil dari wahyu yang terkandung dalam Kitabullah, Sunah Rasul-Nya, dan apa-apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu Ijma' Sahabat dan Qiyas, serta sama sekali tidak boleh diambil dari selain sumber-sumber tersebut. Dalil syar'i untuk ketentuan di atas adalah sebagai berikut :
a.    Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kita untuk mengambil apa saja yang dibawa oleh Rasul SAW kepada kita dan meninggalkan apa saja yang dilarang oleh beliau. Allah SWT berfirman :

وَ مَا آتَاكُم الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa saja yang diberikan/diperintahkan Rasul kepada kalian maka terimalah/laksanakanlah dia, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr 7)

    Kata “مَا” (apa saja) dalam ayat di atas termasuk bentuk kata yang bersifat umum, yang berarti ayat itu mewajibkan kita mengambil semua hukum yang dibawa Nabi untuk kita, dan menjauhi semua yang dilarang beliau bagi kita. Mafhum mukhalafah (penentuan lawan hukum) dari ayat itu adalah bahwa kita tidak boleh mengambil hukum dari selain hukum yang dibawa Nabi untuk kita.
b. Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَ أَطِيْعُوا الرَّسُولَ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya) dan ulil amri (penguasa muslim yang menjalankan Syari'at Islam) di antara kamu." (An-Nisaa' 59)

Mentaati Allah dan Rasul-Nya tidak mungkin terwujud kecuali dengan mengamalkan dan meng-ambil hukum-hukum syara' yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
c. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan apa yang telah diputuskan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Dia telah memerintahkan mereka untuk kembali (merujuk) kepada hukum Allah dan hukum Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat. Allah SWT berfirman :

وَ مَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَ لاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَ رَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ الخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka."
(Al-Ahzab 36)

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوه إلَى اللهِ وَ الرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَ الْيَوْمَ الآخِرِ
"Kemudian jika kalian (rakyat dan penguasa) ber-lainan pendapat tentang sesuatu, maka kembali-kanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunahnya), jika kalian memang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir."
(An-Nisaa' 59)


di.    Allah SWT telah memerintahkan Rasul-Nya yang mulia untuk memberikan keputusan berdasarkan hukum yang telah diturunkan Allah, dan mem-peringatkan beliau agar waspada supaya tidak menyimpang sedikit pun dari hukum Allah SWT. Allah SWT berfirman :

وَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الكِتَابَ بِالحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الكِتَابِ وَ مُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَ لاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَ احْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُكَ عَنْ بَعْضِ
مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ
"Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai penghapus kitab-kitab tersebut; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (Al-Maaidah 48)
e. Sesungguhnya Allah SWT telah melarang kaum muslimin untuk mengambil hukum dari selain Syari'at Islam. Allah SWT berfirman :

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan." (An-Nisaa' 65)

فَلْيَحْذَرِ الذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ
أوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nuur 63)

يُرِيْدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَاغُوتِ وَ قَدْ أمِرُوا
أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ
"Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari (kufur terhadap) thaghut itu." (An-Nisaa' 60)

Selain itu Rasulullah SAW telah bersabda :

كُلُّ عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Setiap perbuatan yang tak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak."
(hari. Muslim)

    Nash-nash syara' di atas menunjukkan dengan jelas mengenai kewajiban untuk terikat dengan seluruh hukum yang dibawa Rasul SAW untuk kita. Maka kita tidak boleh menghalalkan sesuatu kecuali apa yang telah dihalalkan Allah, dan tidak boleh mengharamkan sesuatu kecuali apa yang telah diharamkan Allah. Begitu pula apa yang tidak dibawa Rasul untuk kita, kita tidak boleh mengambil-nya, dan apa yang tidak beliau haramkan atas kita, kita tidak boleh mengharamkannya.
Jika kata “مَا” (apa saja) dalam firman-Nya :

وَ مَا آتَاكُمْ
"Apa saja yang diberikan/diperintahkan Rasul kepada kalian." dan,
وَ مَا نَهـَاكُمْ
“dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian."

dikaitkan dengan firman Allah SWT :

فَلْيَحْذَرِ الذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ
أوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nuur 63)

Maka, akan nampak sangat jelas adanya kewajiban untuk mengambil apa yang dibawa Rasul saja, dan bahwa mengambil (hukum) dari selain Rasul adalah dosa yang pelakunya akan mendapatkan azab yang pedih. Bahkan Allah SWT tidak mengakui keimanan dari orang yang berhakim kepada selain Rasul dalam perbuatan-perbuatannya. Allah SWT berfirman :

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan." (An-Nisaa' 65)

Hal ini menunjukkan secara tegas mengenai pembatasan berhakim hanya pada apa yang dibawa Rasul saja, apalagi Allah SWT telah memperingatkan Rasul-Nya untuk waspada supaya tidak dipalingkan manusia dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadanya. Allah SWT berfirman :

وَ احْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ
"Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka (ahli kitab), supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang diturunkan Allah kepadamu." (Al-Maaidah 49)

Di samping itu, Al-Quran telah mencela orang-orang yang hendak berhakim kepada hukum yang tidak dibawa Rasul, yakni hendak kepada hukum-hukum kufur. Allah SWT berfirman :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الذِيْنَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوْا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إلَى الطَاغُوتِ وَ قَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَ يُرِيدُ الشَيْطَانُ
أَنْ يُضِلَّهُم ضَلاَلاً بَعِيْدًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut (hukum dan undang-undang kufur), padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (An-Nisaa' 60)

Hal ini menunjukkan bahwa berhakim kepada hukum yang tidak dibawa Rasul adalah suatu kesesatan, sebab tindakan ini berarti berhakim kepada thaghut, yakni kekufuran. Padahal Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengingkari thaghut itu.


BERSAMBUNG....!

Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:11


Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka kaum muslimin tidak boleh mengambil peradaban/ kultur Barat, beserta segala peraturan dan undang-undang yang terlahir darinya. Sebab, peradaban tersebut bertentangan dengan peradaban Islam. Kecuali peraturan dan undang-undang administratif yang bersifat mubah dan boleh diambil, sebagaimana Umar bin Khaththab telah mengambil peraturan administrasi perkantoran dari Persia dan Romawi.
    Peradaban Barat berdiri di atas aqidah pemisahan agama dari kehidupan, serta pemisahan agama dari negara.
    Sementara peradaban Islam berlandaskan pada Aqidah Islamiyah, yang telah mewajibkan pelaksanaan kehidupan bernegara berdasarkan perintah dan larangan Allah, yakni hukum-hukum syara'.
    Peradaban Barat berdiri di atas asas manfaat (oportunity), dan menjadikannya sebagai tolok ukur bagi seluruh perbuatan. Dengan demikian, peradaban Barat adalah peradaban yang hanya mempertim-bangkan nilai manfaat saja, serta tidak memperhi-tungkan nilai apa pun selain nilai manfaat yang bersifat materialistik. Karena itu, dalam peradaban Barat tidak akan dijumpai nilai kerohanian, nilai akhlak, dan nilai kemanusiaan.
    Sementara itu peradaban Islam berdiri di atas landasan rohani (spiritual), yakni iman kepada Allah, dan menjadikan prinsip halal-haram sebagai tolok ukur seluruh perbuatan manusia dalam kehidupan, serta mengendalikan seluruh aktivitas dan nilai berdasarkan perintah dan larangan Allah.
    Peradaban Barat menganggap kebahagiaan adalah memberikan kenikmatan jasmani yang sebesar-besarnya kepada manusia dan segala sarana untuk memperolehnya.
    Sementara itu peradaban Islam menganggap kebahagiaan adalah diraihnya ridla Allah SWT. Peradaban tersebut mengatur pemenuhan kebutuhan naluri dan jasmani manusia berdasarkan hukum-hukum syara'.
    Atas dasar itulah, maka kaum muslimin tidak boleh mengambil sistem pemerintahan demokrasi, sistem ekonomi kapitalisme, dan sistem kebebasan individu yang ada di negara-negara Barat. Dengan demikian, kaum muslimin tidak boleh mengambil konstitusi dan undang-undang demokrasi, sistem pemerintahan kerajaan dan republik, bank-bank ribawi, dan sistem bursa dan pasar uang internasional. Kaum muslimin tidak boleh mengambil semua peraturan ini karena semuanya merupakan peraturan dan undang-undang kufur yang sangat bertentangan dengan hukum dan peraturan Islam.

    Sebagaimana tidak boleh mengambil peradaban Barat beserta segenap ide dan peraturan yang terlahir darinya, maka kaum muslimin juga tidak boleh mengambil peradaban/kultur komunisme. Sebab, peradaban ini juga bertentangan dengan peradaban Islam secara menyeluruh.
    Peradaban komunisme berdiri di atas suatu aqidah yaitu bahwa tidak ada pencipta terhadap alam semesta ini, dan bahwa materilah yang menjadi asal usul segala benda. Seluruh benda di alam semesta ini dianggapnya berasal dari materi melalui jalan evolusi materi.
    Sedangkan peradaban Islam berdiri di atas prinsip bahwa Allah sajalah yang menjadi pencipta alam semesta ini, dan bahwa seluruh benda yang ada di alam semesta merupakan makhluk Allah SWT. Allah telah mengutus para nabi dan rasul dengan membawa agama-Nya kepada umat manusia dan mewajibkan mereka untuk mengikuti perintah dan larangan-Nya yang telah diturunkan kepada mereka.
    Peradaban komunisme menganggap bahwa peraturan hanya diambil dari alat-alat produksi. Masyarakat feodal menggunakan kapak sebagai alat produksinya, maka dari alat tersebut diambil peraturan feodalisme. Dan jika masyarakat itu berkembang menjadi masyarakat kapitalisme, maka mesin menjadi alat produksi, dan dari alat ini diambil peraturan kapitalisme. Jadi peraturan komunisme diambil dari evolusi materi.
    Sedangkan peradaban Islam, menganggap bahwa Allah SWT telah menetapkan suatu peraturan bagi manusia untuk dilaksanakan dalam hidupnya, dan mengutus Sayyidina Muhammad SAW untuk membawa peraturan ini, dan Rasul telah menyampaikan peraturan tersebut kepada manusia, dan mewajibkan mereka untuk melaksanakannya.
    Peradaban komunisme memandang bahwa peraturan materi adalah tolok ukur dalam kehidupan. Dengan berkembangnya peraturan materi tersebut, maka berkembanglah tolok ukur dalam kehidupan.
    Sementara itu peradaban Islam memandang halal-haram —yakni perintah dan larangan Allah— sebagai tolok ukur perbuatan dalam kehidupan. Yang halal dikerjakan, dan yang haram ditinggalkan. Dan bahwasanya hukum-hukum ini tidak akan berevolusi dan atau berubah. Prinsip halal-haram ini juga tidak akan ditetapkan berdasarkan asas manfaat ataupun materialisme, malinkan ditetapkan atas dasar syara’ semata. Dari sinilah jelas terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara peradaban komunisme dan peradaban Islam. Dengan demikian, kaum muslimin tidak boleh mengambil peradaban komunisme beserta segala ide dan peraturan yang berasal darinya.
    Karenanya, kaum muslimin tidak boleh mengambil ide evolusi materi, ide penghapusan kepe-milikan individu, penghapusan kepemilikian pabrik dan alat produksi, dan penghapusan kepemilikan tanah bagi individu. Begitu pula kaum muslimin tidak boleh mengambil ide mempertuhankan manusia, ide menyembah manusia, dan seluruh ide atau peraturan dari peradaban yang atheistik ini. Sebab, semuanya adalah ide dan peraturan kufur yang bertentangan dengan Aqidah Islam serta ide-ide dan hukum-hukum Islam.

    Sekarang kami akan menjelaskan pertentangan total antara demokrasi dengan Islam dari segi sumber kemunculannya, aqidah yang melahirkannya, asas yang mendasarinya, serta ide dan peraturan yang dibawanya.
    Sumber kemunculan demokrasi adalah manusia. Dalam demokrasi, yang menjadi pemutus (al-haakim) untuk memberikan penilaian terpuji atau tercelanya benda yang digunakan manusia dan perbuatan-perbuatannya, adalah akal. Para pencetus demokrasi adalah para filosof dan pemikir di Eropa, yang muncul tatkala berlangsung pertarungan sengit antara para kaisar dan raja di Eropa dengan rakyat mereka. Dengan demikian, jelas bahwa demokrasi adalah buatan manusia, dan bahwa pemutus segala sesuatu adalah akal manusia.
    Sedangkan Islam sangat bertolak belakang dengan demokrasi dalam hal ini. Islam berasal dari Allah, yang telah diwahyukan-Nya kepada rasul-Nya Muhammad bin Abdullah SAW. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

وَ مَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanya berupa wahyu yang diwahyukan." (An-Najm 3-4)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ القَدْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan." (Al-Qadr 1)

    Yang menjadi pemutus dalam Islam, yaitu yang memberikan penilaian terpuji dan tercelanya benda dan perbuatan manusia, adalah Allah SWT, atau syara', bukannya akal. Aktivitas akal terbatas hanya untuk memahami nash-nash yang berkenaan dengan hukum yang diturunkan Allah SWT. Allah SWT berfirman :

إِنِ الحُكْمُ إلاَّ للهِ
"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah."
(Al-An'aam 57)

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ اَلى اللهِ وَ الرَّسُولِ

"Kemudian jika kamu (rakyat dan negara) berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunahnya)."
(An-Nisaa' 59)

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إلَى اللهِ
"Tentang apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah." (Asy-Syuuraa 10)

    Adapun aqidah yang melahirkan ide demokrasi, adalah aqidah pemisahan agama dari kehidupan dan negara (sekularisme). Aqidah ini dibangun di atas prinsip jalan tengah (kompromi) antara para rohaniwan Kristen —yang diperalat oleh para raja dan kaisar dan dijadikan tunggangan untuk mengeksploitir dan menzhalimi rakyat, menghisap darah mereka atas nama agama, serta menghendaki agar segala urusan tunduk di bawah peraturan agama— dengan para filosof dan pemikir yang mengingkari eksistensi agama dan menolak otoritas para rohaniwan.
    Aqidah ini tidak mengingkari eksistensi agama, tetapi hanya menghapuskan perannya untuk mengatur kehidupan bernegara. Dengan sendirinya konsekuensi aqidah ini ialah memberikan kewenangan kepada manusia untuk membuat peraturan hidupnya sendiri.
    Aqidah inilah yang menjadi landasan pemikiran (Qaidah Fikriyah) ide-ide Barat. Dari aqidah ini lahir peraturan hidupnya dan atas asas dasar aqidah ini Barat menentukan orientasi pemikirannya dan pandangan hidupnya. Dari aqidah ini pula lahir ide demokrasi.
    Sedangkan Islam, sangatlah berbeda dengan Barat dalam hal aqidahnya. Islam dibangun di atas landasan Aqidah Islamiyah, yang mewajibkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah —yakni hukum-hukum syara' yang lahir dari Aqidah Islamiyah— dalam seluruh urusan kehidupan dan kenegaraan. Aqidah ini menerangkan bahwa manusia tidak berhak membuat peraturan hidupnya sendiri. Manusia hanya berkewajiban menjalani kehidupan menurut peraturan yang ditetapkan Allah SWT untuk manusia.
    Aqidah Islamiyah inilah yang menjadi asas peradaban/kultur dan pandangan hidup Islam.

    Mengenai ide yang melandasi demokrasi, sesung-guhnya terdapat dua ide yang pokok : Perta-ma, kedaulatan di tangan rakyat. Kedua, rakyat sebagai sumber kekuasaan.
    Demokrasi menetapkan bahwa rakyatlah yang memiliki dan melaksanakan kehendaknya, bukan para raja dan kaisar. Rakyatlah yang menjalankan kehendaknya sendiri.
    Berdasarkan prinsip bahwa rakyat adalah pemilik kedaulatan, pemilik dan pelaksana kehendak, maka rakyat berhak membuat hukum yang merupakan ungkapan dari pelaksanaan kehendak rakyat dan ungkapan kehendak umum dari mayoritas rakyat. Rakyat membuat hukum melalui para wakilnya yang mereka pilih untuk membuat hukum sebagai wakil rakyat.
    Rakyat berhak menetapkan konstitusi, peraturan, dan undang-undang apa pun. Rakyat berhak pula membatalkan konstitusi, peraturan, dan hukum apa pun, menurut pertimbangan mereka berdasarkan kemaslahatan yang ada. Dengan demikian rakyat berhak mengubah sistem pemerintahan dari kerajaan menjadi republik atau sebaliknya, sebagaimana rakyat juga berhak mengubah sistem republik presidentil menjadi republik parlementer atau sebaliknya. Hal ini pernah terjadi, misalnya di Perancis, Italia, Spanyol, Yunani, di mana rakyatnya telah mengubah sistem pemerintahan yang ada dari kerajaan menjadi republik dan dari republik menjadi kerajaan.
    Demikian pula rakyat berhak mengubah sistem ekonomi dari kapitalisme menjadi sosialisme atau sebaliknya. Dan rakyat pun melalui para wakilnya dianggap berhak menetapkan hukum mengenai bolehnya murtad dari satu agama kepada agama lain, atau kepada keyakinan yang non-agama (animisme/paganisme), sebagaimana rakyat dianggap berhak menetapkan hukum bolehnya zina, homoseksual, serta mencari nafkah dengan jalan zina dan homoseksual itu.
    Berdasarkan prinsip bahwa rakyat sebagai sumber kekuasaan, maka rakyat dapat memilih penguasa yang diinginkannya untuk menerapkan peraturan yang dibuat rakyat dan untuk memutuskan perkara berdasarkan hukum itu. Rakyat juga berhak memberhentikan penguasa dan menggantinya dengan penguasa lain. Jadi, rakyatlah yang memiliki kekuasaan, sedang penguasa mengambil kekuasaannya dari rakyat.
    Sementara itu, Islam menyatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan syara', bukan di tangan umat. Sebab, Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai Musyarri' (pembuat hukum). Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walau pun hanya satu hukum. Kalau sekiranya seluruh umat Islam berkumpul lalu menyepakati bolehnya riba untuk meningkatkan kondisi perekonomian, atau menyepakati bolehnya lokalisasi perzinaan dengan dalih agar zina tidak menyebar luas di tengah masyarakat, atau menyepakati penghapusan kepemilikan individu, atau menyepakati penghapusan puasa Ramadlan agar dapat meningkatkan produktivitas kerja, atau menyepakati pengadopsian ide kebebasan individu yang memberikan kebebasan kepada seorang muslim untuk meyakini aqidah apa saja yang diinginkannya, dan yang memberikan hak kepadanya untuk mengembangkan hartanya dengan segala cara meskipun haram, yang memberikan kebebasan berperilaku kepadanya untuk menikmati hidup sesuka hatinya seperti menenggak khamr dan berzina; maka seluruh kesepakatan ini tidak ada nilainya sama sekali. Bahkan dalam pandangan Islam seluruh kesepakatan itu tidak senilai walaupun dengan sebuah sayap nyamuk.
    Jika ada sekelompok kaum muslimin yang menyepakati hal-hal tersebut, maka mereka wajib diperangi sampai mereka melepaskan diri dari kesepakatan tersebut.
    Yang demikian itu karena kaum muslimin dalam seluruh aktivitas hidup mereka senantiasa wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah. Mereka tidak boleh melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam, sebagaimana mereka tidak boleh membuat satu hukum pun, dikarenakan memang hanya Allah saja yang layak bertindak sebagai Musyarri'. Allah SWT berfirman :

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan." (An-Nisaa' 65)

إِنِ الحُكْمُ إلاّ للهِ
"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah."
(Al-An'aam 57)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الذِيْنَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوْا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إلَى الطَاغُوتِ وَ قَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَ يُرِيدُ الشَيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُم ضَلاَلاً بَعِيْدًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Quran) dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu." (An-Nisaa' 60)

    Berhakim kepada thaghut artinya berhakim kepada hukum yang tidak diturunkan Allah. Atau dengan kata lain, berhakim kepada hukum-hukum kufur yang dibuat manusia.
    Dan Allah SWT berfirman :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَ مَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin." (Al-Maaidah 50)

    Hukum Jahiliyah adalah hukum yang tidak dibawa Muhammad SAW dari Tuhannya. Yaitu hukum kufur yang dibuat oleh manusia. Allah SWT berfirman juga :

فَلْيَحْذَرِ الذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ
أوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nuur 63).

    Yang dimaksud menyalahi perintah Rasul —sesuatu yang harus diwaspadai itu— adalah mengikuti hukum yang dibuat manusia dan meninggalkan hukum yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Rasululah SAW bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang melakukan perbuatan yang tak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak."
(hari. Muslim)

    Yang dimaksud dengan kata "amruna" (perintah kami) dalam hadits di atas adalah Islam.
    Masih ada puluhan ayat dan hadits lain dengan pengertian yang qath'i (pasti), yang menegaskan bahwa kedaulatan adalah di tangan syara', yakni bahwa Allah sajalah yang menjadi Musyarri', bahwa manusia tidak boleh membuat hukum, serta bahwa mereka wajib untuk melaksanakan seluruh aktivitasnya dalam kehidupan ini sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
    Islam telah menetapkan bahwa pelaksanaan perintah dan larangan Allah itu ada di tangan kaum muslimin, sementara pelaksanaan perintah dan larangan Allah tersebut membutuhkan suatu kekuasaan untuk melaksanakannya.
    Karena itu, Islam menetapkan bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat Islam. Artinya, bahwa umat memiliki hak memilih penguasa, agar penguasa itu dapat menegakkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah atas umat.
    Prinsip ini diambil dari hadits-hadits mengenai bye'at, yang menetapkan adanya hak mengangkat khalifah di tangan kaum muslimin dengan jalan bye'at untuk mengamalkan Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
"Dan siapa saja yang mati sedang di lehernya tidak terdapat bye'at (kepada khalifah), berarti dia telah mati jahiliyah."(hari. Muslim)

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra, bahwa dia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
وَ مَنْ بَايعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إنِ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعْهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ
"Siapa saja yang membai'at seorang imam (khalifah) dan memberikan kepadanya genggaman tangan dan buah hatinya (bertekad janji), maka hendaklah dia mentaatinya sekuat kemampuannya. Dan jika ada orang lain yang hendak merebut kekuasaannya, maka penggalllah batang lehernya." (hari. Muslim)


BERSAMBUNG......!

Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:11


Dari Ubadah bin Ash Shamit ra, dia mengatakan:

بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ  عَلَى السَّمْعِ وَ الطَاعَةِ فِي المَكرَهِ و المَنْشطِ
"Kami telah membai'at Nabi SAW untuk mendengar dan mentaatinya baik dalam hal yang dibenci maupun yang disukai."

    Di samping itu masih banyak hadits lain yang menerangkan bahwa umatlah yang mengangkat penguasa dengan jalan bye'at untuk mengamalkan Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.
    Meskipun syara' telah menetapkan bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat —yang diwakilkan kepada seorang khalifah untuk memerintah umat melalui prosesi bye'at— akan tetapi syara' tidak memberikan hak kepada umat untuk memberhentikan penguasa, seperti yang ada dalam sistem demokrasi.
    Ketentuan ini didasarkan pada hadits-hadits yang mewajibkan taat kepada khalifah meskipun dia berbuat zhalim, selama dia tidak memerintahkan maksiat. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
'Siapa saja yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dia benci, maka hendaklah dia bersabar. Karena sesungguhnya siapa saja yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal lalu mati, maka dia mati jahiliyah."
    Dari 'Auf bin Malik ra, dia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
...وًشِرَارُ أئِمَّتِكُمْ الذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَ يُبْغِضُونَكُمْ وَ تَلْعَنُوْنَكُمْ وَ يَلْعَنُونَكُمْ، قَال : قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ: أَفَلاَ نُنَابِذَهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ ؟ قَال : لاَ ، مَا أقَامُوا فِيكُمْ الصَلاَةَ ، ألاَ مَنْ وَليَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرآهُ يَأتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَليَكْرَههُ مَا يَأتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ
وَ لاَ يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
'...sejahat-jahat pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci sedang mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka sedang mereka pun melaknat kalian. 'Auf bin Malik lalu berkata,"Kami lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah tidak kita perangi saja mereka pada saat itu ?" Rasulullah SAW menjawab: "Tidak, selama mereka masih mendirikan sholat di tengah-tengah kalian, kecuali bila seseorang —yang menjadi rakyat seorang penguasa— menyaksikan penguasa itu mengerjakan perbuatan ma'shiat. Maka hendaklah dia membenci kemaksiatan yang dilakukan penguasa tersebut, tetapi sekali-kali dia tidak boleh melepaskan ketaatan kepadanya."

    Yang dimaksud dengan "mendirikan shalat" dalam hadits di atas ialah "melaksanakan hukum-hukum Islam". Karena ungkapan tersebut merupakan ungkapan majazi (kiasan), yakni menyebut sebagian tetapi yang dimaksud adalah keseluruhannya.
    Demikian pula umat tidak boleh memberontak terhadap penguasa kecuali jika dia menampakkan kekufuran yang terang-terangan, sebagaimana hadits Ubadah bin Ash Shamit mengenai bye'at. Dalam hadits itu terdapat keterangan :


...فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَمْع وَ الطَاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ أَثَرَةٍ عَلَيْنَا ، وَ أَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إلاّ أَنْ تَرَاوْ كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرهَانٌ
"...Maka kami membai'at beliau (Rasul). Rasulullah menjelaskan apa-apa yang harus kami lakukan, yakni bahwa kami membai'at beliau untuk mendengar dan mentaatinya, dalam apa yang kami sukai dan apa yang kami benci, dalam apa yang sukar dan yang mudah bagi kami, serta untuk tidak lebih mengutamakan diri (daripada orang lain). Dan kami juga tidak akan merebut kekuasaan dari yang berhak, kecuali (Rasulullah mengatakan)', jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, yang kalian mempunyai bukti yang kuat tentangnya dari sisi Allah."

    Yang mempunyai wewenang memberhentikan khalifah adalah Mahkamah Mazhalim. Ini dikarenakan bahwa terjadinya suatu kasus yang dapat menjadi alasan diberhentikannya khalifah, merupakan suatu jenis kezhaliman yang harus dilenyapkan. Dan kasus itu juga dianggap sebagai kasus yang memerlukan penetapan (itsbat) yang harus dilakukan di hadapan hakim.
    Mengingat Mahkamah Mazhalim merupakan lembaga yang berwenang memutuskan pelenyapan kezhaliman dalam Daulah Islamiyah, sementara hakimnya memang berwenang untuk menetapkan terjadinya kezhaliman dan memutuskannya, maka Mahkamah Mazhalimlah yang berhak memutuskan apakah kasus kezhaliman di atas telah terjadi atau tidak. Mahkamah Mazhalim pula yang berhak memutuskan pemberhentian khalifah.

    Demokrasi dapat dianggap sebagai pemerintahan mayoritas dan hukum mayoritas. Karenanya pemilihan para penguasa, anggota dewan perwakilan, serta anggota berbagai lembaga, kekuasaan, dan organisasi, semuanya didasarkan pertimbangan suara bulat (mayoritas). Demikian juga pembuatan hukum di dewan perwakilan, pengambilan keputusan di berbagai dewan, kekuasaan, lembaga, dan organisasi, seluruhnya dilaksanakan berdasarkan pendapat mayoritas.
    Oleh karena itu, dalam sistem demokrasi pendapat mayoritas bersifat mengikat bagi semua pihak, baik penguasa maupun bukan. Sebab pendapat mayoritas merupakan sesuatu yang mengungkapkan kehendak rakyat. Jadi pihak minoritas tidak mempunyai pilihan kecuali tunduk dan mengikuti pendapat mayoritas.
    Sedangkan dalam Islam, permasalahannya sangatlah berbeda. Dalam masalah penentuan hukum, kriterianya tidak tergantung pada pendapat mayoritas atau minoritas, melainkan pada nash-nash syara'. Sebab, yang menjadi Musyarri' hanyalah Allah SWT, bukan umat.
    Adapun pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengadopsi (melakukan proses legislasi) hukum-hukum syara' yang menjadi keharusan untuk memelihara urusan umat dan menjalankan roda pemerintahan, adalah khalifah saja. Khalifah mengambil hukum syara' dari nash-nash syara' dalam Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, berdasarkan kriteria kekuatan dalil melalui proses ijtihad yang benar. Dalam hal ini khalifah tidak wajib meminta pendapat Majelis Umat mengenai hukum-hukum yang akan dilegalisasikannya, meskipun hal ini boleh saja dia lakukan. Para Khulafa' Rasyidin dahulu telah meminta pendapat para shahabat ketika mereka hendak mengadopsi suatu hukum syara', misalnya Umar bin Khaththab pernah meminta pendapat kaum muslimin tatkala dia hendak mengadopsi hukum syara' mengenai masalah tanah-tanah taklukan di Syam, Mesir, dan Irak. Umar bin Khaththab telah meminta pendapat kaum muslimin dalam masalah tersebut.
    Jika khalifah meminta pendapat Majelis Umat mengenai hukum-hukum syara' yang hendak diadopsinya, maka pendapat Majelis Umat ini tidak mengikat khalifah, meskipun pendapat itu diputuskan berdasarkan suara bulat atau suara mayoritas. Yang demikian ini karena Rasulullah SAW pernah mengesampingkan pendapat kaum muslimin yang menolak penetapan Perjanjian Hudaibiyah. Padahal pendapat kaum muslimin waktu itu merupakan pendapat mayoritas. Tetapi toh Rasulullah menolak pendapat mereka, dan tetap menyepakati Perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah SAW bersabda kepada mereka :

إِنِّي عَبْدَ اللهِ وَ رَسُوْلَهُوَ لَنْ أُخَالِفَ أَمْرَهُ
"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dan sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya."

    Selain itu para shahabat yang mulia telah bersepakat bahwa seorang Imam (Khalifah) memang berhak untuk mengadopsi hukum-hukum syara' tertentu, serta berhak memerintahkan rakyat untuk mengamalkannya. Kaum muslimin wajib mentaatinya dan meninggalkan pendapat mereka. Dari adanya Ijma' Shahabat inilah di-istimbath (diambil dan ditetapkan) kaidah-kaidah syara' yang terkenal :

أَمْرُ الإِمَامِ يَرْفَعُ الخِلاَفَ
"Perintah (keputusan) Imam (khalifah) menghilangkan perbedaan pendapat."

أَمْرُ الإِمَامِ نَافِذٌ ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا
"Perintah (keputusan) Imam wajib dilaksanakan, baik secara lahir maupun batin."



لِلسُّلْطَانِ أَنْ يُحْدِثَ مِنَ الأَقْضِيَةِ بِقَدْرِ مَا يَحْدُثُ مِنْ مُشْكِلاَتٍ
"Penguasa (khalifah) berhak mengeluarkan keputusan-keputusan (hukum) baru, sesuai perkembangan problem yang terjadi."

    Di samping itu, Allah SWT telah memerintahkan kita untuk mentaati Ulil Amri, sebagaimana firman-Nya:

أَطِيْعُوا اللهَ وَ أَطِيْعُوا الرَّسُولَ وَ أولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan Ulil Amri di antara kamu."

    Yang dimaksud dengan ulil amri dalam ayat di atas adalah para penguasa muslim yang menerapkan hukum Islam.
    Adapun masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek profesi dan ide yang membutuhkan keahlian, pemikiran, dan pertimbangan yang mendalam, maka yang dijadikan kriteria adalah ketepatan atau kebenarannya. Bukan berdasarkan suara mayoritas atau minoritas. Jadi masalah yang ada harus dikembalikan kepada para ahlinya. Merekalah yang dapat memahami permasalahan yang ada dengan tepat. Masalah-masalah kemiliteran dikembalikan kepada para pakar militer. Masalah-masalah fiqih dikem-balikan kepada para fuqaha dan mujtahidin. Masalah-masalah medis dikembalikan kepada para dokter spesialis. Masalah-masalah teknik dikembalikan kepada para pakar insinyur teknik. Masalah-masalah ide/gagasan dikembalikan kepada para pemikir besar. Demikian seterusnya.
    Dengan demikian yang menjadi patokan dalam masalah-masalah seperti ini adalah ketepatan, bukan suara mayoritas. Dan pendapat yang tepat diambil dari pihak yang berkompeten, yaitu para ahlinya, bukan berdasarkan suara mayoritas.
    Yang patut dicatat, bahwa para anggota majlis perwakilan rakyat (parlemen) baik yang ada di negeri-negeri Islam maupun di Barat saat ini, sebagian besarnya bukanlah orang yang berkeahlian, dan bukan pula orang yang mampu memahami setiap permasalahan secara tepat. Sehingga suara mayoritas anggota lembaga perwakilan yang ada sebenarnya tidak ada faedahnya dan bahkan tidak ada nilainya sama sekali. Persetujuan atau penentangan mereka di dalam sidang majlis hanya berupa formalitas belaka, tidak didasarkan pada pemahaman, kesadaran, atau pengetahuan yang tepat.
    Oleh karena itu, dalam masalah-masalah yang memerlukan keahlian seperti tersebut di atas, suara mayoritas tidaklah bersifat mengikat.
    Dalil untuk ketentuan ini adalah peristiwa ketika Rasulullah SAW mengikuti pendapat Al Hubab bin Al Mundzir pada Perang Badar —yang saat itu merupakan pakar dalam hal tempat-tempat strategis— yang meng-usulkan kepada Nabi agar meninggalkan tempat yang dipilih Nabi, kalau sekiranya ketentuan tempat itu bukan dari wahyu. Al Hubab memandang tempat tersebut tidak layak untuk kepentingan pertempuran. Maka Rasulullah mengikuti pendapat Al Hubab dan berpindah ke suatu tempat yang ditunjukkan oleh Al Hubab. Jadi Rasulullah SAW telah meninggalkan pendapatnya sendiri dan tidak meminta pertimbangan kepada para shahabat lainnya dalam masalah tersebut.
    Adapun masalah-masalah yang langsung menuju kepada amal (praktis), yang tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan mendalam, maka yang menjadi patokan adalah suara mayoritas, sebab mayoritas orang dapat memahaminya dan dapat memberikan pendapatnya dengan mudah menurut pertimbangan kemaslahatan yang ada. Masalah-masalah seperti ini contohnya, apakah kita akan memilih si A atau si B (sebagai kepala negara atau ketua organisasi misalnya, pen.), apakah kita akan keluar kota atau tidak, apakah kita akan menempuh perjalanan pada pagi hari atau malam hari, apakah kita akan naik pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api. Masalah-masalah seperti ini dapat dimengerti oleh setiap orang sehingga mereka dapat memberikan pendapatnya. Oleh karena itu, dalam masalah-masalah seperti ini suara mayoritas dapat dijadikan pedoman dan bersifat mengikat.
    Dalil untuk ketentuan tersebut adalah peristiwa yang terjadi pada Rasulullah SAW ketika Perang Uhud. Rasulullah SAW dan para shahabat senior berpendapat bahwa kaum muslimin tidak perlu keluar dari kota Madinah. Sedang mayoritas shahabat —khususnya para pemudanya— berpendapat bahwa kaum muslimin hendaknya keluar dari kota Madinah guna menghadapi kaum Quraisy di luar kota Madinah. Jadi pendapat yang ada berkisar di antara dua pilihan, keluar kota Madinah atau tidak.
    Dikarenakan mayoritas shahabat berpendapat untuk keluar kota Madinah, maka Nabi SAW mengikuti pendapat mereka dan mengabaikan pendapat para shahabat senior, serta berangkat menuju Uhud di luar kota Madinah untuk menghadapi pasukan Quraisy.

***
    Adapun ide kebebasan individu, sesungguhnya merupakan salah satu ide yang paling menonjol dalam demokrasi. Ide ini dianggap sebagai salah satu pilar penting dalam demokrasi, sebab dengan ide ini tiap-tiap individu akan dapat melaksanakan dan menjalankan kehendaknya seperti yang diinginkannya tanpa tekanan atau paksaan. Rakyat dianggap tidak akan dapat mengekspresikan kehendak umumnya kecuali dengan terpenuhinya kebebasan individu bagi seluruh rakyat.
    Kebebasan individu merupakan suatu ajaran suci dalam sistem demokrasi, sehingga baik negara maupun individu tidak dibenarkan melanggarnya. Sistem demokrasi kapitalis menganggap bahwa adanya peraturan yang bersifat individualistik, serta pemeliharaan dan penjagaan terhadap kebebasan individu, merupakan salah satu tugas utama negara.
    Kebebasan individu yang dibawa demokrasi tidak dapat diartikan sebagai pembebasan bangsa-bangsa terjajah dari negara-negara penjajahnya yang telah meng-eksploitir dan merampas kekayaan alamnya. Sebabnya karena ide penjajahan tiada lain adalah salah satu buah dari ide kebebasan kepemilikan, yang justru dibawa oleh demokrasi itu sendiri.
    Demikian pula kebebasan individu tidak berarti pembebasan dari perbudakan, sebab budak saat ini sudah tidak ada lagi.
    Yang dimaksud dengan kebebasan individu tiada lain adalah empat macam kebebasan berikut ini :
1.     Kebebasan beragama.
2.     Kebebasan berpendapat.
3.     Kebebasan kepemilikan.
4.     Kebebasan bertingkah laku.
    Keempat macam kebebasan ini tidak ada dalam kamus Islam, sebab seorang muslim wajib mengikatkan diri dengan hukum syara' dalam seluruh perbuatannya. Seorang muslim tidak dibenarkan berbuat sekehendaknya. Dalam Islam tidak ada yang namanya kebebasan kecuali kebebasan budak dari perbudakan, sedang perbudakan itu sendiri sudah lenyap sejak lama.
    Keempat macam kebebasan tersebut sangat berten-tangan dengan Islam dalam segala aspeknya sebagaimana penjelasan kami berikutnya.

***
    Kebebasan beragama berarti seseorang berhak meyakini suatu aqidah yang dikehendakinya, atau memeluk agama yang disenanginya, tanpa tekanan atau paksaan. Dia berhak pula meninggalkan aqidah dan agamanya, atau berpindah kepada aqidah baru, agama baru, atau berpindah kepada kepercayaan non-agama (Animisme/paganisme). Dia berhak pula melakukan semua itu sebebas-bebasnya tanpa ada tekanan atau paksaan. Jadi, seorang muslim, misalnya, berhak berganti agama untuk memeluk agama Kristen, Yahudi, Budha, atau Komunisme dengan sebebas-bebasnya, tanpa boleh ada larangan baginya dari negara atau pihak lain untuk mengerjakan semua itu.
    Sedangkan Islam, telah mengharamkan seorang muslim meninggalkan Aqidah Islamiyah atau murtad untuk memeluk agama Yahudi, Kristen, Budha, komunisme, atau kapitalisme. Siapa saja yang murtad dari agama Islam maka dia akan diminta bertaubat. Jika dia kembali kepada Islam, itulah yang diharapkan. Tapi kalau tidak, dia akan dijatuhi hukuman mati, disita hartanya, dan diceraikan dari isterinya. Rasulullah SAW:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ
"Barang siapa mengganti agamanya (Islam), maka jatuhkanlah hukuman mati atasnya."
(hari. Muslim, dan Ashhabus Sunan)

    Jika yang murtad adalah sekelompok orang, dan mereka tetap bersikeras untuk murtad, maka mereka akan diperangi hingga mereka kembali kepada Islam atau dibinasakan. Hal ini seperti yang pernah terjadi pada orang-orang murtad setelah wafatnya Rasulullah tatkala Abu Bakar memerangi mereka dengan sengit sampai sebagian orang yang tidak terbunuh kembali kepada Islam.

***
    Adapun kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi, mempunyai arti bahwa setiap individu berhak untuk mengembangkan pendapat atau ide apa pun, bagaimana pun juga pendapat atau ide itu. Dia berhak pula menyatakan atau menyerukan ide atau pendapat itu dengan sebebas-bebasnya tanpa ada syarat atau batasan apapun, bagaimana pun juga ide dan pendapatnya itu. Dia berhak pula mengungkapkan ide atau pendapatnya itu dengan cara apapun, tanpa ada larangan baginya untuk melakukan semua itu baik dari negara atau pihak lain, selama dia tidak mengganggu kebebasan orang lain. Maka setiap larangan untuk mengembangkan, mengungkapkan, dan menyebarluaskan pendapat, akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kebebasan.
    Ketentuan ajaran Islam dalam masalah ini sangatlah berbeda. Seorang muslim dalam seluruh perbuatan dan perkataannya wajib terikat dengan apa yang terkandung dalam nash-nash syara'. Dengan demikian dia tidak boleh melakukan suatu perbuatan atau mengucapkan suatu perkataan kecuali jika dalil-dalil syar'i telah membolehkannya.
    Atas dasar itulah, maka seorang muslim berhak mengembangkan, menyatakan, dan menyerukan pendapat apapun, selama dalil-dalil syar'i telah membolehkannya. Tapi jika dalil-dalil syar'i telah melarangnya, maka seorang muslim tidak boleh mengembangkan, menyatakan, atau menyerukan pendapat tersebut. Jika dia tetap melakukannya, dia akan dikenai sanksi.
    Jadi seorang muslim itu wajib terikat dengan hukum-hukum syara' dalam mengembangkan, menyatakan, dan menyerukan suatu pendapat. Dia tidak bebas untuk melakukan semaunya.
    Islam sendiri telah mewajibkan seorang muslim untuk mengucapkan kebenaran di setiap waktu dan tempat. Dalam hadits Ubadah bin Ash Shamit ra, disebutkan :

...وَ أَنْ نَقُولَ بِالحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا ، لاَ نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ
"...dan kami akan mengatakan kebenaran di mana pun kami berada. Kami tidak takut karena Allah terhadap celaan orang yang mencela."

    Demikian pula Islam telah mewajibkan kaum muslimin untuk menyampaikan pendapat kepada penguasa dan mengawasi serta mengoreksi tindakan mereka. Diriwayatkan dari Ummu 'Athiyah dari Abu Sa'id ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

أَفْضَلُ الجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
"Jihad paling utama adalah (menyampaikan) perkataan yang haq kepada penguasa yang zhalim."

    Dirawayatkan pula dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seseorang pada saat melempar jumrah aqabah, "Jihad apa yang paling utama, wahai Rasulullah ? Maka Rasulullah SAW menjawab :

كَلِمَةُ حَقٍّ تُقَالُ عِنْدَ ذِي سُلْطَانٍ جَائِرٍ
"Yaitu menyampaikan perkataan yang haq kepada penguasa yang zhalim."

    Rasululah SAW pernah bersabda pula :

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ وَ رَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَنَصَحَهُ فَقَتَلَهُ
"Pemimpin para syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan Imam yang zhalim, kemudian dia menasehati Imam itu, lalu Imam itu membunuhnya."

    Tindakan yang demikian ini bukanlah suatu kebe-basan berpendapat, melainkan keterikatan dengan hukum-hukum syara', yakni kebolehan menyampaikan pendapat dalam satu keadaan, dan kewajiban menyampaikan pendapat dalam keadaan lain.


***
    Adapun kebebasan kepemilikan —yang telah melahirkan sistem ekonomi kapitalisme, yang selanjutnya melahirkan ide penjajahan terhadap bangsa-bangsa di dunia serta perampokan kekayaan alamnya— mempunyai arti bahwa seseorang boleh memiliki harta (modal), dan boleh mengembangkannya dengan sarana dan cara apapun. Seorang penguasa dianggap berhak memiliki harta dan mengembangkannya melalui imperialisme, peram-pasan dan pencurian harta kekayaan alam dari bangsa-bangsa yang dijajah. Seseorang dianggap pula berhak memiliki dan mengembangkan harta melalui penimbunan dan mudlarabah (usaha-usaha komanditen/trustee) mengambil riba, menyembunyikan cacat barang dagangan, berlaku curang dan menipu, menetapkan harga tinggi secara tidak wajar, mencari uang dengan judi, zina, homoseksual, mengeksploitir tubuh wanita, memproduksi dan menjual khamr, menyuap, dan atau menempuh cara-cara lainnya.
    Sedangkan ajaran Islam, sangat bertolak belakang dengan ide kebebasan kepemilikan harta tersebut. Islam telah memerangi ide penjajahan bangsa-bangsa serta ide perampokan dan penguasaan kekayaan alam bangsa-bangsa di dunia. Islam juga menentang praktik riba baik yang berlipat ganda maupun yang sedikit. Seluruh macam riba dilarang. Di samping itu Islam telah menetapkan adanya sebab-sebab kepemilikan harta, sebab-sebab pengembangannya, dan cara-cara pengelolaannya. Islam mengharamkan ketentuan di luar itu semua. Islam mewajibkan seorang muslim untuk terikat dengan hukum-hukum syara' dalam usahanya untuk memiliki, mengem-bangkan, dan mengelola harta. Islam tidak memberikan kebebasan kepadanya untuk mengelola harta sekehendak-nya, tetapi Islam telah mengikatnya dengan hukum-hukum syara', dan mengharamkannya untuk memiliki dan mengembangkan harta secara batil. Misalnya dengan cara merampas, merampok, mencuri, menyuap, mengambil riba, berjudi, berzina, berhomoseksual, menutup-nutupi kecacatan barang dagangan, berlaku curang dan menipu, menetapkan harga tinggi dengan tidak wajar, memproduksi dan menjual khamr, mengeksploitir tubuh wanita, dan cara-cara lain yang telah diharamkan sebagai jalan untuk memiliki dan mengembangkan harta.
    Semua itu merupakan sebab-sebab pemilikan dan pengembangan harta yang dilarang Islam. Dan setiap harta yang diperoleh melalui jalan-jalan itu, berarti haram dan tidak boleh dimiliki. Pelakunya akan dijatuhi sanksi.
    Dengan demikian jelaslah bahwa kebebasan kepemilikan harta itu tidak ada dalam ajaran Islam. Bahkan sebaliknya, Islam mewajibkan setiap muslim untuk terikat dengan hukum-hukum syara' dalam hal kepemilikan, pengembangan, dan pengelolaan harta. Dia tidak boleh melanggar hukum-hukum itu.

***
    Mengenai kebebasan bertingkah laku, artinya adalah kebebasan untuk lepas dari segala macam ikatan dan kebebasan untuk melepaskan diri dari setiap nilai kerohanian, akhlak, dan kemanusiaan. Juga berarti kebebasan untuk memporak-porandakan keluarga dan untuk membubarkan atau melestarikan institusi keluarga. Kebebasan ini merupakan jenis kebebasan yang telah menimbulkan segala kebinasaan dan membolehkan segala sesuatu yang telah diharamkan.
    Kebebasan inilah yang telah menjerumuskan masyarakat Barat menjadi masyarakat binatang yang sangat memalukan dan membejatkan moral individu-individunya sampai ke derajat yang lebih hina daripada binatang ternak.
    Kebebasan ini menetapkan bahwa setiap orang dalam perilaku dan kehidupan pribadinya berhak untuk berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya, sebebas-bebasnya, tanpa boleh ada larangan baik dari negara atau pihak lain terhadap perilaku yang disukainya. Ide kebebasan ini telah membolehkan seseorang untuk melakukan perzinaan, homoseksual, lesbianisme, meminum khamr, bertelanjang, dan melakukan perbuatan apa saja —walaupun sangat hina— dengan sebebas-bebasnya tanpa ada ikatan atau batasan, tanpa tekanan atau paksaan.
    Hukum-hukum Islam sangat bertentangan dengan kebebasan bertingkah laku tersebut. Tidak ada kebebasan bertingkah laku dalam Islam. Seorang muslim wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah dalam seluruh perbuatan dan tingkah lakunya. Haram baginya melakukan perbuatan yang diharamkan Allah. Jika dia mengerjakan suatu perbuatan yang diharamkan, berarti dia telah berdosa dan akan dijatuhi hukuman yang sangat keras.
    Islam telah mengharamkan perzinaan, homoseksual, lesbianisme, minuman keras, ketelanjangan, dan hal-hal lain yang merusak. Untuk masing-masing perbuatan itu Islam telah menetapkan sanksi tegas yang dapat membuat jera pelakunya.
    Islam memerintahkan muslim berakhlaq mulia dan terpuji, juga menjadikan masyarakat Islam sebagai masya-rakat yang bersih dan sangat memelihara kehormatannya serta penuh dengan nilai-nilai yang mulia.
***
    Dari seluruh penjelasan di atas, nampak dengan sangat jelas bahwa peradaban Barat, nilai-nilai Barat, pandangan hidup Barat, demokrasi Barat, dan kebebasan individu, seluruhnya bertentangan secara total dengan hukum-hukum Islam.
    Seluruhnya merupakan ide-ide, peradaban, peraturan, dan undang-undang kufur. Oleh karenanya adalah suatu kebodohan dan upaya penyesatan kalau ada yang mengatakan demokrasi itu adalah bagian dari ajaran Islam. Juga suatu kebodohan dan penyesatan kalau dikatakan demokrasi itu identik dengan sistem syura (permusyawaratan) itu sendiri, atau identik dengan amar ma'ruf nahi munkar, dan atau mengoreksi tingkah laku penguasa.
    Syura, amar ma'ruf nahi munkar, dan mengoreksi penguasa, adalah hukum-hukum syara', yang telah ditetapkan Allah SWT. Kaum muslimin telah diperintahkan untuk mengambil dan melaksanakannya dengan anggapan bahwa semua itu adalah hukum-hukum syara'.
    Sedangkan demokrasi bukanlah hukum-hukum syara' dan tidak berasal dari peraturan Allah. Demokrasi adalah buatan manusia dan peraturan buatan manusia.
    Demokrasi bukan syura, karena syura artinya adalah memberikan pendapat. Sedangkan demokrasi, sebenarnya merupakan suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan peraturan, yang telah dibuat oleh manusia menurut akal mereka sendiri. Mereka menetapkan ketentuan-ketentuan itu berdasarkan kemaslahatan yang dipertimbangkan menurut akal, bukan menurut wahyu dari langit.
    Maka dari itu, kaum muslimin haram mengambil dan menyebarluaskan demokrasi serta mendirikan partai-partai politik yang berasaskan demokrasi. Haram pula bagi mereka menjadikan demokrasi sebagai pandangan hidup dan menerapkannya; atau menjadikannya sebagai asas bagi konstitusi dan undang-undang atau sebagai sumber bagi konstitusi dan undang-undang; atau sebagai asas bagi sistem pendidikan dan penentuan tujuannya.
    Kaum muslim wajib membuang demokrasi sejauh-jauhnya karena demokrasi adalah najis dan merupakan hukum thaghut.
    Demokrasi adalah sistem kufur, yang mengandung berbagai ide, peraturan, dan undang-undang kufur. Demokrasi tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali.
    Demikian pula kaum muslimin wajib menerapkan dan melaksanakan seluruh ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الهُدَى وَ يَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ المُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلِّى وَ نُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَ سَاءَتْ مَصِيْرًا
"Dan siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An Nisaa' : 115)

TAMAT
[ Telah diedit oleh: abdullah_syakir pada 30-10-06 19:13 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

tanpanama
Warga 4 Bintang
Menyertai: 07.09.2005
Ahli No: 18761
Posting: 310
Dari: Bintang Timur

botswana  


posticon Posting pada: 30-10-06 19:12


HT...HT....
semangat orang muda di dunia internet....
lagi baik jemaah tabligh....walaupun ada sesetengah mengatakan mereka menggunakan hadis dhaif dalam amalan mereka...
sekurang-kurangnya mereka buat kerja....

HT....ada apa pada HT.....sebar risalah saja rajin...
ada baik nya sebar risalah tentang balasan buat maksiat ke...
risalah cara ambil wudhuk yang betul ke....
yang ringan-ringan untuk orang awam......

Bookmark and Share

    


  Member Information For tanpanamaProfil   Hantar PM kepada tanpanama   Pergi ke tanpanama's Website   Quote dan BalasQuote

shayuki

Menyertai: 05.12.2003
Ahli No: 5507
Posting: 164
Dari: Hira Shayuki

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 19:57


Assalamualaikum,

Seperti dah terangkan. Copy paste ni saya takkan baca. Bagi saya rumusan yang awak boleh berikan.

Secara teorinya memanglah nampak ideal. Tetapi macam mana dari segi implikasinya ? Dalam masyarakat majmuk. Macam mana nak beri keyakinan pada orang bukan Islam. Itu yang penting. Supaya tidak huru hara.

1. Berikan saya Kenapa demokrasi tak Islamic. Selain dari sekular, pasal benda ni boleh ubah.
Dan tolong jangan copy paste panjang panjang. kasi rumusan cukup.

Lagi satu, setelah bertungkus lumus baca. Saya berminat dengan petikan ini.

=========================
Demokrasi bukan syura, karena syura artinya adalah memberikan pendapat. Sedangkan demokrasi, sebenarnya merupakan suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan peraturan, yang telah dibuat oleh manusia menurut akal mereka sendiri. Mereka menetapkan ketentuan-ketentuan itu berdasarkan kemaslahatan yang dipertimbangkan menurut akal, bukan menurut wahyu dari langit.
==========================

Demokrasi ni, kalau majoritynya orang Islam yang baik, maka baiklah sistem demokrasi tersebut. Kalau orang dalam sistem demokrasi ini mengikut syariah maka terikutlah sekali demokrasi itu. Pasal itu Yusof Qardawi cakap, Demokrasi kena berlandaskan Islam.

Pasal itu saya cakap. kat malaysia ni, ada juga sistem shura sebenarnya. Iaitu Majlis Raja-Raja. Kalau peraturan yang dikemukaan dalam parlimen tak bersesuaian, maka Majlis Raja-Raja akan ambik tindakan.

Terima Kasih,

Bookmark and Share

    


  Member Information For shayukiProfil   Hantar PM kepada shayuki   Pergi ke shayuki's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 20:17


assalamualaikum
[ Telah diedit oleh: abdullah_syakir pada 30-10-06 20:19 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 20:17


assalamualaikum
[ Telah diedit oleh: abdullah_syakir pada 30-10-06 20:20 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

simpLe_sHida

Menyertai: 13.10.2003
Ahli No: 4313
Posting: 2504
Dari: greenland....

egypt   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 20:23


** syukran ila portal_ukhwah.. wah... banyak nya link website tu..
:-di :-di :lol: :lol:

!!! QUOTE !!!

Demokrasi ni, kalau majoritynya orang Islam yang baik, maka baiklah sistem demokrasi tersebut. Kalau orang dalam sistem demokrasi ini mengikut syariah maka terikutlah sekali demokrasi itu. Pasal itu Yusof Qardawi cakap, Demokrasi kena berlandaskan Islam.

Pasal itu saya cakap. kat malaysia ni, ada juga sistem shura sebenarnya. Iaitu Majlis Raja-Raja. Kalau peraturan yang dikemukaan dalam parlimen tak bersesuaian, maka Majlis Raja-Raja akan ambik tindakan.

Terima Kasih,


em.. betul tu.. MRR.. akan berbincang dengan semua ahli MRR
dan setelah mendapat kata sepakat.. barulaa sesuatu perkara itu dilaksanakan..

**Tidak ada satu urusan yang lebih baik dan lebih kuat selain daripada hasil bermusyawarah..- saidina umar al khatab..

wallahu'alam..

--- em..memang panjang sungguh posting antum..
ana memang angkat bendera putih dalam topik ini..
ilmu ana belum ke tahap hujah antum...
:roll: :roll: :roll:


-----------------

::prAy hArd+wOrk sMarT::
bAraKalLahu Lakum..
[ Telah diedit oleh: simpLe_sHida pada 30-10-06 20:24 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For simpLe_sHidaProfil   Hantar PM kepada simpLe_sHida   Pergi ke simpLe_sHida's Website   Quote dan BalasQuote

portal_ukhwah
Warga 2 Bintang
Menyertai: 28.10.2006
Ahli No: 27103
Posting: 62
Dari: singapura

singapore  


posticon Posting pada: 30-10-06 20:26


Assalamualaikum

Thank's a lot to abdullah syakir atas artikel yang penuh dengan huraian dan hujah serta dalil-dalilnya.Saya harap saudara shayuki dapat membaca keseluruhan artikel tu,kerana dalam artikel tu terdapat jawapan yang saudara tanyakan.Di persilakan untuk menelitinya.

Sepatutnya,saudara shayuki tak payah tanya lagi soalan-soalan tu.Baca dan fahami dulu.Barulah tanya.Kalau saudara shayuki betul-betul meneliti artikel yang dikirim oleh sahabat kita tu,Insya-Allah saudara shayuki akan dapat jawapan terhadap soalan saudara sendiri.

~Sekian~

:-)

Bookmark and Share

    


  Member Information For portal_ukhwahProfil   Hantar PM kepada portal_ukhwah   Quote dan BalasQuote

tanpanama
Warga 4 Bintang
Menyertai: 07.09.2005
Ahli No: 18761
Posting: 310
Dari: Bintang Timur

botswana  


posticon Posting pada: 30-10-06 20:53


inilah stail HT...kuat sangat copy paste....
ulama' copy-paste katakan...
tak akan kekal lama

Bookmark and Share

    


  Member Information For tanpanamaProfil   Hantar PM kepada tanpanama   Pergi ke tanpanama's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 21:21


ASSALAMUALAIKUM

Jom kita join forum ni untuk bincang isu demokrasi.Macam mana?

http://www.gooku.proboards40.com/index.cgi?board=tabbanimasolehumat
[ Telah diedit oleh: abdullah_syakir pada 30-10-06 21:37 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

abdullah_syakir
Warga 2 Bintang
Menyertai: 30.10.2006
Ahli No: 27124
Posting: 49
Dari: MELAKA BANDAR BERSEJARAH

Melaka  


posticon Posting pada: 30-10-06 21:44


Pada 30-10-06 20:53 , tanpanama posting:

!!! QUOTE !!!

inilah stail HT...kuat sangat copy paste....
ulama' copy-paste katakan...
tak akan kekal lama


ASSALAMUALAIKUM
demokrasi vs Islam

Sistem Demokrasi berpegang dengan konsep kebebasan, dimana konsep kebebasannya terdiri daripada Kebebasan Beragama, Kebebasan Hak Milik, Kebebasan Tingkah Laku dan Kebebasan Bersuara. Mengenai topik Kebebasan Suara yang hendak dibincangkan, di mana persoalannya kebebasaan bersuara sering dikaitkan dengan Sistem Islam (Hukum syarak). Seperti diwar-war oleh ulamak, sistem Demokrasi adalah dari Islam ataupun sistem Demokrasi sebahagian dari Islam serta ada yang mengatakan sistem Demokrasi tidak haram digunapakai pada zaman sekarang ini dengan beberapa alasan tertentu.

Di antara alasannya Sistem Islam mengajar prinsip Syura (meeting/berbincang), keadilan, kesamarataan. Sistem Islam juga menjadikan kekuasaan di tangan umat. Di masa moden ‘syura’ diformalkan dalam bentuk parlimen. Masyarakat boleh menerima dan menolak dengan sesuai keinginan mereka dan sebagai menunjukkan kebebasan bersuara berlangsung dalam kehidupan muslim diadakan pilihanraya untuk mendapat undian yang terbanyak. Undian terbanyak ini biasanya dipanggil Suara terbanyak ataupun majoriti. Serta dengan dalil surah Asy Syuura,ayat 38. Begitulah ulamak mengaitkan Sistem Islam dengan Sistem Demokrasi. Di sini pembentangan bermula dan menghuraikan secara mendasar. Selamat Membaca:

Tidak menepati konsep kebebasan bersuara.
Realitinya sistem demokrasi tidak menepati konsep kebebasan bersuara yang sebenarnya. Pemahaman kebebasan bersuara mestilah bebas menyuarakan pendapat, cadangan dan sebagainya namun pihak berkuasa sering menghalang dan menyekat pendapat ataupun membicarakan hal Agama Islam sebenarnya di khalayak umum. Contohnya menengahkan mazhab selain Imam Syafiee, menyatakan sistem demokrasi itu haram diterapkan dan lain-lain perkara yang kurang popular dari pengetahuan umum umat Islam. Sehinggakan apabila segentir manusia menyatakan pengetahuan tersebut seolah-olah ianya perkara yang baru. Pihak Berkuasa akan mengambil tindakkan kepada ulamak, ustaz, pemuka agama yang lantang menyuarakan perkara sensitif ini pada pandangan mereka. Golongan ulamak dan ustaz terpaksa berdolak- dalih serta melindungi/merahsiakan/menyembunyikan sekiranya ada pengetahuan tersebut kerana ditakuti kehilangan perkerjaan, hilang populariti atau dicap sebagai pengganas. Mereka dilarang membentangkan di multi media massa elektronik dan bercetak serta ceramah umum tentang sistem demokrasi digunakan sekarang ini bertentangan dengan Sistem Islam sebenarnya. Kalaulah sistem Demokrasi ini menepati kebebasan bersuara kenapakah hal-hal ini terjadi. Di manakah hilangnya konsep kebebasan bersuara ? Mengapakah ini mesti disekat? Realiti ini menunjukkan sistem demokrasi sendiri mengingkari janji-janji manisnya.

Amerika Syarikat adalah pendukung terkuat sistem demokrasi ini. Tetapi tidak sesuai dengan tindakkan kekerasan yang dilakukan oleh Amerika yang menyerang Iraq walaupun kebebasan bersuara dilakukan secara membahaskan dan mengundi sama ada Amerika dibenarkan menyerang Iraq atau sebaliknya. Dilakukan oleh ahli-ahli Kongres dan anggota tetap serta anggota tidak tetap yang mempunyai kuasa Veto. Dari suara terbanyak keputusan diambil dari UN dimana Amerika tidak dibenarkan menyerang Iraq. Tetapi hasilnya, Amerika dan Britain melanggar Resulosi UN tersebut. Dimanakah hilangnya kuasa Majoriti yang disebut-sebut dalam Sistem demokrasi? Reatiti ini menunjukkan Amerika sebagai ketua Sistem Demokrasi sendiri mengingkari konsep Sistem Demokrasi. Cuba anda fikirkan!!. Kebebasan bersuara adalah palsu sahaja. Hanya janji manis yang termakan oleh manusia yang tidak menggunakan akal fikirannya.

Namun bagi Islam, kebebasan terikat dengan hukum syarak. Dalam Islam tidak semua perkara boleh dibincangkan atau dimusyawarahkan. Perkara-perkara pokok/utama yang terkandung didalam Al Quran dan As Sunnah dilarang dipertikaikan dan ianya wajib dilaksanakan. Tidak boleh mengadakan hukum selain dari hukum Allah. Seperti ayat al quran ini;
Firman Allah;
Lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.
(Al Baqarah,ayat 275)

Bukannya pengubal hukum (dari kebebasan bersuara dan suara terbanyak) di Parlimen menentukan penjara masa tertentu atau denda dikenakan atas kesalahan mencuri.

As Sunnah Rasulullah
Dalam As Sunnah Nabi dari segi perbuatannya, tidak semua perkara yang dimusyawarahkan. Dimana Rasulullah pernah menggunakan musyarawarah dari suara terbanyak dalam mengambil keputusannya, Beliau pernah mengambil keputusan dari satu orang yang pakar dan arif dalam sesuatu bidang tanpa perlu suara terbanyak dan Rasulullah pernah meninggalkan musyawarah untuk melakukan tindakkannya walaupun tidak di setujui oleh kalangan sahabatnya.

Kes 1: Mengambil Keputusan Secara Musyawarah dan suara terbanyak.
Dalam perang Uhud pula, masalah hendak bertahan diantara ‘tetap tinggal di Madinah atau diluar kota Madinah’. Bukannya menentukan tempat peperangan (Bukit Uhud), Perbezaan kedua pendapat terletak pada penentuan keputusan dengan berdasarkan majoriti (Suara Terbanyak) dan umat Islam hendak bertahan di luar madinah mencapai Suara Terbanyak, walaupun Rasulullah inginkan bertahan di dalam Madinah. Dari sini, pendapat majoriti hanya berkaitan aktiviti yang tidak memerlukan pemikiran dan kajian yang dalam dari para ahli/pakar sesuatu bidang.

Kes 2: Mengambil secara pendapat/cadangan seseorang yang pakar
Dalam peperangan Badar , Apabila Hubab bin Mundzir hendak menolak pandangan Rasulullah terlebih dahulu beliau menanyakan :”Apakah ini merupakan pendapat, wahyu atau strategi wahai Rasulullah?” “Ini adalah Strategi dan pendapatku” Jawab Rasulullah. Barulah Hubab menyuarakan pendapatnya tentang menempatkan kem-kem (khemah) pertahanan tertera Islam melepasi telaga air. Ini kerana pihak musuh tidak akan menemui telaga air untuk bekalan minumannya. Sebaliknya tentera Islam mendapat manfaat dari telaga air tersebut. Pendapat Hubab disebut baik oleh Rasulullah dan segera Baginda melaksanakan. Ianya dilaksanakan tanpa mendapatkan suara terbanyak walaupun ianya dari pendapat seseorang (Satu orang).

Kes 3: Mengambil tindakan tanpa musyarawah.
i. Dalam perjanjian Hudaibiyah, Umar bin Khathtab kurang setuju rasulullah menerima syarat-syarat perjanjian tersebut dan perbincang dengan Rasulullah tentang ketidaksetujuannya. Rasulullah menjawab”Aku adalah hamba Allah sekaligus Rasul-Nya yang tidak akan menentang perkara-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku” Penerimaan syarat Perjanjian Hudaibiyah adalah wahyu dari Allah. Walaupun ketika itu kaum muslimin ramai tidak setuju dengan syarat perjanjian itu. Mereka tidak setuju kerana semangat dan kecenderungan untuk mengambil langkah berperang.

ii. Dalam pelaksanaan hukum syarak seperti kewajiban bersolat selepas peristiwa Ishak dan Mi’raj, Rasulullah juga tidak meminta pandangan dari seseorang atau secara undian suara terbanyak untuk melaksanakan hukum kewajiban bersolat. Tiada tunggu-tunggu dan Rasulullah bersikap tegas dalam melaksanakan hukum syarak.

Penjelasan Beberapa Hadis
Jelaslah tidak semua perkara perlu dimusyawarahkan. Hanya perkara yang tiada kaitan dengan Al Quran dan As Sunnah dibolehkan musyawarahkan atau kebebasan suara ada disini. Perkara yang berkaitan dengan Al Quran dan As Sunnah mesti dilaksanakan dan diterapkan tanpa ada kompromi. Ini disokong lagi dengan hadis dibawah:
Sabda Rasulullah:
Aku hanya manusia seperti kamu, maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu daripada urusan agama kamu, ambillah. Dan apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu daripada urusan dunia kamu, maka aku hanyalah manusia. (Muslim dan An Nasai)

Rasulullah pernah hidup di zaman yang menggunakan unta sebagai tunggangannya, tetapi beliau tidak pernah menggunakan kereta untuk dinaiki. Hal penggunaan kereta adalah hal peredaran zaman (penggunaan teknologi dan teknikal), dari petikan hadis diatas “Apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu daripada urusan dunia kamu, maka aku hanyalah manusia.” Penggunaan kereta adalah urusan dunia kita ataupun urusan yang ada pada zaman ini. Maka Rasulullah menyerahkan umat Islam zaman sekarang ini untuk mengendalikan, mengelolakan, menguruskan urusan-urusan yang ada pada zaman tersebut, selagi ianya tidak bertentangan dengan hukum syarak. Contoh mengenainya kereta juga, penggunaan kereta adalah urusan zaman ini, maka terpulanglah kepada pemilik kereta untuk mengubahsuaikannya seperti menukarkan sport rim 18’, menukarkan enjin turbo, mengecatkan separuh warna biru ,separuh lagi warna kuning dan sebagainya. Itu tidak salah dari segi hukum syarak. Tetapi dari petikan hadis di atas “apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu daripada urusan agama kamu,ambillah” ini menunjukkan semua perkara yang diperintahkan oleh Allah melalui Al Quran dan As Sunnah . Ini perlulah dilaksanakan (Ambillah). Mengenai kereta lagi, membeli kereta dengan cara pinjaman dari bank perlulah dititikberatkan. Sebab bank akan mengenakan interest (riba) dan riba itu haram. Ini berlandaskan ayat Al Quran :

Firman Allah:
“Pada hal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al Baqarah ,ayat 275)

Begitu juga hadis mengenai pendebungaan pokok kurma Rasulullah bersabda :“kamu lebih mengetahui dunia kamu”. Memangpun pendebungaan pokok kurma tidak terkandung dalam Al Quran dan As Sunnah. Rasulullah tidak mengajar pendebungaan pokok kurma. Penyuburan pokok kurma adalah perkara yang baru bagi Rasulullah. Namun Rasulullah tidak melarang menggunakannya. Sebenarnya pendebungaan pokok kurma itu adalah perkara yang berkaitan perkara teknikal. Berbeza dangan Sistem Demokrasi kerana ianya berkaitan dengan sistem. Sistem Islam (hukum syarak) yang diperintahkan oleh Allah melalui Al Quran dan As sunnah dan ianya ditunjuk ajar oleh Rasulullah bagaimana menguruskan, mengendalikan, melaksanakan dan menerapkannya. Selaku ketua negara yang dipanggil Khalifah Rasulullah.

Konflik DiAntara Dua Sistem
Adapun sistem demokrasi menggunakan kebebasan bersuara dan suara terbanyak(Majoriti) untuk mengubal undang-undang (hukum) di Parlimen (kononnya majlis syura, bagi yang menyatakan demokrasi itu berasal dari islam) . Perwakilan rakyat membahaskan, berbincang, memberi pendapat, mengubalkan dan menciptakan undang-undang (hukum) dari semua aspek. Dari Dewan Rakyat kemudian dibahaskan lagi di Dewan Negara. Setelah disepakati dan diluluskan oleh Agung maka undang-undang ciptaan manusia itu diterapkan,dilaksanakan dan diguna pakai oleh semua orang.

Adapun sistem Islam (hukum syarak) pencipta undang-undang adalah hak Allah. Diingatkan lagi hanya hak Allah. Diingatkan lagi hanya hak Allah. Diingatkan sekali lagi hanya hak Allah. Ini berlandaskan ayat surah ini:

Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kuasaku (menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (Surah Al An’aam,ayat 57)

Hukum syarak seperti :
1. Hukum syarak mengenai sesama manusia seperti
i. Uqubat -Hudud, Qisas, Takzir dan Mukhalafat dan
ii. Mua’malah -Sistem Ekonomi Islam, Sistem Pentadbiran {khalifah}, Sistem Sosial, Polisi Pendidikan dan Politik Luar Negara.
2. Hukum Syarak mengenai ibadah seperti sembahyang, puasa, menunaikan haji di Mekah dan lain-lain.
3. Hukum Syarak mengenai urusan sumber makanan, minuman dan lain-lain lagi.

Metod Pilihanraya-demokrasi
Pilihanraya adalah keadah untuk menentukan wakil rakyat (Perwakilan) dari sokongan rakyat. Wakil Rakyat dilantik berdasarkan Suara Terbanyak ataupun Majoriti. Ramai umat Islam keliru tentang pilihanraya ini. Adakah pilihanraya dalam sistem islam. Jawabnya ialah Mubah/harus. Tetapi bagi Sistem Demokrasi ianya adalah kewajiban. Terdiri empat golongan pada pandangan masing-masing:-
Ada 4 golongan mempunyai pendapat pilihanraya sebagai metodnya iaitu
1. Meyakini demokrasi satu-satunya pemerintahan Islam perjuangan demokrasi sama memperjuangan Islam sendiri
2. Mengatakan Rasulullah tidak pernah mengajar bagaimana cara pemerintah atau dia tidak tetap bahkan pengharaman demokrasi tiada didalam Al-Quran secara khususnya.
3. Mengatakan demokrasi sebahagian dari Islam dan menolak sebahagian yang lain.
4.Mengatakan demokrasi bercanggah dari Islam tetapi metod untuk mendapatkan kuasa melalui pilihanraya,yang mana dia menukarkan sistem yang ada kepada Sistem Islam.

Bagi golongan pertama,sememangnya jelas menunjukkan pemikirannya telah dikuasai oleh pemikiran barat. Kerana demokrasi asalnya dari Yunani kono dan diubahsuaikan dari orang Eropah(British) dan Barat.
Sementara golongan kedua menunjukkan kejahilannya kerana Rasulullah bukan sahaja seorang dakwah tetapi seorang ketua negara, sebagai ketua negara masakan cara pemerintahan tidak ditunjuk ajarkan. Disamping itu sahabatnya(Khalifah Abu Bakar,Khalilifah Umar Al Khattab)juga menunjukkan cara pemerintah atau menguruskan kepentingan umat, itupun hasil dari tunjuk ajar oleh Rasulullah.

Bagi golongan ke-3 pula dihalusi lagi.di mana dia dapat dianalisiskan seperti ini;-
i. Pilihanraya adalah dimestikan didalam sistem Demokrasi selari dengan idea kebebasannya tetapi tidak pada Ideologi Islam yang terikat dengan hukum Allah
ii. Pilihanraya bagi Sistem Demokrasi diwajibkan tetapi pilihanraya bagi Ideologi Islam adalah diharuskan
iii. Ketidaktahuannya cara Rasulullah sehingga memilih jalan paling mudah melalui pilihanraya.
iv. Pilihanraya Demokrasi percalonan (bakal wakil Rakyat) dikenakan wang pertaruhan dan wang pertaruhan boleh dianggap judi (judi haram).
v. Pilihanraya Demokrasi, pengundinya terdiri orang Islam dan bukan Islam tetapi pilihanraya Islam (berkhalifah) , pengundinya terdiri orang Islam sahaja.

Kepada golongan ke-4 pula,kisah-kisah Sirah Rasulullah menolak pendapat ini untuk dipraktikkan. Kerana Rasulullah pernah ditawarkan oleh puak Quraisy untuk diberikan kekayaan, kemuliaan, wanita dan kekuasaan pemerintah dengan syarat beliau perlulah memberhentikan dakwah pemikiran yang menyerang tuhan berhala mereka.Rasulullah menolak mentah-mentah. Logiknya, kalau kuasa pemerintah itu digunapakai menukarkan sistem kufur dengan sistem Islam akan menjadi tugas baginda amat mudah. Sebenarnya Rasulullah tidak mahu campuradukkan haq dengan batil. Tiada kompromi. Ini menunjukkan pengambilankuasa dengan cara yang salah akan mengakibatkan kegagalan.


Ini Dibolehkan
Manakala dan tatkala masalah urusan teknikal, penggunaan teknologi dan sains atau masalah lain dibolehkan menggunakan akal fikiran manusia . Seperti ayat Al Quran ini :

“Dan urusan mereka dijalankan secara bermusyawarah sesama mereka” (Asy Syuura,ayat 3

“Dan urusan mereka dijalankan secara bermusyawarahlah dengan mereka tentang Urusan itu” (peperangan dan urusan dunia) (Ali Imran,ayat 159).

Kesimpulan
1. Sistem demokrasi tidak melaksanakan kebebasan suara dan suara terbanyak iaitu konsep yang dijanjikannya.
2. Kebebasan suara dan suara terbanyak dalam ajaran Islam tidak semua perkara dipraktikkan, Perkara yang terkandung dalam hukum syarak yang ditentukan oleh Allah dilaksanakan sepenuhnya manakala perkara selain dari itu dibolehkan bermusyawarahkan. Sistem Demokrasi pula menggunakan kebebasan suara dan suara terbanyak dalam semua perkara tanpa batasan.
3. Sistem Demokrasi adalah ciptaan manusia, apatah lagi pengubal undang-undang jelas menunjukkan undang-undang ciptaan manusia. Sedangkan hukum syarak atau undang-undang Islam diciptakan oleh Allah.


selamat terima kenyataan

Bookmark and Share

    


  Member Information For abdullah_syakirProfil   Hantar PM kepada abdullah_syakir   Pergi ke abdullah_syakir's Website   Quote dan BalasQuote

Addey
WARGA SETIA
Menyertai: 13.03.2005
Ahli No: 15105
Posting: 948
Dari: kota marudu

Sabah   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 21:59


Tiada satu negara Islam yang mengamalkan demokrasi ketika ini...jika banding AS dengan Malaysia, pasti AS jauh lebih demokrasi

Bookmark and Share

    


  Member Information For AddeyProfil   Hantar PM kepada Addey   Quote dan BalasQuote

shayuki

Menyertai: 05.12.2003
Ahli No: 5507
Posting: 164
Dari: Hira Shayuki

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 30-10-06 23:18


Seperti yang saya cakap.

Demokrasi yang berlandaskan Islam.

1. Perkara yang hak, tercatit dalam quran semua itu, tak boleh nak ubah dah. Walaupun demokrasi macam mana pun, yang termaktub tetap termaktub.

2. Perkara baru seperti peraturan jalan raya, pendidikan, import export, itu boleh dibawa bicara. Ini perlu bermesyuarat.

“Dan urusan mereka dijalankan secara bermusyawarahlah dengan mereka tentang Urusan itu” (peperangan dan urusan dunia) (Ali Imran,ayat 159).

========================================

Kes 1: Mengambil Keputusan Secara Musyawarah dan suara terbanyak.
Ini kan demokrasi.

Kes 2: Mengambil secara pendapat/cadangan seseorang yang pakar
Apabila ada banyak percanggahan pendapat, biasanya parlimen akan tugas satu pasukan untuk mengkaji isu tersebut. Dan keputusan dibuat melalui rumusan yang diberikan.

Kes 3: Mengambil tindakan tanpa musyarawah.
Tindakan tanpa musyarawah ni boleh ambik kira apabila sesuatu perkara itu dah termaktub dalam Quran dan Hadith. Maka tiada orang boleh sangkal dah. Saya nak tanya, siapa dalam dunia ni boleh kasi satu pendapat dan semua orang ikut tanpa sebarang persoalan. Kecuali Nabi Muhammad, peraturan dalam Quran dan Hadith. Lain dari itu, biasanya ulama berbincang.

Demokrasi penting kalau ada benda yang orang pertikai. Maka, dengan kata sepakat boleh membuat keputusan.

Terima kasih,


-----------------

Inginkan Email yang berlainan ?
Try iium.com.my atau iiu.com.my
PM saya untuk lebih lanjut.
[ Telah diedit oleh: shayuki pada 30-10-06 23:28 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For shayukiProfil   Hantar PM kepada shayuki   Pergi ke shayuki's Website   Quote dan BalasQuote

zulman

Menyertai: 22.12.2004
Ahli No: 13229
Posting: 2786
Dari: dunia ini hanya sementara

Perak   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 09:31


Assalamualaikum

Sambungan part 2

Malaysia Demokrasi Islam?

Oleh: Mohd Rumaizuddin Ghazali




Menurut Rashid al-Ghannoushi, demokrasi adalah hasil evolusi sejarah yang meluas dan bukan sekadar buatan para teorist mahupun jurist atau pemikir-pemikir politik.Kebanyakan daripada prinsipnya diceduk dari suasana zaman pertengahan Eropah yang melalui perkembangan sehinggalah terbentuk bersama-sama sejarah yang panjang ini satu sistem. Orang-orang Eropah banyak mengambil pengajaran dari tamadun Islam untuk membantu mencipta satu masyarakat yang disinari dengan konsep-konsep nilai sosial di mana dengan itu lahirnya demokrasi liberal. Perhubungan Eropah dengan Islam telah membuka mata Eropah ketika itu dari kehinaan Feudalisme dan dari kongkongan agama dan dari kediktatoran kepada elitis pihak pemerintah.

Taufiq al-Shawi berpendapat demokrasi sebenarnya adalah versi syura menurut Islam. Menurutnya, banyak pemimpin-pemimpin Islam yang naik kuasa selepas Khulafa’ al-Rasyidin membelakangkan syura sehingga zaman kita ini. Barat pula mendahului perkara ini hari ini dalam mengamalkan nilai-nilai syura seperti kebebasan dan menjernihkan kebebasan berpolitik. Negara Eropah berjaya mengasaskan sistem secara syura ini dalam kerajaan mereka yang mereka namakan demokrasi. Dengan lain perkataan, syura yang datang dari bumi Islam menjadi layu kerana tidak dipelihara dengan rapi rupa-rupanya subur berkembang di bumi bukan Islam.

Hassan al-Turabi pula menjejaki titik tolak penukaran demokrasi moden bermula dari amalan kontrak yang dikenali sebagai peristiwa bye’ah. Menurutnya, beberapa amalan demokrasi mempelajarinya dari feqh siasah hasil perhubungan mereka dengan Islam.

Menurut Dr. Abdullah Ahmad Qaderi bahawa jika dibandingkan sistem demokrasi dengan sistem diktator, maka sistem dcmokrasi lebih baik kerana ía memberi kebebasansan bersuara. Apabila pemerintahan Islam hilang, maka di hadapannya ada dua sistem, perlulah ia rnemilih sistem yang dapat memberi kebebasan dakwah, kebebasan memilih pernimpin yang soleh yang kemungkinan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Ini berlainan dengan sistem diktator yang menjurus manusia ke arah hawa nafsu dan tiada berpeluang untuk memilih pemimpin. Ini tidak bermakna harus orang mukmin mengambil demokrasi apabila hilangnya pemerintahan Islam.

Sementara itu, Muhammad al-Ghazali dalam bukunya Dustur al-Wihdah al-Thaqafah Bayna al-Muslimun mengatakan bahawa demokrasi bukanlah agama yang diletakkan dalam barisan Islam melainkan hanyalah sebuah sistem interaksi antara pemerintah dengan rakyatnya. Kita perlu melihatnya kembali untuk memahami bagaimana demokrasi memberikan penghormatan individu bagi pendukung dan pembangkang dengan kedudukan yang sama. Dan bagaimana dia memberi dorongan kepada orang-orang yang tidak sejalan dan sependapat untuk mengatakan “tidak”, tanpa rasa takut dipenjara atau ditangkap. Sikap dan tindakan yang keterlaluan serta pemerintahan diktator merupakan bencana yang memakan agama dan dunia kita.

Said Hawwa pada mulanya menolak demokrasi tetapi akhirnya menerima demokrasi apabila berpendapat demokrasi adalah jalan terbaik untuk mendapat kejayaan di negara umat Islam .Ahmad Shawqi al-Fanjari dalam bukunya Hurriyat al-Siyasah fi al-Islam (Kebebasan Berpolitik dalam Islam) dan buku Kayfa Nahkum bi al-Islam fi Dawlah 'Asriah (Bagaimana Kita Memerintah dengan Islam dalam Negara Moden) mengatakan setiap zaman mempunyai terminologi sendiri untuk merumuskan konsep demokrasi dan kebebasan. Apa yang disebut oleh demokrasi adalah sama apa yang disebut dalam ajaran Islam tentang keadilan ('adl), hak (haqq), perundingan (Shura) dan persamaan (musawat).Ini kerana pemerintahan demokrasi memberi perhatian kepada elemen-elemen keadilan dan kenenaran kepada rakyat dan rakyat berpitipasi dalam menentukan perkara tersebut. Sebagai contoh bye’ah sama dengan hak memilih dan ijma’ itu sebagai satu kehendak majoriti. Kalimah 'hurriyat al-siyasah' (kebebasan berpolitik) sememangnya tidak ada disebut dalam al-Quran tetapi elemen-elemennya terdapat dalam al-Quran selengkapnya.Ia hanya berbeza dari segi terminologi tetapi mempunyai matlamat yang sama. Apa yang disebut sebagai 'hurriyat al-siyasah' adalah sama dengan apa yang dilaungkan oleh Islam sejak 14 kurun yang lalu tentang al-Shura. Malah Islam memberi penekanan terhadap suhulah al-Hijab antara pemimpin dan rakyat dan adanya sifat rahmah dan tarahum.(rahmat dan kasih mengasihani) antara kedua-dua pihak.

Dalam pertemuan penulis dengan Rashid al-Ghannoushi, beliau menegaskan bahawa Islam tidak bertentangan dengan demokrasi bahkan berkongsi beberapa ciri yang sama di mana kepentingan bersama dapat bertukar antara satu sama lain. Beliau menyeru kepada umat Islam supaya menerima demokrasi sebagai satu langkah untuk membebaskan negara dari pemerintahan diktator yang menghalang kebebasan bersuara dan pilihanraya umum. Beliau berkeyakinan melalui demokrasi yang bercirikan Islam merupakan jalan untuk menobatkan Islam sebagai syariat tertinggi. Hujah al-Ghannoushi bahawa Islam tidak bertentangan dengan demokrasi ialah kerana sistem autoriti sivil diwujudkan di mana perlakuan politiknya diserahkan kepada rakyat. Dalam sistem demokrasi, beberapa mekanisme demokrasi seperti kebebasan bersuara, sistem berparlimen, pilihanraya boleh diwujudkan dan diinstitusikan dengan melaksanakan shura. Oleh itu, beliau menegaskan bahawa demokrasi diperlukan kerana kebaikannya. Ia merupakan mekanisme bagi warga muslim untuk memanfaatkan sebaik mungkin darinya bagi mewujudkan semula pemerintahan moden berasaskan shura dan demokrasi Islami.

Di sini ada baiknya kita memerhatikan pandangaan Yusuf al-Qaradhawi mengenai Islam dan demokrasi. Beliau menegaskan bahawa negara Islam menjalankan sistem-sistem terbaik yang terdapat pada sistem demokrasi, tetapi itu tidak bererti bahawa negara Islam merupakan salinan daripada sistem demokrasi Barat. Ia serupa dengan demokrasi Barat dari segi memberi kebebasan, tanggungjawab pemimpin dan majlis perundingan. Namun begitu demokrasi Barat tidak memiliki prinsip untuk membatasinya atau nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupannya. Hal ini membolehkan mereka melakukan apa sahaja untuk menghapuskan nilai-nilai murni dan mengantikannya dengan kemungkaran. Di samping itu, demokrasi juga sering digunakan untuk membela kepentingan sesetengah kelompok yang kuat dan tidak memperjuangkan kesehjahteraan rakyat. Perkara ini disebabkan demokrasi tidak pernah menjadikan kriteria moral dan akhlak sebagai persyaratan utama bagi orang-orang yang terpilih ataupun orang –orang yang memilih.

Di sini letak keistimewaan sistem shura yang diperjuangkan oleh negara Islam. Shura memiliki had-had dan batasan yang tidak boleh dilanggar. Di samping itu, ketetapan-ketetapan Islam dalam perkara shura telah sampai kepada peringkat kesempurnaan yang tidak pernah dicapai oleh sebarang sistem demokrasi moden bahkan dijangkakan sistem ciptaan manusia itu tidak akan pernah mampu menyainginya di masa hadapan. Perkara yang penting ialah mengambil manfaat yang baik daripada sistem demokrasi.

Dr. Taufik al-Shawi menjelaskan bahawa demokrasi iaitu sistem politik dan kenegaraan tetapi konsep shura dalam Islam lebih meluas dari itu kerana ia merupakan bentuk proses pendidikan akhlak bagi individu, rnasyarakat untuk beriltizam dengan perbincangan dalam segala aspek. Shura merupakan pernbinaan akh1ak, perangai dan nilai-nilai kemasyarakatan. Ia tidak terhad dalam sistem kenegaraan.Syariat Islam telah mendahului sistem demokrasi dalam membuat dasar-dasar pemerintahan kerana ia menjadikan ahli al-Hall wa al-’aqd sebagai wakil umat dalam memilih pemimpin dan mengawasinya. Selain itu, prinsip pemisahan antara perundangan dan pemerintahan adalah perbezaan yang substansial bagi sistem Islam, kerana ia berkaitan dengan kedaulatan syariat atas pemerintah dam kemandiriannya dari para penguasa. Ini merupakan ciri khas yang membedakan Shura Islamiah dan menjadikannya lebih progresif daripada sistem demokrasi sekarang.


Akan bersambung.....baca dengan ketenangan dan kesabaran..

Bookmark and Share

    


  Member Information For zulmanProfil   Hantar PM kepada zulman   Quote dan BalasQuote

shayuki

Menyertai: 05.12.2003
Ahli No: 5507
Posting: 164
Dari: Hira Shayuki

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 13:04


Begini kan mudah nak baca. Walaupun cut paste, tapi pendek. Sikit sikit lama lama jadi bukit. Bukan nak campak saja info.

Terima Kasih, Zulman.

Bookmark and Share

    


  Member Information For shayukiProfil   Hantar PM kepada shayuki   Pergi ke shayuki's Website   Quote dan BalasQuote

alKhattab
Warga 5 Bintang
Menyertai: 02.01.2005
Ahli No: 13471
Posting: 374

Kedah   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 14:04


assalamualaikum...


ahlan wasahlan sahabat2 semua..ana bersyukur..rupanya selamanya ni ana ingatkan berseorangn..terima kasih kepada portal_ukhwah dan abdulallah syakir...

insyallah ana akan membantu kalian..

kepada yang suka menyebarkan fitnah kepada HT..maka lebih elok senyap..kerana senyap itu lebih baik dari bercakap (melainkan perkara yang haq)

wassalam

Bookmark and Share

    


  Member Information For alKhattabProfil   Hantar PM kepada alKhattab   Quote dan BalasQuote

raudhah84
WARGA SETIA
Menyertai: 06.08.2004
Ahli No: 10521
Posting: 483
Dari: bumi Allah

Johor   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 15:13


...alhamdulillah...
...satu perbincangan dan komentar yang bagus...
...syukran banyak info yang diperolehi dan dapat buka minda ana...
...tapi, jangan sampai selisih faham walaupun berbeza jamaah...
...islam kan indah...


-----------------
sekali kaki melangkah di jalan ALLAH..jangan undur..biar masa berganti..aqidah jangan mati..biar zaman berubah..keyakinan pada ALLAH jangan goyah..


Bookmark and Share

    


  Member Information For raudhah84Profil   Hantar PM kepada raudhah84   Pergi ke raudhah84's Website   Quote dan BalasQuote

aye
WARGA SETIA
Menyertai: 03.04.2006
Ahli No: 23921
Posting: 2913
Dari: semerak

Kelantan   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 15:23


Assalamualaikum, akhi alkhattab...salam aidilfitri.....
jangan tanamkan semangat asabiah akhi....

Bookmark and Share

    


  Member Information For ayeProfil   Hantar PM kepada aye   Pergi ke aye's Website   Quote dan BalasQuote

aye
WARGA SETIA
Menyertai: 03.04.2006
Ahli No: 23921
Posting: 2913
Dari: semerak

Kelantan   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 15:37


Pada 30-10-06 18:45 , zulman posting:

!!! QUOTE !!!



Ana lebih suka bpegan kepada pendapat golongan ketika...lebih relevan dengan dunia sekarang dan pada masa sama ia tidak membelakangi hukum Allah swt...
semoga sahabat HT pun ambilan penilaian yang wajar...



-----------------
"Cerahkan Mata Anda" http://buku2008.wordpress.com


Bookmark and Share

    


  Member Information For ayeProfil   Hantar PM kepada aye   Pergi ke aye's Website   Quote dan BalasQuote

aye
WARGA SETIA
Menyertai: 03.04.2006
Ahli No: 23921
Posting: 2913
Dari: semerak

Kelantan   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 15:40


Pada 30-10-06 18:45 , zulman posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum


Bagi pemikir-pemikir politik Islam yang utama, definisi sedemikian yang difahami dari demokrasi adalah amat sesuai dengan nilai-nilai syura yang diamalkan dalam ajaran Islam. Walaupun demikian ada di kalangan pemikir Islam menganggap dengan penuh keyakinan demokrasi tidak sesuai dengan Islam. Demokrasi juga bermaksud kuasa politik dan segala hak politik diserahkan kepada rakyat. Demokrasi juga bukan sahaja bentuk kerajaan tetapi juga satu bentuk masyarakat. Namun ada sebahagian pemikir Islam mendesak supaya umat Islam tidak berfikir secara dikatomi demokrasi mahupun diktator sahaja tanpa melihat elemen-elemen Islam seperti syura, keadilan, persamaan yang lebih lengkap dan mantap sifatnya dalam ajaran Islam.

Kategori Penerimaan dan Penolakan terhadap Demokrasi

Dalam hal tersebut, terdapat tiga aliran pendapat mengenai demokrasi iaitu :

1. Golongan menolak demokrasi secara mutlak iaitu menanggapnya sebagai satu peraturan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Antara pendukung pendapat ini ialah Taqiyuddin al-Nabhani, Pengasas Hizbul Tahrir al-Islami dalam bukunya Nizam al-Hukm fi al-Islam, 1989 yang menyebutkan bahawa demokrasi adalah bertentangan dengan akidah Islamiah. Mereka mendakwa bahawa tidak ada apa-apa dalam tradisi Islam yang serasi dengan kerajaan berperlembagaan dan perwakilan. Demokrasi juga merupakan legasi imperialis Barat.

2. Golongan yang bersetuju dengan demokrasi secara mutlak. Antara golongan ini ialah Syeikh Muhammad Husein dalam artikelnya Tanbih al-Ummah wa Tanziyah al-Millah yang menyeru berpegang kepada demokrasi sebagai satu wasilah untuk menumbangkan diktator. Menurutnya, diktator terbahagi kepada dua iaitu diktator politik dan diktator agama dan diktator agama adalah yang paling sukar dihapuskan.

3. Golongan ini tidak menerima atau menolak secara mutlak.Mereka membezakan demokrasi sebagai alat dengan demokrasi sebagai satu bentuk pegangan. Golongan ini semakin mendapat tempat di kalangan umat Islam sekarang ini. Termasuk dalam golongan ini seperti Muhammad Khatami, Presiden Iran, Muhmmad Mahdi Syamsuddin, seorang ulamak syiah, Yusuf al-Qaradhawi, Rashid al-Ghannoushi., Taufiq al-Shawi dan Hassan al-Turabi. Pendokong demokrasi Islamik menekankan konsep-konsep syura, bye’ah, permuafakatan, ijtihad dan maslahah untuk menunjukkan bahawa Islam tidak berkurangan dalam landasan-landasan asas yang secocok dengan tatacara dan matlamat demokrasi.



Ana lebih suka bpegan kepada pendapat golongan ketika...lebih relevan dengan dunia sekarang dan pada masa sama ia tidak membelakangi hukum Allah swt...
semoga sahabat HT pun ambilan penilaian yang wajar...

maaf tadi silap quote......lah......


-----------------
"Cerahkan Mata Anda" http://buku2008.wordpress.com


Bookmark and Share

    


  Member Information For ayeProfil   Hantar PM kepada aye   Pergi ke aye's Website   Quote dan BalasQuote

tanpanama
Warga 4 Bintang
Menyertai: 07.09.2005
Ahli No: 18761
Posting: 310
Dari: Bintang Timur

botswana  


posticon Posting pada: 31-10-06 16:42


Pada 31-10-06 14:04 , alKhattab posting:

!!! QUOTE !!!

assalamualaikum...


ahlan wasahlan sahabat2 semua..ana bersyukur..rupanya selamanya ni ana ingatkan berseorangn..terima kasih kepada portal_ukhwah dan abdulallah syakir...

insyallah ana akan membantu kalian..

kepada yang suka menyebarkan fitnah kepada HT..maka lebih elok senyap..kerana senyap itu lebih baik dari bercakap (melainkan perkara yang haq)

wassalam

teruskan usaha mu wahai org muda...disamping itu
ajaklah pemuda-pemudi lain yang masih lalai diluar dunia internet ni...yang bergelumang dengan maksiat..yang meninggalkan solat..
dan ajaklah mereka solat jemaah...
itu yang lebih utama dari menkritik yang memang para pemimpin pas tak akan layan...sebab mereka sibuk duduk masuk pub sana-sini sebar risalah dakwah......bukan sebar risalah kat masjid2...



Bookmark and Share

    


  Member Information For tanpanamaProfil   Hantar PM kepada tanpanama   Pergi ke tanpanama's Website   Quote dan BalasQuote

alKhattab
Warga 5 Bintang
Menyertai: 02.01.2005
Ahli No: 13471
Posting: 374

Kedah   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 17:08


Pada 31-10-06 15:23 , aye posting:

!!! QUOTE !!!

Assalamualaikum, akhi alkhattab...salam aidilfitri.....
jangan tanamkan semangat asabiah akhi....



masyaallah..masa bila ana tanamkan asobiyah..salahkah bagi sokongan demi kebaikn??kalau enta buat kebaikan insyaallah ana juga akan bersama2 enta..

dan kepada aye..ana nak bagi tajuk buku yang ana dah janjikan dulu "Wahhabisme dari neraca syarak" penulis Muhammad Fuad bin Kamaluddin Al rembawi


-----------------
'memartabatkan ummah dengan menegakkan kembali daulah khilafah islamiyah.."


Bookmark and Share

    


  Member Information For alKhattabProfil   Hantar PM kepada alKhattab   Quote dan BalasQuote

alKhattab
Warga 5 Bintang
Menyertai: 02.01.2005
Ahli No: 13471
Posting: 374

Kedah   avatar


posticon Posting pada: 31-10-06 17:30


Pada 31-10-06 16:42 , tanpanama posting:

!!! QUOTE !!!

Pada 31-10-06 14:04 , alKhattab posting:

!!! QUOTE !!!

assalamualaikum...


ahlan wasahlan sahabat2 semua..ana bersyukur..rupanya selamanya ni ana ingatkan berseorangn..terima kasih kepada portal_ukhwah dan abdulallah syakir...

insyallah ana akan membantu kalian..

kepada yang suka menyebarkan fitnah kepada HT..maka lebih elok senyap..kerana senyap itu lebih baik dari bercakap (melainkan perkara yang haq)

wassalam

teruskan usaha mu wahai org muda...disamping itu
ajaklah pemuda-pemudi lain yang masih lalai diluar dunia internet ni...yang bergelumang dengan maksiat..yang meninggalkan solat..
dan ajaklah mereka solat jemaah...
itu yang lebih utama dari menkritik yang memang para pemimpin pas tak akan layan...sebab mereka sibuk duduk masuk pub sana-sini sebar risalah dakwah......bukan sebar risalah kat masjid2...




masalahnya yang duduk masjid pun tak faham fikrah islam lagi..nikan pula yang dok kat pub..jangan hanya mendabik dada bahawa yang beramal itu dah bagus..tetapi fikir balik hkikat kita..islam agama yang saling nasihat menasihati..jangan memandang serong semata2..

wasslam


-----------------
'memartabatkan ummah dengan menegakkan kembali daulah khilafah islamiyah.."


Bookmark and Share

    


  Member Information For alKhattabProfil   Hantar PM kepada alKhattab   Quote dan BalasQuote

tanpanama
Warga 4 Bintang
Menyertai: 07.09.2005
Ahli No: 18761
Posting: 310
Dari: Bintang Timur

botswana  


posticon Posting pada: 31-10-06 17:38


Pada 31-10-06 17:30 , alKhattab posting:

!!! QUOTE !!!

Pada 31-10-06 16:42 , tanpanama posting:

!!! QUOTE !!!

Pada 31-10-06 14:04 , alKhattab posting:

!!! QUOTE !!!

assalamualaikum...


ahlan wasahlan sahabat2 semua..ana bersyukur..rupanya selamanya ni ana ingatkan berseorangn..terima kasih kepada portal_ukhwah dan abdulallah syakir...

insyallah ana akan membantu kalian..

kepada yang suka menyebarkan fitnah kepada HT..maka lebih elok senyap..kerana senyap itu lebih baik dari bercakap (melainkan perkara yang haq)

wassalam

teruskan usaha mu wahai org muda...disamping itu
ajaklah pemuda-pemudi lain yang masih lalai diluar dunia internet ni...yang bergelumang dengan maksiat..yang meninggalkan solat..
dan ajaklah mereka solat jemaah...
itu yang lebih utama dari menkritik yang memang para pemimpin pas tak akan layan...sebab mereka sibuk duduk masuk pub sana-sini sebar risalah dakwah......bukan sebar risalah kat masjid2...




masalahnya yang duduk masjid pun tak faham fikrah islam lagi..nikan pula yang dok kat pub..jangan hanya mendabik dada bahawa yang beramal itu dah bagus..tetapi fikir balik hkikat kita..islam agama yang saling nasihat menasihati..jangan memandang serong semata2..

wasslam



masalahnya lagi...yang berperang kat forum nak menegakkan Islam ni solat jemaah pun tak p, heheh...saya tuju kat semua ni...

daripada melaung-laungkan kat masjid...
baik laung-laungkan kat tempat hiburan maksiat.....ada lah juga kesannya...
bayi pun belajar merangkak dulu baru boleh berjalan..
tapi HT ni nak ajar BAYI naik motor terus...

orang p masjid ni ada dua tujuan saja....nak buat amal ibadat (solat lah) atau nak p curi kasut....heheh...



Bookmark and Share

    


  Member Information For tanpanamaProfil   Hantar PM kepada tanpanama   Pergi ke tanpanama's Website   Quote dan BalasQuote

alKhattab
Warga 5 Bintang
Menyertai: 02.01.2005
Ahli No: 13471
Posting: 374

Kedah   avatar


posticon Posting pada: 01-11-06 15:12


maasyaallah..hebat enta..dapat tau org solat ke tak..enta ni mesti ada keramat ek..ish2..cermin diri dulu syeikh


enta bayike?
yang menentang HT bukannya bayi syeikh..semua dah tua..bukan setakat berjalan..tapi siap boleh lari 200 kami sejam..

kalau dah sedar kita ni umpama bayi..maka belajarlah dari awal..jangan sombong tahu macam-macam dan menentang tak tentu arah..itu sikap yang tak elok..malah islam tak akan tertegakkan kalau sikap cantas mencantas sesama islam masih menebal di dalam diri..

orang pergi masjid banyak tujuan syeikh, bukan setakat curi kasut..buang bayi pun ada, ceramah, buat maksiat pun ada juga..cek KL sedih lah..

belum kira pub lagi..pepun tengok diri..post motem balik

maaf wassalam..

Bookmark and Share

    


  Member Information For alKhattabProfil   Hantar PM kepada alKhattab   Quote dan BalasQuote

tanpanama
Warga 4 Bintang
Menyertai: 07.09.2005
Ahli No: 18761
Posting: 310
Dari: Bintang Timur

botswana  


posticon Posting pada: 01-11-06 16:23


sifirnya mudah saja...
adakah Tuan Guru Nik Aziz suruh kita sokong HT,
adakah Tuan Guru Haji Hadi suruh kita sokong HT???
sepertia kita sedia maklum dua orang ni bertahap Ulama'


golongan HT ni perasan saja hebat, tapi tak ada guna hebat kat dunia internet....
org kampung tak kenal HT,
duduk bangga seorang-seorang copy-paste artikel2 ulama' mereka,
nak benda tu dalam sekelip mata, tak ada step, hentam kromo...
biarkan mereka....darah muda...
campur r.a' sikit-sikit, umpan ustazah2 muda,.....tehehehe...
gurau saja....

Bookmark and Share

    


  Member Information For tanpanamaProfil   Hantar PM kepada tanpanama   Pergi ke tanpanama's Website   Quote dan BalasQuote

Hoobastank
Warga Rasmi
Menyertai: 30.12.2004
Ahli No: 13407
Posting: 12
Dari: tempat kije..letih lalu tertido jap kat piano

blank  


posticon Posting pada: 01-11-06 16:43


kalau orang2 HT pun boleh copy paste, Kenapa tidak saya? saya pun nak copy paste lah.. kepada semua2 yang perasan warak dan alim ulama..walaupun hakikatnya anda bukan Ahli dalam bidangnya ( bidang agama )..ambil engineer, ambil arkitek..ambil doktor..tiba-tiba lantang bercakap agama tanpe nak rujuk dulu kepada mereka yang lebih tau..harapkan dr pembacaan saja..asal ada nota kaki, tambah2 hadis quran sikit..ayat mantap lah kononnya.. yang belajar agama pula, baru setahun jagung dalam bidang agama..belajar pun tak pas degree lagi..tapi kononnya mantap hujah...dia saja yang betul..orang lain tak betul..walhal posting berbentuk ujub, riak dan takabur saja.. ukhwah lah kononnya.. banyak konon2nya dr hakikat dan kenyataan sebenar. ini pandangan saya sebagai pembaca dan pemerhati forum ukhwah ni.. saya dah bosan...bosan dengan kehipokritan..heii..tanya diri anda sendiri lah..anda tau siapa diri anda..sejauh mana iman dan amal..

copy paste artikel : HT ni sesuatu yang lapuk..dan ramai kat luar sana dah bosan dengan khilafah2..daulah2.. Hei..kita tak menuju Ummah centric or jemaah centric las..kita mahu REDHA ALLAH CENTRIC!!

*****

Kenapa SAYA MENOLAK HIZBUT TAHRIR?

Sebelum saya meneruskan penulisan saya dengan panjang lebar ingin saya memperjelaskan bahawa tulisan dan pendirian saya ini tidak sama sekali diasaskan kepada pendirian untuk menolak dasar perjuangan ummah yang telah diamanahkan oleh Allah s.w.t. Saya menyokong dan bersama didalam gerakan Islam. Menyokong dan bersama didalam dasar perjuangan yang tujuannya untuk membawa manusia kembali kepada ketaatan kepada Allah s.w.t sepenuhnya. Saya juga menyokong dan bersama terhadap sebarang usaha yang berpaksikan untuk memertabatkan perjuangan melalui jalan-jalan Sirah yang telah digariskan oleh Rasulullah s.a.w dan para sahabat sekalian. Ini adalah pendirian saya. Saya mengharapkan penjelasan tentang pendirian saya ini berupaya menolak tanggapan serong mana-mana pihak terhadap keyakinan dan keimanan saya ( sebab saya diminta untuk menilai iman saya sebelum ini).

Mungkin timbul persoalan, jika benar saya seorang yang mencintai perjuangan mendaulatkan agama Allah s.w.t mengapa pula saya melontarkan tajuk yang sedemikian rupa. Menolak HT yang juga merupakan sebuah gerakan Islam ( sebagaimana yang digambarkan ) ? Ya mengapa..? Penulisan inilah yang akan menghurai persoalan tersebut. Namun begitu suka juga saya menyatakan bahawa pendirian saya terhadap perlunya seorang Muslim untuk bersama dan berjuang didalam jemaah adalah kental dan tidak sama sekali perlu diragukan. Keyakinan saya ini bersandar kepada :

Sabda Rasulullah :
“Seorang Muslim dengan seorang Muslim yang lain laksana satu banggunan yang tersusun, saling kuat menguatkan diantara satu sama lain”

Sabda Rasulullah s.a.w,
“Tangan ( pertolongan ) Allah itu bersama jemaah, Sesungguhnya serigala itu memakan kambing yang terpisah ( dari kumpulannya ).

Sabda Rasulullah s.a.w.,
“Kamu wajib bersama jemaah muslimin dan imam mereka”.

Sabda Rasulullah s.a.w.,
“Jemaah itu berkat”

“Jemaah itu rahmat dan perpecahan itu azab”

Firman Allah s.w.t.,
“Kami akan menguatkan tenaga dan daya usahamu dengan saudara mu”
( al-Qasas : 35 )

Firman Allah s.w.t,
“Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertakwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa ( maksiat ) dan pencerobohan.
( al-Maidah : 2 )

Dan deretan lagi firman Allah s.w.t serta sabda Rasulullah s.a.w yang menyeru kepada manusia dan ummatnya untuk bersama berjuang didalam jemaah Islam yang tidak dapat dituliskan disini. Insyallah itulah keyakinan saya dan sebarang usaha dan hujah untuk mengaitkan saya ( atas pendirian saya menolak HT ) dengan satu pendapat bahawa saya menolak kewajiban untuk bersama dengan jemaah adalah satu fitnah yang amat jelas.Bagi saya kepahitan, kesukaran dan kesusahan berada didalam jemaah adalah lebih baik daripada kesenangan, kemewahan dan kelapangan diluarnya.

Maka biar saya menjelaskan bahawa penolakan saya terhadap HT berasaskan kepada prinsip-prinsip dibawah :

1. Penolakan saya terhadap HT berasaskan kepada penolakan saya terhadap sebuah parti politik massa ( tidak kiralah apa pun HT menggelarkan meraka sama ada parti pembangkan ke atau parti muhasabah ke ).
2. Penolakan saya terhadap HT berasaskan kesamaran terhadap tanzimnya yang sehingga kini sepanjang saya mengikuti perbincangan didalam diskusi ini sama ada sebagai pembaca yang aktif mahupun penyumbang ide ( sebaris dua ayat saja sebenarnya ) tiada satu usaha dilakukan kalangan mereka yang terlibat dengan HT untuk memberi memberi penjelasan tentang struktur organisasinya dan bagaimana ianya berfungsi dan berperanan.
3. Penolakan saya terhadap HT berasaskan kesamaran terhadap dasar perjuangannya yang saya simpulkan masih terbelenggu dengan kekeliruan terutamanya apabila menguraikan praktis terhadap dasar tersebut.
4. Penolakan saya terhadap HT berasaskan kepada gambaran yang dipamerkan oleh mereka yang berada didalam diskusi ini yang secara jelasnya menunjukkan bahawa ketidakmatangan, kecelaruan fikrah dan tenggelam didalam idealisma yang tidak berdasar.

Perkara diatas ini adalah hujah penolakan saya terhadap HT dan dibawah ini saya menguraikannya satu persatu.

Penolakkan HT Sebagai Sebuah Parti Politik Massa

Saya secara jujurnya menyokong pendirian Ustaz Nasharuddin Hassan melalui artikelnya. Sokongan saya kepada hujah beliau bersandarkan kepada kenyataan bahawa bagi waqi’ M’sia tidak sewajarnya wujud dua buah parti politik yang mempunyai dasar perjuangan yang sama. Kewujudan dua buah parti politik didalam sebuah negara yang kecil seperti M’sia akan hanya menimbulkan kerugian kepada dua-dua belah pihak. Ditambah pula dengan wujudnya perbezaan uslub perjuangan. Meskipun HT telah memperjelaskan bahawa kehadiran mereka tidak akan memberi saingan kepada PAS dengan hujah yang pelbagai. Namun bagi saya hujah-hujah tersebut terlalu dangkal dan menunjukkan ketidakfahaman HT tentang metodologi perjuangan PAS serta suasana politik negara ini. Malah boleh saya katakan hujah tersebut hanyalah retorik lapuk politik yang telah berkurun digunakan. Saya katakan begitu berdasarkan kepada perbandingan dan persoalan dibawah :

1. Kewujudan HT sebagai parti politik yang tidak akan turut serta didalam pilihanraya adalah sesuatu yang dihargai tetapi beberapa tindakan HT yang berusaha untuk menarik sokongan orang ramai termasuk ahli PAS sendiri adalah satu tindakan yang akan memberi kesan kepada PAS secara langsung. Saya mengandaikan begini, HT tidak mengiktiraf pilihanraya yang disifatkan sebagai syarie maka pastinya ahli-ahli HT juga tidak akan terlibat didalam pilihan raya sama ada secara aktif mahupun mengundi. Dengan andaian tersebut maka secara jelas bahawa mana-mana ahli PAS yang telah bersama dengan HT pastinya juga akan mengambil pendirian yang sama dan bagi PAS ini adalah satu kerugian. Didalam sistem pilihanraya yang berasaskan kepada majoriti satu undi yang hilang sekalipun memberi impak kepada mana-mana parti politik. Inikan pula mungkin ratusan atau ribuan. Makanya jelas sekali kehadiran HT didalam arena politik M’sia akan merugi PAS yang telah sekian lama berjuang. Tidak kiralah sama ada HT mempunyai rancangan tersusun atau tidak untuk menarik ahli-ahli PAS kesannya tetap ada. Itu adalah andai pertama, andaian kedua saya jika HT tidak terlibat didalam pilihanraya tetapi memberi kebenaran kepada ahlinya untuk terlibat. Maka persoalannya kepada siapa sokongan itu perlu diarahkan UMNO ? Keadilan ? DAP ? MCA ? MIC ? atau PAS. Pilihan yang ada ( mungkin ) adalah PAS yang jelas fikrah perjuangan Islamnya. Tetapi jika begitu keadaannya maka mengapa perlu ada HT lebih saja ahli-ahli HT itu sendiri bersama dengan PAS ?

Disinilah rasionalnya hujah tidak perlu ada 2 buah parti politik yang mempunyai dasar perjuangan yang sama ianya akan hanya menimbulkan lebih banyak mudarat daripada kebaikan. Lebih banyak kekeliruan timbul daripada kefahaman. Didalam masyarakat yang semakin hari semakin jahil tentang kefahaman Islam kemudian ditambah pula dengan kepelbagaian pendapat yang sepatutnya boleh dielakkan maka kesan negatifnya secara jelas akan menimpa ummat Islam itu sendiri. Dan secara jelasnya yang menaguk keuntungan daripada apa yang berlaku ini adalah parti-parti politik yang dulu, kini dan mungkin selamanya hasad dan dengki terhadap usaha-usaha untuk mendaulatkan Islam.

Bagi saya apa yang diluahkan oleh Ustaz Nasharudin dengan menggesakan HT kembali saja ke Palestin adalah satu luahan kekecewaan beliau ( bukan kecewa berjuang tetapi kecewa melihat kepelbagaian yang wujud tidak langsung menyumbang kepada usaha untuk mendaulatkan Islam ). Saya mengenali secara peribadi Ustaz Nasharuddin yang mana orangnya cukup kental fikrah Islamnya, cukup tinggi ilmunya dan jika pandangan mata ini boleh mengukur maka saya boleh katakan cukup tebal imannya. Beliau melepaskan hampir apa saja untuk perjuangan. Menghadapi tribulasi yang pelbagai. Onar yang cukup menguji dan boleh saya katakan beliau merupakan satu peribadi yang boleh dijadikan contoh. Saya cukup yakin bahawa pendirian beliau bukan diluahkan bersandarkan kepada emosi tetapi kepada hujah-hujah ilmu. Malah saya cukup sedih apabila artikel beliau itu dijadikan hujah untuk menghamburkan pelbagai fitnah kepada beliau. Saya katakan begitu mengapa kerana sebahagian daripada kita hanya mengambil potongan ayat daripada tulisan beliau tetapi langsung melupakan hujah-hujah beliau yang bersandarkan kepada kebenaran. Saya peringatkan kepada semua bahawa cara begini bukanlah sikap seorang pendakwah Islam sebagaimana yang digariskan oleh Rasulullah s.a.w. Saya mengajak sahabat-sahabat didalam HT untuk menyelami perasaan Ustaz Nasharudin begini....diketika beliau berhari-hari meninggalkan keluarga dan anak-anak berpusing seluruh negara untuk berdakwah mengajak orang kembali kepada Islam dan apabila tiba dirumah didalam keadaan letih dan penat kena pula melakukan persiapan untuk program-program seterusnya tidak semena-mena seseoorang yang mengaku daripada HT datang kemudian memperkenalkan kepada beliau “Syeikh ini ana perkenalkan sipulan bin sipulan dia bersama dengan kami...dulu dia PAS”. Apa perasaan beliau...? Ada adab pendakwah kah perbuatan begitu..? Tidakkah secara jelas perbuatan tersebut seakan-akan untuk mencabar...? Fikirkan !..Fikirkan apa perasaan Ustaz Nasharuddin, seorang pimpinan yang juga merupakan Ketua Dewan Pemuda PAS Pahang apabila beliau diajukan begitu..Fikirkan ! Fikirkan jika pimpinan HT menghadapi situasi yang sama apa perasaan mereka setelah kita berkoraban apa saja, melakukan hampir apa saja untuk mendidik ahli melalui program-program pentarbiyahan tamrin, usrah dan sebagainya kemudian dengan mudah di’culik’ oleh mereka yang mengaku tidak akan bersaing dengan kita, mengaku memperjuangkan dasar yang sama dengan kita...apa perasaan kita !

PENOLAKAN HT KERANA KESAMARAN ORGANISASINYA

Ini adalah asas yang paling penting. Saya menolak HT kerana kesamaran organisasinya. Apa gagasannya kepimpinannya ? Apa corak kepimpinannya ? dan yang lebih penting siapa ? Siapa sebenarnya pemimpina HT ? Secara terus terang saya katakan.. hujahkanlah apa saja petiklah beribu-ribu ayat al-Quran dan Hadis tetapi jika saya tidak mengenali siapa yang membawanya..tidak mengenali pengucapnya minta maaf jangan kata untuk bersama dekat pun mungkin tidak. Kerana sebagai seorang Muslim yang baik setiap perkhabaran yang disampaikan perlu dilihat siapa yang membawanya. Ini adalah panduan yang Rasulullah berikan. Lagi-lagi pula didalam dunia yang penuh dengan fitnah ketika ini..pelbagai manusia dan individu boleh menjadi apa saja untuk matlamat mereka.

Dari sudut ini saya menyeru kepada semua sahabat didalam HT anjurkan satu program tidak kiralah apapun. Sebar luaskan melalui pelbagai media tentang struktur organisasi HT kerana jika tidak diperjelaskan semakin banyak fitnah yang akan timbul. Seorang muslim yang baik bukan sahaja tidak mefitnah tetapi juga tidak membantu kepada fitnah untuk berlaku.

Perlunya HT menperjelaskan organisasinya ialah untuk masyarakat menilai sejauh mana organisasi itu berupaya menyokong dan mendokong gagasannya. Untuk bercerita pasal khilafah lagilah memerlukan sebuah tanzim yang benar-benar teruji dan bersedia daripada segenap segi.

Penjelasan tentang organisasi HT juga akan memudahkan kepada masyarakat untuk menilai fikrah kepimpinan HT itu sendiri kerana pendidikan dan pengajaran yang terbaik lahir daripada contoh perbuatan.


PENOLAKAN HT KERANA KESAMARAN GAGASAN PERJUANGANNYA

Sebenarnya penolakan ini banyak bertitik tolak kepada kesamaran organisasi HT itu sendiri. Gagasan perjuangan sesuatu jemaah sebenarnya banyak bergantung kepada tanzim jemaah itu sendiri. Kepimpinan, pendidikan, pentarbiyahan, kewangan, perlaksanaan dan sebagainya adalah faktor-faktor yang akan mempengaruhi gagasan perjuangan jemaah tersebut. Ianya juga menentukan sejauh mana kemampuan jemaah tersebut untuk mempraktiskan apa yang diperkatakan. Malah lebih daripada itu ianya juga akan menentukan usaha-usaha untuk mencapai kepada gagasan perjuangan. Ini secara jelas dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w didalam menyusun ummat Islam sama ada di Mekah mahupun Madinah.

Rasulullah s.a.w menjelaskan visi, misi dan objektif perjuangan yang hari ini dicontohi oleh seluruh umat Islam. Rasulullah juga merancang, menyusun dan mengatur perjuangan dengan jelas bagi mencapai kepada matlamatnya.
Saya yakin persoalan yang saya bangkitkan ini akan dijawab dengan hujah bahawa apa yang dibawa oleh Rasulullah itulah gagasan perjuangan HT. Ya benar mungkin boleh begitu jawabannya tetapi bukankah SIS juga menggunakan hujah yang sama. IFC juga begitu. Malah Astora Jabat pun menggunakan hujah sebegitu.

Penghujahan gagasan perjuangan bukan semudah itu. Ia perlu diselarikan dengan pembentukan tanzim, pembinaan ahli dan usaha-usaha kearah itu. Antara punca kepada permasalahan umat Islam hari ini ialah kegagalan kepimpinan mereka untuk memperjelaskan perkara ini. Retorik demi retorik tetang perlaksanaan Islam hanya membawa umat Islam semakin jauh daripada akarnya. Contoh terbaik adalah gagasan Islam Hadhari. Gagasan yang cuba untuk merebranding Islam bagi menjustifikasikan tindakan segelintir pihak. Kesannya ia hanya menjadi modal politik yang usang dan lucah.

Selain daripada contoh itu kita juga boleh melihat sejarah politik negara ini sendiri kewujudan pelbagai parti politik yang berteraskan Islam sebelum daripada ini cukup banyak. Malah gagasannya cukup hebat tetapi kemana mereka semua ketika ini hanyut ditelan masa dan zaman. Gagasan tentang perlaksanaan Islam, pemertabatan hukum syariah, pembinaan tapak khilafah yang pernah dilaungkan kini entah kemana. Malah lebih menyedihkan sebahagian daripada mereka ini terus tenggelam dan akhirnya beralih arah menyokong parti-parti politik yang jauh daripada menyokong Islam.

Satu perkara yang perlu dijelaskan bahawa jemaah Islam khususnya yang terlibat didalam gerakan massa dan politik boleh pada bila-bila masa runtuh dan hilang tetapi Insyallah perjuangan menegakkan Islam akan terus kekal disambung oleh generasi-generasi seterusnya. Persoalan yang berbangkit ialah sejauh mana gagasan perjuangan itu akan terus didokongi oleh generasi tersebut. Kita biasa mendengar tentang gerakan-gerakan Islam seantero dunia yang datang dan pergi tetapi kehilangan mereka meninggalkan tapak untuk generasi seterusnya. Di Indonesia ada Masyumi. Di Turki ada Harakah An-Nur dan banyak lagi. Kebanyakkan daripada mereka telah lama tiada tetapi kerana kekuatan gagasan perjuangan hari ini ianya bangkit kembali dengan segala kekuatan meskipun dengan nama yang berbeza.

Atas alasan itulah sebenarnya saya tidak dapat melihat gagasan perjuangan HT. Terus terang saya katakan saya ( yang mengikuti perkembangan perjuangan Islam ) hanya mengetahui tentang HT apabila mengikuti diskusi disini. Jangan kata saya tidak membuat penyelidikan saya lakukan tetapi terlalu sedikit yang saya perolehi sedangkan gagasan khilafah yang dilontarkan adalah satu gagasan yang cukup besar dan memerlukan satu tindakan yang benar-benar tersusun. Dan saya tidak nampak ini didalam HT.

PENOLAKAN TERHADAP HT ATAS GAMBARAN YANG DIBERI

Ini adalah asasnya. Penolakkan saya terhadap HT kerana gambaran yang dipamerkan kepada saya oleh aktivis HT didalam forum diskusi ini. Penyampaian gagasan yang terbantut dan tidak jelas MUNGKIN menyebabkan saya memberi tanggapan berbeza kepada HT berbanding PAS. Meskipun PAS memilih pilihanraya sebagai platform dan wacana perjuangan dan tidak ditakdirkan Allah s.w.t lagi untuk memrintah M’sia ( selain Kelantan dan Terengganu ) setidak-tidaknya PAS berusaha untuk kearah itu dan tidak sekadar bercakap sahaja. Benar Kelantan tidak sepenuhnya melaksana pemerintahan secara Islam kerana kekangan daripada kerajaan pusat tetapi kejujuran untuk melaksanakannya menjadikan Kelantan dari hari kehari sebuah kerajaan yang begitu dekat dihati rakyat dan sinar Islam cukup cerah disana. Ini adalah usaha PAS yang dapat dilihat.

Malah kepimpinan PAS ( daripada meraka yang yang saya kenali diseluruh negara khususnya kepimpinan Pemuda ) cukup istiqomah didalam perjuangan. Tuan Haji Mohd Sabu yang dijadikan contoh oleh seorang penulis aktivis HT bagi mengatakan bahawa PAS mendokong demokrasi sebagai contohnya cukup gigih mendekati rakyat. Bagi saya setidak-tidaknya iltizam beliau terbukti sehingga butir kebenaran yang dibawa menggerunkan hati pemerintah yang penuh dengan hasad dan dengki terhadap Islam. Yalah.. jik tidak masakan beliau disejuk bekukan didalam penjara ISA beberapa tahun. Begitu juga dengan Saudara Saulahuddin Ayub sanggup dipenjarakan bersama rakan-rakan kerana menentang kehadiran Yahudi/Israel ke bumi Malaysia. Malah lebih hebat lagi orang-orang seperti Assyahid Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya memilih untuk syahid kerana keimanan terhadap perjuangan,

Terlalu banyak untuk diperkatakan. Tetapi simpulannya, perbandingan PAS dan HT, PAS jelas lebih kedepan didalam menangani permasalahan Ummah. Jangan kata PAS tidak bersama dengan jemaah Islam yang lain diseluruh dunia. PAS mempunyai jaringan yang baik dengan HAMAS, IKHWANUL MUSLIMIN ( yang gagasan perjuangannya banyak mempengaruhi gerakan-gerakan Islam seantero dunia ), AK Parti di Turki, PKS di Indonesia malah PAS tidak bermasalah untuk duduk semeja dengan gerakan-gerakan Islam daripada aliran Syiah di Iran dan sebagainya.

PAS tidak akan hadir di Turki, Mesir, Palestin, Indonesia dan dimana-mana dimuka dunia sekalipun untuk membawa gagasan perjuangannya. Bagi PAS, HAMAS adalah PAS di Palestin dan PAS adalah HAMAS di Malaysia. Bagi PAS, IKHWANUL MUSLIMIN adalah PAS di Mesir dan PAS adalah IKHWANUL MUSLIMIN di Malaysia. Bagi PAS, HEZBOLLAH adalah PAS di Syria dan PAS adalah HEZBOLLAH di Malaysia. Kita adalah keluarga besar perjuangan Islam yang saling bahu membahu untuk menegakkan khilafah dimuka bumi ini. Ini adalah kesungguhan yang telah PAS tunjukkan.

Sebenarnya gambaran terhadap HT yang diberikan oleh aktivisnya melalui diskusi ini menjadikan saya lebih mengenali PAS berbanding HT dan kerana itu saya menolak HT.

***

wassalam
[ Telah diedit oleh: Hoobastank pada 01-11-06 16:46 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For HoobastankProfil   Hantar PM kepada Hoobastank   Quote dan BalasQuote

ainul_qalby
Warga 3 Bintang
Menyertai: 09.07.2004
Ahli No: 9914
Posting: 109
Dari: alam_sufly

turkey  


posticon Posting pada: 02-11-06 20:47


IKUTI PENJELASAN ILMIAH MENGENAI
' KESONGSANGAN AJARAN HIZBUT TAHRIR' DI :

http://www.ukhwah.com/viewtopic.php?forum=11&topic=27297&start=0

-SATU KAJIAN ILMIAH & DETAIL BUKAN FITNAH ATAU DUSTA TAPI KENYATAAN YANG JELAS DEMI MENGEMBALIKAN KHILAFAH ISLAM SEBENAR DAN BUKAN ALA-ALA AJARAN SONGSANG HIZBUT TAHRIR.

Bookmark and Share

    


  Member Information For ainul_qalbyProfil   Hantar PM kepada ainul_qalby   Quote dan BalasQuote

ibnu_musa

Menyertai: 11.05.2005
Ahli No: 16451
Posting: 5335
Dari: Putrajaya

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 03-11-06 09:15


Pada 31-10-06 14:04 , alKhattab posting:

!!! QUOTE !!!

assalamualaikum...


ahlan wasahlan sahabat2 semua..ana bersyukur..rupanya selamanya ni ana ingatkan berseorangn..terima kasih kepada portal_ukhwah dan abdulallah syakir...

insyallah ana akan membantu kalian..

kepada yang suka menyebarkan fitnah kepada HT..maka lebih elok senyap..kerana senyap itu lebih baik dari bercakap (melainkan perkara yang haq)

wassalam

semakin ramai ahli HT yang menonjolkan diri sekarang, bagus2, satu perkembangan yang baik, ada yang baru saja daftar hari ni terus paste artikel2 dari HT :-)

dah menjadi adat ke mereka ni hanya berpandukan artikel2 HT semata2, bagi link website pun semua website HT.

tajuk demokrasi dah banyak dah, tapi sengaja nak haghlight lagi, erm, satu corak dakwah (atau dakyah, waLlahu A`lam) yang baik...

wassalam.


-----------------
|============================|
| ()"*"()
| ( 'o', )
|(,,)=(,,)=======================|
[ Telah diedit oleh: ibnu_musa pada 03-11-06 09:16 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For ibnu_musaProfil   Hantar PM kepada ibnu_musa   Quote dan BalasQuote

ibnu_musa

Menyertai: 11.05.2005
Ahli No: 16451
Posting: 5335
Dari: Putrajaya

KualaLumpur   avatar


posticon Posting pada: 03-11-06 09:48


Pada 30-10-06 18:55 , portal_ukhwah posting:

!!! QUOTE !!!

Pada 30-10-06 17:22 , aye posting:

!!! QUOTE !!!

Ana faham.....portal_ukhwah berfikrah HT... so memang tak dinafkanlah anti anti demokrasi.....
Cuma ana nak tau, dan berikan pada ana dalil2 khatie yang mgatakan islam menolok demokrasi...
Syukran..


Sebelum saya menjawab pertanyaan saudara,boleh tak saudara kemukakan kepada saya dalil qathie yang melarang kita menggunakan tanda salib?????

inilah persoalan yang gagal alKhattab jawab sampai sekarang :lol:

sama ke antara memakai salib (perkara melibatkan akidah/agama) dengan demokrasi (sistem pemerintahan)? adakah kalau kita amal demokrasi, kita kena masuk gereja dan kena pegang salib? jangan risau, para ulama' tak bodoh...

saya ulang soalan ini kepada ahli2 HT: berikan dalil qat`i yang mengharamkan demokrasi ini, jika anda dari golongan yang benar.

nak menetapkan sesuatu itu haram kena ada dalil kan? datangkan.

wassalam.


-----------------
|============================|
| ()"*"()
| ( 'o', )
|(,,)=(,,)=======================|
[ Telah diedit oleh: ibnu_musa pada 03-11-06 09:58 ]


Bookmark and Share

    


  Member Information For ibnu_musaProfil   Hantar PM kepada ibnu_musa   Quote dan BalasQuote

zulman

Menyertai: 22.12.2004
Ahli No: 13229
Posting: 2786
Dari: dunia ini hanya sementara

Perak   avatar


posticon Posting pada: 03-11-06 16:40


Assalamualaikum

Bahagian 3

Oleh: Mohd Rumaizuddin Ghazali
Malaysia Demokrasi Islam?


Bagi golongan yang menolak demokrasi dan menanggapnya sebagai satu kemungkaran kerana mengamalkan konsep ‘hukum rakyat untuk rakyat’ yang bercanggah dengan konsep ‘hukum hanya milik Allah’ adalah satu anggapan yang tidak boleh diterima menurut al-Qaradhawi. Menurutnya, prinsip’hukum untuk rakyat’ dalam demokrasi sama sekali tidak bercanggah dengan prinsip perundangan Islam. Malah prinsip demokrasi itu bercanggah dengan ‘hukum individualisme’ yang menjadi asas kepada timbulnya kediktatoran. Menurutnya, sistem demokrasi adalah menentang kuasa kediktatoran yang menindas rakyat. Perkara terpenting bagi mereka yang memperjuangkan demokrasi ialah mengusahakan agar rakyat memiliki kebebasan penuh untuk memilih para pemimpin yang sesuai dengan kehendak mereka dan agar mereka memperhitungkan tindak–tanduk orang yang memimpinnya, menolak perintahnya jika bercanggah dengan falsafah bangsa atau menurunkannya jika terbukti menyeleweng serta enggan menerima nasihat dan teguran rakyat.

Rashid al-Ghannoushi berpendapat bahawa sikap bermusuhan dengan doktrin demokrasi adalah berpunca dari konsep hakimiyyah.Seandainya konsep hakimiyyah itu difahami dengan baik ia adalah satu idea yang indah. Menurut al-Ghannoushi, menerima idea hakimiyyah adalah melaksanakan satu hak bagi merealisasikan kebebasan memilih.Justeru itu hakimiyyah tidak bermakna Tuhan secara berterusan campur tangan dalam semua urusan kehidupan manusia di atas muka bumi.Hakimiyyah hanya mengemukakan prinsip-prinsip umum untuk umat Islam membuat satu keputusan dengan tepat.

Bagi Fahmi Huwaidi, sejarah hitam yang dilalui oleh umat Islam merupakan faktor utama keraguan, kebimbangan tuduhan dan penolakan mereka terhadap demokrasi. Demokrasi tidak dilihat sebagai sistem pemerintahan yang berlandaskan kepada kebebasan tetapi dilihat sebagai rumusan konsep Barat yang ingin menghancurkan umat Islam. Demokrasi dilihat sebagai konsep Barat yang lahir daripada kehinaan sistem penjajahan Barat. Di samping itu, terdapat fatwa-fatwa ulamak yang mengharamkan mengambil sistem demokrasi seperti fatwa Mufti kerajaan Uthmaniah Atahullah Afandi yang menetapkan bahawa setiap penguasa yang memasukkan sistem-sistem kafir, maka dia tidak boleh menjadi seorang raja. Akibatnya Sultan Salim III dijatuhkan pada tahun 1807 kerana dituduh menerapkan sistem-sistem kafir.

Umat Islam secara umumnya telah menerima demokrasi sebagai mekanisme yang terbaik untuk membangunkan negara. Dr. Fathi Osman menyatakan : “Demokrasi meskipun banyak kekurangannya merupakan warisan kemanusiaan yang tidak ternilai harganya yang sampai sekarang belum diketemukan alternatif yang lebih unggul untuknya.”

Al-Qaradhawi berkata : “saya termasuk salah seorang yang mendambakan demokrasi dalam sifatnya sebagai sarana yang mudah dan mampan untuk merealisasikan matlamat kita dalam kehidupan yang mulia dan membolehkan kita untuk menyeru manusia kepada Islam. Sistem itulah yang membolehkan rakyat melakukan semua itu tanpa perlu mengadakan sebarang revolusi berdarah.”

Menurutnya lagi, tidak ada sebarang dalil syariah yang mencegah kita daripada mengambil pemikiran, teori ataupun penyelesaian pratikal yang berasal dari luar Islam.Kita berhak untuk mengambil pemikiran, kaedah serta sistem-sistem luar yang bermanfaat kepada kita selagi ia tidak bercanggah dengan nas yang jelas serta kaedah-kaedah syariat yang baku. Pemikiran atau sistem yang kita ambil itu tentunya harus kita tambahkan dengan nilai-nilai kerohanian daripada agama kita sehingga ia tampil dalam bentuk yang islami. Begitulah caranya kita mengambil sistem demokrasi. Kita ambil kaedah-kaedah dan sarana-sarananya. Kemudian, kita ubah dan luruskan sehingga sesuai dengan ajaran agama dan kita tinggalkan sebahagian falsafahnya yang mungkin boleh menghalalkan perkara haram atau mengharamkan perkara halal.

Sikap golongan Islamis terhadap Demokrasi

Senario politik muslim semenjak akhir tahun 1980-an menunjukkan satu siri anjakan oleh kerajaan muslim yang berkuasa dengan aktivis Islam yang mencabarnya; yang satu ke arah Islamisasi, yang satu lagi ke arah memperjuangkan demokrasi dan penglibatan politik.respons daripada elit muslim dan pemerintah yang mengambil bentuk kombinasi paksaan, bertolak ansur dan kooptasi telah pada ammnya berjaya mengawal cabaran golongan Islamis terhadap keduduklan kuasanya.Sebahagian daripada respons ini, pihak pemerintah telah melancarkan siri program Islamisasi untuk meningkatkan rekod Islamnya. Gerakan-gerakan Islam telah menunjukkan tanda-tanda peralihan daripada ‘fasa fundamentalis radikal’ 1970an dan 1980an kepada ‘fasa penglibatan’ yang dicirikan oleh kemiripan untuk bergerak dalam sistem yang sedia ada dan memulakan episod meneliti semula peranan tradisional agama, kepimpinan, organisasi, keutamaan dan tafsirannya.

Pemerintahan Muslim memulakan demokratik Islamik sebagai elemen terpenting dalam pemerintahannya sebagai respons baru terhadap anjakan orientasi politik golongan Islamis yang mencabar mereka. Golongan Islamis pada tahun 1990an semakin memainkan peranan mengawal kecenderungan autoritariannisme pihak berkuasa. Pihak Islamis dikatakan sebagai pembangkang yang yang berkesan dalam mengekang pemerintahan autoritarian.

Pemimpin parti Islam berulang kali menyatakan kepercayaan mereka terhadap tatacara dan jangkaan-jangkaan demokratik termasuk kebebasan individu dan kumpulan, penyertaan universal dan tukar ganti pihak berkuasa melalui pilihanraya yang jujur dan pembabitan mereka adalah satu pilihan jangka panjang yang definit dan bukannya satu taktik jangka pendek. Mereka menolak ideologi sekularisme dan usaha mengaitkan demokrasi dengan sekularisme.Mereka menuntut nilai-niali agama sebagai nilai-nilai asas dalam pemerintahan. Mereka melihat kepelbagaian warisan dalam sejarah Islam dan kebolehannya untuk diharmonikan dengan elemen-elemen demokrasi Islamik. Pembabitan PAS dalam arena politik negara telah memberi kesan terhadap demokrasi yang berlaku dan kemasukan golongan islamis dalam kerajaan. Namun eksperimen ini dikatakan berjaya di Malaysia tetapi tidak di Negara Muslim yang lain seperti di Turki dan Algeria akibat golongan Islamis tidak diberi peluang untuk menyuarakan hak walaupun atas nama demokrasi.


*Pendapat dan pandangan mungkin berbeza, jika tidak sejalan tidak semestinya dianggap menfitnah.
Pandangan orang lain seharusnya dihormati, baru akhlak menjadi terpuji.

InsyaAllah akan bersambung...

Bookmark and Share

    


  Member Information For zulmanProfil   Hantar PM kepada zulman   Quote dan BalasQuote

zulman

Menyertai: 22.12.2004
Ahli No: 13229
Posting: 2786
Dari: dunia ini hanya sementara

Perak   avatar


posticon Posting pada: 08-11-06 14:31


Bahagian 4 (akhir)

Malaysia Demokrasi Islam?

Oleh:Mohd Rumaizuddin Ghazali



Pengamalan Demokrasi Di Malaysia

Seharusnya difahami bahawa demokrasi mutlak adalah idealisme yang tidak mungkin tercapai sepenuhnya. Bahkan demokrasi terkenal dengan sikap menabur dan mengkhianati janji. Berlakunya jurang antara demokrasi yang ideal sebagaimana ianya difahami dengan kenyataan yang berlaku dalam suasana demokrasi hari ini. Janji yang tidak ditunaikan hari ini terbantut dengan wujudnya realiti-realiti seperti survival politik, kewujudan elitis politik, kepentingan tertentu atas nama perwakilan rakyat, kurangnya penyertaan rakyat dan kegagalan mendidik orang ramai tentang demokrasi dan hak mereka. Di samping itu, kita melihat Barat cuba menafikan kemenangan beberapa parti politik yang dikatakan Islami seperti parti Refah, FIS dan Nahdah di atas pentas demokrasi. Ini menambahkan lagi kecurigaan terhadap demokrasi.

Ramai penganalisis yang menganggap Malaysia sebagai sebuah ‘rejim kacukan’ yang tidak autoktratik tetapi tidak juga demokratik. Ia memiliki keperluan luaran sebagai sebuah negara demokrasi, namum ia juga mempunyai peraturan-peraturan drakonian yang membatasi pembangkangan dan yang memberi kuasa yang sangat luas kepada eksekutif. Hujah pimpinan Umno dalam mempertahankan pembatasan demokrasi iaitu:

i. sensitiviti isu-isu etnik yang jika tidak dikawal perdebatan awam tentangannya akan memudaratkan kestabilan sosial

ii. keutamaan meningkatkan taraf hidup rakyat

iii. perlu disesuaikan amalan demokrsi dengan pengalaman sejarah dan suasana objektif tempatan.

Bagi Lim Kit Siang, pemerintahan Mahathir telah menyekat kebebasan dan Mahathir tidak bersedia untuk berbuat demikian.Jauh daripada memperkenalkan pembaharuan politik dan demokratik, malah melakukan keterlaluan-keterlaluan yang melampau dalam pemerintahannya seperti penghinaan terhadap Yang Dipertun Agung, perlembangaan dan parlimen, penangkapan dan pendakwaan pemimpin pembangkang, tiada kebebasan akhbar dan media, kegunaan kuasa polis secara besar-besaran dan pencabulan sistem kehakiman. Bagi Tun Suffian, trend autoritarian bukan sahaja menular dalam kerajaan tetapi dalam Umno juga. Ada juga melihat Malaysia sebagai 'semi -demokrasi'.

Bagi Mahathir, pengamalan demokrasi di Malaysia mengikut acuannya sendiri. Walaupun ia mengamalkan demokrasi tetapi dalam beberapa hal, ia tidak sama dengan demokrasi Barat yang memberi kebebasan mutlak seratus peratus kepada rakyat sehingga boleh melakukan apa saja atas nama demokrasi. Mahathir Mohamad dalam Konvesyen UMNO sempena ulangtahun yang ke 50 (11 Mei 1996) menjelaskan : “ ramai yang kononnya menerima demokrasi sebagai sistem politik tetapi kerana tidak faham apa ianya demokrasi, mereka telah menjadi mangsa demokrasi tanpa sedikit pun memperolehi manfaat. Harus diingat juga bahawa demokrasi bukan agama Tuhan. Demokrasi adalah ciptaan manusia dan sudah tentu ia jauh daripada sempurna. Bangsa-bangsa Barat cuba mendakwa bahawa demokrasi tidak cacat dan menanggapnya sebagai satu sistem yang tidak siapa boleh mempertikaikan atau mengubahnya.Mereka menciptakan slogan Vox populi, vox Dei iaitu suara ramai adalah suara Tuhan. Tetapi percayalah demokrasi bukan suara Tuhan dan jauh daripada sempurna, bahkan ia penuh dengan kecacatan dan yang boleh membinasakan pengamalnya dan menjadikan mereka mangsa kezaliman sistem demokrasi yang tidak kurang buruknya daripada kezaliman sistem feudal atau pun sistem diktator.”

Dalam Perasmian Perhimpunan Agung UMNO tahun 1997, Mahathir Mohamad sekali lagi menjelaskan : “ Malaysia berjaya juga menggunakan sistem demokrasi, memilih kerajaan dan mempunyai pentadbiran yang berkesan. Tetapi hanya dengan ini sahaja tidak menjamin kita akan maju. Untuk mencapai kemajuan kita perlu ada ide-ide yang baik, pendekatan yang boleh menjayakan ide-ide berkenaan dan pengurus-pengurus yang berkebolehan.Majunya negara kita, terlaksananya rancangan-rancangan kita bermakna faktor-faktor ini ada pada kita.”

Bagi Mahathir, kejayaan sesebuah negara bukan bergantung kepada sistem demokrasi sahaja tetapi adalah ide-ide, wawasan, perancangan yang rapi dan pengurus yang terbaik dalam melaksanakan pembangunan negara.Menurutnya, demokrasi mesti disesuai dan diselaraskan dengan keadaan setiap negara dan budayanya. Beliau istilahkan sebagai ‘Demokrsi Asia’, ‘Nilai Asia Baru’ atau ‘Demokrasi ala Malaysia.’ yang mementing disiplin dan mendahulukan kepentingan awam sebagai kunci untuk mencapai perpaduan negara dan pertumbuhan ekonomi. Mahathir juga percaya untuk membawa keutuhan sesebuah negara memerlukan demokrasi dan autoritariannisme wujud seiringan. Pindaan-pindaan baru kepada perlembagaan Umno seperti undi bonus kepada mereka yang dicalonkan untuk jawatan tinggi parti – meningkatkan kuasa kepimpinan parti dan penguncupan tatacara demokratik dalam urusan dalamannya.

Ciri-Ciri Demokrasi

Antara ciri-ciri terpenting demokrasi adalah seperti berikut :

i. kedaulatan rakyat
ii. persamaan politik-satu rakyat satu undi
iii. mengambil kira pendapat umum- menilai pandangan umum tentang politik awam (popular consultation)
iv. pengagungan kehendak majoriti


Ada elemen-elemen demokrasi yang yang diterima pakai dalam pemikiran politik Islam dan boleh dimodifikasi. Antaranya :

1. pemilihan dipegang oleh umat
2. konsep persamaan di antara semua manusia
3. perundingan rakyat
4. pengiktirafan majoriti
5. kebebasan
6. pemisahan kuasa-kuasa eksekutif, perundangan dan kehakiman.
7. sistem pilihanraya dan parlimen

Elemen-elemen demokrasi yang ditolak ialah :

i. kedaulatan mutlak ditangan rakyat
ii. keputusan majoriti sebagai kayu ukur kebenaran
iii. kebebasan mutlak
iv. mengeluarkan hukum bersandarkan akal semata-mata.

Apapun perbahasan di atas, Malaysia boleh dikatakan contoh kepada “demokrasi Islam” dengan syarat beberapa kelemahan-kelemahan demokrasi dihindarkan atau diperbaiki dengan nilai-nilai yang Islami. Namun istilah itu, menurut Abdul Aziz Badri dalam buku Hukm al-Islam fi al-Istirakiyyah tidak bersetuju sesuatu istilah politik moden yang digunakan jika konsep yang ada di dalammnya tidak islamik dan menyimpang dari kebenaran.

Power Sharing.

Beberapa sarjana Islam menggagaskan power sharing kepada umat Islam untuk bekerjasama dengan pihak pemerintah. Gerakan Islam tidak harus terjebak dalam agenda merebut kekuasaan sehingga hilang arah dan keutamaan bertindak dalam menyedarkan masyarakat terhadap agama. Kekuasaan dakwah membuktikan penyedaran nilai-nilai Islam berjaya dengan cemerlang hasil peranan ulama dakwah dan tokoh sufi. Pada abad 18 dan 19, umat Islam ditindas oleh penjajahan sama ada dari segi politik atau ekonomi. Namun begitu agama Islam terus berkembang hasil aktiviti dakwah. Kekuatan dakwah membuktikan bahawa Islam dapat mengalahkan kekuasaan jahiliah sepertimana Nabi Musa yang dapat mengalahkan Fir’aun yang memiliki segala kekuatan ketenteraan, kehebatan politik dan dakyah. Kalau Nabi Musa berfikir sebagai pemimpin siyasah sudah tentu Nabi Musa tidak mampu untuk menentang Fir’aun. Tetapi atas dasar dakwah Nabi Musa dapat menewaskannya. Abu Hassan al-Nadwi dalam bukunya Tarshid Sahwah al-Islamiah (Panduan-Panduan Kebangkitan Islam) menjelaskan bahawa pendakwah hendaklah lebih banyak bersifat positif dari bersifat negatif, mendahulukan prinsip menyampaikan nilai-nilai iman kepada pemerintah dan membawa mereka kepada naungan Islam serta melaksanakan peraturan Islam dalam kehidupan mereka dari bergesa-gesa meletakkan ahli-ahli gerakan islah kepada tampuk pemerintahan. Dengan kekuasaan dakwah, Islam tersebar di alam Melayu, Amerika Syarikat, United Kingdom, Jerman dan negara-negara lain di Eropah.

Rashid al-Ghannaushi menegaskan betapa pentingnya gerakan Islam berkongsi kuasa dengan pihak pemerintah walaupun ia adalah sekular mahupun komunis. Beliau menganggap pergerakan Islam tidak perlu berkeras untuk memegang tampuk pemerintahan dan berkuasa penuh apatah lagi perkara tersebut mengakibat perang saudara dan pepecahan dan kekacauan yang parah.

Perkara yang menjadi masalah besar kepada umat Islam kini adalah perebutan kuasa (sultah).Jalan keluar dari masalah ini ialah perkongsian kuasa (power sharing) walaupun gerakan Islam tidak berada di hadapan. Memadai penyertaannya dalam kerajaan dengan kadar yang dianggap tidak menggugat kepentingan-kepentingan besar negara. Apa yang perlu ialah ruang yang membolehkan mereka bergerak dan bekerja terutama sekali dalam rangka membangun masyarakat awam/madani (civil society). Antara pergerakan yang telah mengadakan perkongsian kuasa ialah di Yaman, Jordan dan Bahrain.

Perkongsian kuasa bererti saling mengakui peranan satu sama lain, antara kerajaan dan pelbagai pergerakan Islam dan pergerakan lain termasuk komunis. Yang penting semua pihak mesti menghormati undang-undang dan mengelak menggunakan kekerasan untuk mendapatkan kuasa. Semua pihak perlu membiarkan rakyat menentukan parti mana yang mereka mahu dan memilih untuk memimpin negara. Perkongsian kuasa ini memberi jalan tengah untuk mengelakkan krisis yang berpanjangan sesama umat Islam. Apa yang terjadi ialah parti pemerintah ingin terus mempertahankan kuasa dan parti pembangkang pula mesti menjatuhkan parti pemerintah untuk berkuasa. Akibatnya, umat terbelah dua sehingga melarat kepada pertumpahan darah yang tragis seperti yang berlaku di Algeria dan Syria.

Konflik di antara gerakan Islam dengan kerajaan dengan menggunakan kekerasan tidak menguntungkan umat Islam sendiri. Secara pragmatik, gerakan Islam terus kecundang dan tidak berjaya seperti berlaku di Syria. Gerakan Islam perlu menggunakan cara aman. Ia mesti menolak sebarang aktiviti yang berunsur kekerasan atau gerakan revolusi.Sikap keras Parti Refah di Turki telah menyebabkan kuasa yang diperolehinya dirampas kembali oleh tentera. Ikhwan Muslimun Mesir berhadapan dengan tentangan yang hebat dari pihak pemerintah, tetapi pemimpinnya menolak untuk terlibat dalam sebarang bentuk kekerasan. Pemerintah memang mahukan supaya gerakan Islam Mesir masuk ke gelangang pertarungan kerana mereka yakin bahawa mereka berkemampuan untuk mengalahkan pergerakan Islam. Sebenarnya, arena pertarungan gerakan Islam ialah pemikiran dan idea yang mampu memberi kesan besar kepada orang awam. Gerakan Islam harus berusaha mengurangkan ketegangan dengan mencari titik-titik pertemuan untuk bekerjasama supaya dapat mengelakkan sebarang konfrontasi sedapat mungkin.

Rashid al-Ghannaushi menasihatkan kepada pemimpin gerakan Islam di Malaysia khususnya supaya tidak terlalu ghairah untuk mendapatkan kuasa politik penuh walaupun mereka berhak untuk berbuat begitu. Ini bukan kerana kita perlu menjauhkan diri daripada tampuk kekuasaan, tetapi suasana antarabangsa kini menyebabkan penguasaan tampuk kekuasaan dengan kekuasaan yang penuh itu memungkinkan berlaku perang saudara atau menyebabkan gerakan Islam langsung terpinggir atau dipukul hingga sukar untuk bangun kembali seperti yang berlaku di Algeria dan Sudan. Di Sudan, gerakan Islam telah mencapai kekuasaan penuh tetapi gagal apabila ia ditekan dan dihimpit oleh pihak antarabangsa yang menyebabkan ia lemas da tidak dapat melakukan apa-apa. Seterusnya beliau menyebutkan : “Gerakan Islam sepatutnya tidak menjadikan penubuhan kerajaan sebagai keutamaan. Pengambilalihan kerajaan sepatutnya tidak menjadi pencapaian terbesar gerakan Islam. Pencapaian yang lebih besar adalah apabila masyarakat cintakan Islam dan pemimpinnya. Keseluruhan aktiviti kita seharusnya berdasarkan kepada contoh negara Islam yang diasaskan oleh khalifah Umar Abdul Aziz yang hanya memerintah selama dua tahun berbanding khalifah-khalifah sebelum beliau. Walaupun pemerintahannya singkat tetapi beliau telah banyak melakukan perubahan. Pemerintahan beliau meninggalkan kesan ke atas sanubari setiap muslim dan diingati hingga sepanjang zaman. Isunya bukan selama mana seseorang itu memerintah tetapi apakah sumbangan yang dilakukan oleh seseorang itu sepanjang pemerintahannya.” (Risalah, Bil. 5, Oktober 2001, hal. 14)

Sebagai umat Islam, kita mesti yakin bahawa usaha ini merupakan usaha murni. Yakinlah bahawa satu hari nanti perpaduan dan perkongsian kuasa yang lebih baik dari yang sekarang akan berlaku. Perpaduan dan perkongsian kuasa ini menguntungkan umat Islam dan rakyat Malaysia keseluruhannya.

Penutup

Masa depan demokrasi di Malaysia banyak bergantung kepada kekuatan golongan islamis dalam mengawal aotoritarianisme dan demokrasi yang dijalankan oleh pemerintahan agar ia serasi dengan nilai-nilai islami. Oleh itu, dalam mewujudkan landasan baru politik muslim dan demokrasi Islam maka timbal balik antara golongan Islamis dan pemerintah sangat diperlukan dan kerjasama yang itu akan menguntungkan rakyat. Pada tahun 1990an, PAS juga mengubah perhatian kepada isu-isu keadilan sosial dan reformasi demokratik dalam paradigma Islamik untuk dipersembahkan kepada rakyat sebagai alternatif yang lebih baik daripada Umno untuk memimpin Malaysia. Pas tidak lagi menggunakan pendekantan fiqhi yang simplistik tetapi ia seiring dengan kumpulan protes yang lain untuk menyifatkan suasana politik selepas pemecatan Anwar sebagai ‘demokrasi sedang terancam’ malahan reformasi tahun 1998 berarak di jalan raya menuntut reformasi demokrasi yang lebih telus bukan sebuah negara Islam. Sementara Umno juga terus mengatur strategi untuk memastikan kerelevanan parti itu menghadapi cabaran baru. Insiatif Islamisasi pemerintah akan pasti berterusan kerana ia adalah survival parti pemerintah dan menyesuaikan diri dengan arus tuntutan demokrasi yang lebih islami. Pertembungan kedua-dua pihak tentang perjalanan demokrasi menjanjikan kemungkinan wujudnya sikap demokrasi Islami dalam pratik politik muslim dengan asas norma sistem bersama yang autentik daripada sudut Islam dan demokrasi yang boleh diterima oleh masyarakat majmuk Malaysia. Keberkesanan dan pelaksanaannya terletak kepada tuntutan rakyat untuk menuntut demokrasi yang lebih telus. Demokrasi yang telus lahir daripada rakyat yang demokratik dan pemimpin yang baik lahir dari umat yang terbaik dan berkualiti. Ini kerana pemimpin adalah cerminan kualiti umat yang sebenar. Pemimpin yang hampas adalah lahir daripada umat yang hampas.

baca dengan tenang dan teliti...

Bookmark and Share

    


  Member Information For zulmanProfil   Hantar PM kepada zulman   Quote dan BalasQuote

acok_86
WARGA SETIA
Menyertai: 29.06.2006
Ahli No: 25020
Posting: 565
Dari: tawau,SABAH BAH

Sabah   avatar


posticon Posting pada: 16-11-06 19:09


waduh-wadu..susah sih mahu paham bahasa indonesia,walaupun aku dari indonesia..pasal terbelit-belit aku membacanya..

Kenapa HT suka copy paste???org tak paham sebab panjang sangat..kadang-kadang lari dari isu..cuba lah guna ringkasan.

.kamu kan pendukung HT,
kalau kamu paham dengan HT,mesti anda boleh jelaskan mengikut kefahaman kamu..

Bookmark and Share

    


  Member Information For acok_86Profil   Hantar PM kepada acok_86   Quote dan BalasQuote

acok_86
WARGA SETIA
Menyertai: 29.06.2006
Ahli No: 25020
Posting: 565
Dari: tawau,SABAH BAH

Sabah   avatar


posticon Posting pada: 16-11-06 19:27


apa yang aku paham setelah membaca di kebanyakan forum mengenai HT,DEMOKRASI DLL,..

apa yang aku lihat,mereka begitu menentang bab DEMOKRASI, sebab demorasi itu ciptaan org kafir,MENGHARAMKAN DEMOKRASI...mereka kata ulama yang mengharuskan demokrasi ni SALAH,TIDAK TEPAT,BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT,,DLL....,,hanya ulama HT sahaja yang mempunyai pendapat yang BENAR,TEPAT,JITU,TIADA ERROR,TIADA RALAT,,

tapi
kalau sistem ekonomi,pendidikan, yang juga berasal dari org kafir,boleh pulaknya mereka ikut..

satu lagi yang aku belum paham mengenai HT dari dulu hingga sekarang..boleh tolong jawab tak???
BAGAIMANA HT NAK BUAT KHILAFAH???
boleh terangkan tanpa COPY PASTE tak???terangkan mengikut kefahaman anda sebagai pendukung HT..

Bookmark and Share

    


  Member Information For acok_86Profil   Hantar PM kepada acok_86   Quote dan BalasQuote

Member Messages

Forum Search & Navigation

 

Log in to check your private messages

Silakan Login atau Mendaftar





  


 

[ Carian Advance ]

Jum ke Forum 




Datacenter Solution oleh Fivio.com Backbone oleh JARING Bukan Status MSCMyPHPNuke Portal System

Disclaimer: Posting dan komen di dalam Portal Komuniti Ukhwah.com ini adalah menjadi hak milik ahli
yang menghantar. Ia tidak menggambarkan keseluruhan Portal Komuniti Ukhwah.com.
Pihak pengurusan tidak bertanggung jawab atas segala perkara berbangkit
dari sebarang posting, interaksi dan komunikasi dari Portal Komuniti Ukhwah.com.


Disclaimer: Portal Komuniti Ukhwah.com tidak menyebelahi atau mewakili mana-mana parti politik
atau sebarang pertubuhan lain. Posting berkaitan politik dan sebarang pertubuhan di dalam laman web ini adalah menjadi
hak milik individu yang menghantar posting. Ia sama-sekali tidak ada
kena-mengena, pembabitan dan gambaran sebenar pihak pengurusan Portal Komuniti Ukhwah.com

Portal Ukhwah
Hakcipta 2003 oleh Ukhwah.com
Tarikh Mula: 14 Mei 2003, 12 Rabi'ul Awal 1424H (Maulidur Rasul)
Made in: Pencala Height, Bandar Sunway dan Damansara Height
Dibina oleh Team Walasri




Loading: 0.19222 saat. Lajunya....